Saturday, May 5, 2007

Menambah Wirid Thoriqoh dan Jahr

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur saya panjatkan kepada Allah (Swt) atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Rasulullah (saw), keluarga dan sahabatnya.

Dengan ini saya ingin berkonsultasi kepada berkaitan dengan tarekat Sadziliyah. Setelah dua tahun saya berbaiat, ada hal-hal yang ingin saya konsultasikan. Pertama, setiap membaca istigfar 100 kali, saya selalu menambahkan istighfar utama untuk bacaan yang ke-101 menyambung ke shalawat. Apakah penambahan ini boleh? Kedua, setiap membaca shalawat selalu saya tambah dengan kata sayyidina. Apakah dalam hal ini juga diperbolehkan? Ketiga, bolehkah dalam zikir kalimat tayibah, tambahannya saya baca secara jahr?
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sudaryo

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dalam ketentuan tarekat yang sudah berlaku mulai dari Rasulullah (saw), kemudian diterima oleh para sahabat dan orang-orang setelahnya, sampai kepada setiap guru mursyid, kita sebaiknya menerima apa adanya dahulu. Ketentuannya, bilangan zikir itu adalah seratus kali. Nanti, di luar itu, kita boleh dan baik sekali bila mencari nilai tambah, dengan tambahan zikir lain. Karena, tambahan itu memang diperintahkan Allah (Swt) dan Baginda Nabi (saw). "Udzkurulláhu dzikran kasira" artinya "Berzikirlah kamu sebanyak-banyaknya." Namun itu dilakukan setelah semua wiridnya dibaca.

Sebaiknya, dalam menjalankan zikir tarekat yang ada dalam petunjuk itu diikuti saja. Dengan pertimbangan, zikir atau serangkaian wirid yang ada di dalam setiap tarekat sudah diatur. Laksana obat-obatan, dosisnya sudah ditentukan. Karena itu, saya berharap, dosisnya jangan ditambah. Dikhawatirkan, akan terjadi efek-efek yang kurang baik terhadap peminum obat itu.

Kalau kalimat shallallahu 'ala Muhammad ditambah sayyidina, maka itu itu diperbolehkan dengan pertimbangan pengagungan kepada Baginda Nabi (saw). Kepada pak Bupati saja kita menggunakan sebutan bapak Bupati, masa kepada Baginda Nabi (saw) kita hanya memanggil dengan namanya saja? Tidak tepat rasanya kalau kita tidak memanggil dengan tambahan sayyidina.

Tetapi untuk shalawat tarekat yang ada di atas (Shallallahu 'ala Muhammad), jangan ditambah-tambah. Shalawat ini dibaca apa adanya saja. Karena shalawat yang memakai kalimat fi kulli waktin wakhin merupakan shalawat tersendiri.

Saya sendiri tidak berani menambah kalimat pada shalawat tersebut, karena kekhawatiran saya terhadap guru saya. Masalah kalimat tayibah, sudah ditentukan seratus, kemudian ditutup dengan kalimat Muhammadur-Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun bacaan tersebut mau dibaca secara jahr atau sirri, kedua-duanya boleh saja. Makna sirri dalam Tarekat Sadziliyah artinya cukup didengar untuk dirinya sendiri. Sedangkan makna Jahr silahkan Anda membaca asal dalam tidak sampai mengganggu lingkungan sekitar.

Satu contoh, suatu ketika Anda tengah menjalankan zikir tarekat. Kebetulan, pada saat bersamaan ada orang yang sedang mendirikan shalat wajib berjamaah. Ketika itu, imam tengah membaca surat Al-Fatihah secara jahr. Karena keduanya mengeluarkan suara yang keras, bukan tidak mungkin konsentrasi si makmum akan terganggu. Jadi, sebaiknya, orang-orang yang mempunyai zikir jahr mengurangi volume suaranya. Kalau bisa cukup didengar oleh dirinya sendiri, atau sekadarnya. Tapi, kalau memang keadaan sekitarnya sepi, tidak ada larangan.