Sunday, March 4, 2007

Badan, Jiwa dan Ruh

Rahasia terbesar dalam kehidupan manusia adalah: asal muasal munculnya kehidupan! Ribuan tahun sepanjang peradaban manusia itu sendiri pertanyaan ini terus mengalir. Dan sepanjang sejarah itu pula, jawabannya juga terus menggantung.

Setiap zaman dan setiap generasi memuncul kan tokoh dan pendapat tentang misteri munculnya kehidupan itu. Namun jawabannya tidak pernah memuaskan. Munculnya kehidupan tetap menjadi tanda tanya besar yang mengundang setiap kita untuk datang 'menghampirinya' sekaligus selalu berusaha mencari jawabnya.

Agaknya, jawaban terhadap pertanyaan seputar sumber kehidupan itu tidak akan pernah memuaskan, ketika kita tidak mencari informasi dari sumber yang sebenarnya. Sebab manusia adalah sekadar 'pelaku' dalam drama kehidupan itu. Maka sudah sewajarnya ia tidak pernah tahu dari mana datangnya kehidupan yang ia miliki.

Informasi tentang sumber kehidupan, agaknya, hanya bisa kita dapatkan dari sang Pembuat Kehidupan itu sendiri, yaitu Allah, Sang Maha Pencipta. Maka, dalam diskusi ini kita akan berusaha melakukan beberapa rekonstruksi dengan mengambil informasi yang berasal dari FirmanNya di dalam Al-Qur’an al Karim, dan kemudian kita bahas dengan melibatkan ilmu pengetahuan yang berkembang di abad-abad mutakhir.

Selain 'sumber kehidupan' yang menjadi misteri dalam kehidupan kita adalah 'Kehidupan' itu sendiri. Kenapa dan bagaimana sesosok makhluk yang tadinya mati bisa mendapatkan kehidupannya. Tiba-tiba bisa bergerak dan berkembang biak.

Kita memahaminya, bahwa makhluk itu telah memperoleh Ruh kehidupannya. Sehingga dia menjadi hidup. Maka muncullah berbagai pertanyaan tentang Ruh sebagai tenaga kehidupan itu. 'Dari mana, 'Apa' dan 'bagaimanakah' Ruh itu, sehingga bisa memberikan energi kehidupan kepada sesuatu yang tadinya mati.

Ya, Ruh telah menebarkan misteri yang tiada habisnya bagi si makhluk hidup itu sendiri. Manusia bisa merasakan hadirnya energi kehidupan di dalam dirinya, tapi tidak pernah bisa memahami tentang hakikat “Energi Kehidupan” itu.

Rahasia Ruh sebagai energi kehidupan tetap tersimpan rapi sepanjang perkembangan peradaban manusia. Kita lantas juga bertanya, benarkah rahasia ini akan tetap tersimpan sampai akhir zaman?

Dan misteri yang ketiga selain asal muasal kehidupan & Ruh adalah tentang Jiwa. Seringkali kita menyebut Jiwa sebagai Salah satu komponen penyusun makhluk hidup, termasuk manusia. Namun, tidak sedikit di antara kita yang tidak memahami : apakah sebenarnya Jiwa? Apa bedanya dengan Ruh?

Begitu banyak diskusi beredar, yang mencoba membahas tentang Ruh dan Jiwa. Bukan hanya dewasa ini, tapi sudah berumur ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Namun demikian, saya melihat, kita perlu melakukan pemahaman ulang serta rekonstruksi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang mutakhir.
Sebab saya merasa, bahwa pembahasan-pembahasan yang dilakukan oleh para pendahulu kita mengalami beberapa kendala dalam mempersepsi persoalan tersebut dikarenakan belum berkembangnya ilmu pengetahuan empirik seperti dewasa ini.

Pemahaman yang baik tentang rahasia kehidupan itu, bakal membawa kita kepada rahasia yang 'Paling Besar' dalam drama kemanusiaan ini, yaitu: Eksistensi Sang Pencipta Kehidupan.

Maka, dalam diskusi ini saya ingin mengajak pembaca untuk menyelami Salah satu dari rahasia tersebut, yang berkaitan dengan : Jiwa dan Ruh.

Hampir setiap kita menyepakati bahwa diri makhluk hidup terdiri dari badan, Jiwa dan Ruh. Tapi, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa diri makhluk hidup hakikatnya hanya terdiri dari Jiwa dan raga saja. Atau dengan kalimat yang lain, ada yang menyebutnya sebagai terdiri dari badan dan nyawa. Fisik dan psikis. Lahir dan batin. Begitulah seterusnya, kebanyakan kita mempersepsi diri makhluk hidup hanya ke dalam dua bagian saja, sebagaimana di atas.

Tapi, saya 'merasakan' ada sesuatu yang lain, ketika mencoba melakukan eksplorasi informasi terhadap diri makhluk hidup itu. Khususnya manusia.

Saya memperoleh gambaran, agaknya bukan cuma 2 ‘unsur’ yang menyusun sosok makhluk hidup, melainkan 3 unsur. Ketiga unsur itu adalah : Badan, Jiwa dan Ruh.

Dalam berbagai pembahasan selama ini, kebanyakan kita tidak membedakan antara Jiwa dan Ruh. Atau, kalaupun merasakan perbedaan, kita tidak begitu 'melihat' perbedaan yang signifikan atau mencolok. Karena itu, kita lantas cukup memandangnya sebagai 2 bagian saja.

Yang satu, kelihatan sebagai badan berotot, berdaging, berdarah, bertulang, punya susunan saraf, dan lain sebagainya, dalam bentuk susunan struktur biologis. Sedangkan satunya lagi adalah sesuatu yang abstrak, tidak kelihatan, tidak bisa didengar, tidak dapat diraba, dan bahkan tidak bisa digambarkan. Tapi jelas ada, dan bisa dirasakan.

Pendapat tentang persamaan Jiwa dan Ruh, juga dikemukakan oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah, seorang tokoh pemikir Islam murid pemikir terkenal Ibnu Taimiyah. Dalam diskusinya yang berjudul Ar Ruh li Ibnil Qayyim diterjemahkan dalam judul ROH ia menegaskan hal itu. Bahwa, Ruh tak lain adalah bentuk lain dari Jiwa, atau sebaliknya.

Dalam skala yang lebih umum, seringkali kita juga mendengar pendapat bahwa jiwa dan raga pada makhluk hidup bagaikan sebuah mobil dengan pengendaranya. Raga adalah mobil, sedangkan Jiwa adalah pengendara alias driver.

Maka, Jiwa dan raga atau 'pengendara dan mobil' adalah suatu kesatuan sistem yang melaju ‘dijalan raya kehidupan’ untuk menuju satu tujuan yang sama. Aktor utamanya, adalah pengendara, sedangkan mobil hanya sekadar sarana belaka.

Mobil adalah benda mati, sedangkan pengendara adalah makhluk hidup yang punya kehendak. Demikianlah kita membuat perumpamaan antara Jiwa dan raga. Kita menganggap badan adalah benda mati, sedangkan Jiwa kitalah yang makhluk hidup.

Sampai disini, saya kira kita mulai merasakan 'keanehan' perumpamaan itu. Sebab yang namanya makhluk hidup itu memang bukan hanya Jiwa, melainkan keseluruhan sistem antara Jiwa dan raga. Dan justru, ketika keduanya 'terpisah'. manusia itu disebut sebagai mengalami kematian.

Kita lantas mulai bertanya-tanya, sebenarnya kehidupan itu muncul dari mana? Apakah susunan badan itu yang menyebabkan munculnya kehidupan dengan sendirinya? Ataukah karena badan kita dimasuki oleh Jiwa? Dengan kata lain, berarti Jiwa adalah sosok mandiri yang menjadi sumber kehidupan Itu?

Lantas apakah Jiwa bisa berdiri sendiri tanpa badan? Apakah Jiwa diciptakan lebih dulu dari badan ataukah diciptakan seiring dengan penciptaan badan? Kalau Jiwa diciptakan lebih dahulu, lantas apakah ada kehidupan Jiwa sebelum kehidupan manusia ini?

Dan setelah kehidupan manusia di muka bumi ini, kemanakah perginya Jiwa? Apakah akan kembali lagi ke badan kita? Kemudian, apakah Jiwa itu memiliki kualitas yang sama antara semua makhluk hidup, ataukah bertingkat-tingkat? Dan segudang lagi pertanyaan yang mengusik pikiran kita, serta membutuhkan jawaban yang lebih gamblang. Untuk itu, pada diskusi ini kita akan mencoba membahas rahasia kehidupan yang telah menjadi misteri sepanjang zaman...

Apakah Jiwa, Apakah Ruh

Informasi tentang Jiwa dan Ruh tersebar di dalam Al-Qur’an dalam kadar yang berbeda. Perbedaan itu terkait dengan jumlah ayat yang menerangkannya maupun makna dalam penggunaannya.

Kata 'Jiwa' di dalam Al-Qur’an diwakili dengan kata ‘nafs’. Meskipun makna 'nafs' ini, secara umum bisa diartikan sebagai 'diri'. Penggunaan kata nafs yang menggambarkan 'jiwa' difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 31 kali. Sedangkan kata nafs (anfus) yang bermakna 'diri' difirmankan tidak kurang dari 279 kali.

Sementara itu, kata 'Ruh' atau 'Roh' di dalam Al-Qur’an diulang-ulang oleh Allah sebanyak 10 kali. Jadi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan kata ‘Jiwa’ dan ‘diri’

Selain itu, penjelasan dan pembahasan tentang Jiwa ternyata juga sangat banyak dibicarakan di dalam Al-Qur’an. Bahkan kita dipancing oleh Allah untuk berusaha memahami 'Jiwa' itu dengan menggunakan akal kita. Hal tersebut bisa kita dapatkan infomasinya pada ayat berikut ini.

QS. Az Zumar (39) : 42
Allah memegang Jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) Jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah Jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan Jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita tentang makna Jiwa. Bahwa Jiwa adalah 'sesuatu' yang bisa ada dan tidak ada, atau bisa keluar dan masuk pada seorang manusia ketika dia masih hidup.

Dijelaskan oleh Allah bahwa seseorang yang sedang terjaga tidak tidur dan tidak mati ia memiliki Jiwa di dalam dirinya. Pada saat orang itu tertidur atau mati, Allah memegang Jiwa manusia tersebut. Dan kemudian Dia menahan Jiwa ketika orang itu mati alias tidak dikembalikan. Sedangkan pada orang yang tertidur, Allah melepaskan Jiwa itu, sehingga orang yang tidur itu terbangun atau tersadar kembali.

Kita memperoleh gambaran awal yang sangat menarik tentang Jiwa. Bahwa Jiwa adalah sesuatu yang terdapat pada orang yang terjaga alias ‘tersadar’. Pada orang-orang yang tidak 'sadar' maka Jiwa itu 'terlepas' darinya (ditahan Allah).

Kondisi tidak sadar itu bisa diperluas bukan hanya saat tidur dan mati, melainkan juga kondisi-kondisi yang mirip dengan tidur dan mati. Misalnya, pada orang yang pingsan dan mati suri (koma), dimana seorang manusia tidak bisa beraktifitas secara normal dan sadar. Jadi, Jiwa berkait erat dengan 'kesadaran' seseorang.

Di ayat lain, Allah memberikan gambaran tentang Jiwa itu, sebagai 'sesuatu' yang kualitasnya bisa naik dan turun. Rendah kualitasnya pada saat masih bayi, dan kemudian menjadi semakin sempurna pada saat ia sudah dewasa. Hal ini diterangkan oleh Allah pada beberapa firmanNya.

QS. Al A'raaf (7) : 172
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap Jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Ayat di atas memberikan informasi, bahwa sejak pertamakali manusia dilahirkan oleh ibunya, Allah sudah mengaktifkan Jiwanya. Digambarkan ia telah memiliki 'naluri' ketuhanan. Sehingga, pada dasarnya dia telah memberikan kesaksian awal bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakannya.

Bahkan, pemahamannya bisa lebih awal dari saat kelahiran. Karena, kalimat 'dikeluarkan dari tulang sulbi' itu menunjukkan saat pertama kali terjadi konsepsi, yaitu pembuahan sel telur oleh sperma.

Ketika sel telur dan sperma dilepaskan dari sumbernya dari indung telur dan testisnya, dan kemudian dipertemukan dan ditempatkan di dalam rahim. Saat itulah Jiwa manusia sudah mulai terbentuk. Dengan kualitas yang paling rendah. Sangat dasar. Tapi fitrahnya telah bertauhid kepada Allah sang Pencipta.

Di sisi lain, ayat itu memang memberikan informasi dan penegasan bahwa secara fitrah, manusia telah mengakui adanya Allah sebagai Tuhannya. Jadi, kalau seseorang mau mendengarkan kata hatinya, sebenarnya ia akan selalu merasakan dan menyadari bahwa ada Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam semesta beserta seluruh isinya.

Dengan kata lain, orang yang menyebut dirinya atheis (tidak bertuhan), sebenarnya telah mengingkari fitrah Jiwanya dan melawan kata hatinya sendiri. Setiap kita, pada dasarnya, mengakui adanya suatu kekuatan.yang Maha Dahsyat di luar kemampuan diri kita. Dialah Allah Azza wajala.

Cuma, ada yang menyebutnya sebagai ‘Faktor X’ atau kekuatan 'Supranatural' atau ‘Kebetulan’, atau apa pun mereka mengistilahkan. Tapi intinya, setiap kita bisa merasakan dan meyakini bahwa kemampuan manusia sangatlah terbatas. Dan, lantas ada 'Sesuatu Yang Lebih Hebat' di luar kita yang selalu ikut campur dalam urusan kita. Sekali lagi, itulah Tuhannya manusia.

Di ayat yang lain Allah memberikan gambaran bahwa ketika masih bayi Jiwa kita sangatlah lemah, dan tidak tahu apa-apa. Jiwa yang lemah itu akan terus-menerus mengalami penyempurnaan sampai dewasa kelak, lewat berbagai pengalaman hidupnya. Lewat interaksi panca indera dan hatinya.

QS. A Nahl (16) : 78
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Jadi, Jiwa adalah 'sesuatu' di dalam diri kita yang mengalami ‘pertumbuhan’ dan 'perkembangan kualitas' seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan seorang manusia. Semakin dewasa dia maka semakin tinggi juga kualitas Jiwanya.

QS. Yusuf : 22
Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan i1mu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Begitulah, ketika tumbuh dewasa, Jiwa memiliki kemampuan semakin tinggi dalam menangkap ilmu dan hikmah.Terutama, mereka yang memproses pengalaman Jiwanya ke arah yang baik dan positif.

Jadi, Jiwa adalah 'sesuatu' di dalam diri kita yang memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu dan hikmah. Dia bisa memahami makna yang tersimpan di dalam suatu informasi. Bahkan dia juga bisa melakukan analisa dan mengambil keputusan dalam menyerap ilmu dan hikmah tersebut.

Tentang proses penyempurnaan Jiwa itu, Allah menjelaskan dalam firmanNya. Bahwa manusia, pada mulanya berasal dari sesuatu yang tidak bisa disebut. Kemudian, sesuatu yang tidak bisa disebut itu diproses secara bertingkat-tingkat di dalam diri manusia - Bapak dan Ibunya, sehingga menjadi manusia. Dan kemudian di luar rahim sampai menjadi dewasa.

QS. Al Insaan (76) : 1
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

QS. Asy Syam (91) : 7 - 10
Dan Jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada Jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan Jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Dengan tegas Allah menjelaskan bahwa Jiwa mengalami penyempurnaan. Ia dihadirkan pertama kalinya dalam kondisi yang lemah, jauh dari sempurna. Setelah melewati proses kehidupan, pengalaman, pembelajaran, maka Jiwa aka menjadi sempurna pada usia dewasanya.

Dalam proses penyempurnaan itu Jiwa bisa mengarah kepada kebaikan, atau sebaliknya pada keburukan. Dalam istilah ayat tersebut di atas : manusia bisa membersihkan Jiwanya, atau mengotorinya.

Jika membersihkan Jiwa, maka beruntunglah kita. Karena Jiwa yang bersih akan memberikan manfaat kepada manusia itu saat hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Sedangkan orang yang mengotorinya bakal merugi, karena Jiwa yang kotor itu akan memunculkan masalah dan penderitaan sepanjang kehidupannya di dunia sampai akhirat.

Ketika masih anak-anak, seorang manusia memiliki Jiwa yang bersih. Semakin dewasa, kualitas Jiwanya bisa berubah sesuai dengan proses dan pengalaman hidupnya. Ibarat kertas masih putih belum ada tulisan dan goresan apa pun. Orang tua dan lingkungan hidupnyalah yang bakal menulisi lembaran-lembaran Jiwanya. Kebersihan jiwa seorang anak digambarkan oleh Allah lewat cerita nabi Musa dan nabi Khidr.

QS. Al Kahfi : 74
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh Jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".

Dialog antara nabi Musa dan Nabi Khidhr di atas memberikan gambaran bahwa seorang anak memiliki Jiwa yang bersih. Kata Rasulullah Muhammad saw, orang tuanyalah yang menyebabkan seorang anak menjadi Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Yang menarik, kecenderungan jiwa untuk melakukan yang baik atau buruk itu sudah dimasukkan Allah sejak awal sebagai sebuah pilihan. Setiap jiwa diberi kebebasan untuk memilih kebaikan ataukah keburukan.

Dengan jelas Allah mengatakan hal itu di ayat tersebut : "maka Allah mengilhamkan kepada Jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya". Terserah kepada kita untuk memilih kebaikan ataukah keburukan. Membersihkan atau mengotorinya. Jadi, Jiwa adalah 'sesuatu' di dalam diri kita yang memiliki kemampuan untuk memilih.

Lebih jauh, Al-Qur’an menginformasikan bahwa Jiwa adalah 'sesuatu' di dalam diri kita yang bisa mengalami 'rasa' senang, sedih, marah, gembira, puas, menyesal, bahagia, dan tentram.

QS. Al Fajr (89) : 27
"Hai Jiwa yang tenang"

QS. Al Qiyaamah (75) : 2
dan aku bersumpah dengan Jiwa yang amat menyesali.

QS. At Taubah (9) : 103
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman Jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS. At taubah (9) : 118
dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan Jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

QS. An Nisaa (4) : 63
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada Jiwa mereka.

Jadi, dalam perkembangan lebih lanjut, Jiwa memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menjadi mandiri dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang berisiko. Karena itu, Jiwa lantas harus bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan yang dia lakukan.

QS. Al Infithaar (82) : 5
maka tiap-tiap Jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya

QS. Al Mu'min (40) : 17
Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.

QS. Al Qalam (68) : 40
Tanyakanlah kepada mereka: "Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"

QS. Al Mudatstsir (74) : 38
Tiap-tiap Jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,

Maka dari berbagai informasi di atas, kita lantas bisa mengambil kesimpulan terhadap apa yang dinamakan Jiwa, sebagai berikut.

  1. Bahwa ada suatu masa di mana manusia belum terbentuk dan belum bisa disebut baik badan, Jiwa, maupun Ruhnya.
  2. Bahwa Jiwa mulai 'diaktifkan' oleh Allah di dalam diri seorang manusia pada saat terjadi konsepsi antara sel telur dan sel sperma di dalam rahim seorang ibu. Sejak saat itulah Jiwa 'hidup' bersama dengan tubuh manusia, yang juga hidup.
  3. Bahwa Jiwa adalah sesuatu yang mengalami pertumbuhan dan 'perkembangan kualitas' seiring dengan berkembangnya fisik manusia, mulai dari janin sampai dewasa.
  4. Bahwa Jiwa 'dibesarkan' oleh bertambahnya ‘pengalaman dan ilmu pengetahuan’ yang diserapnya. Jiwa terlahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, dan menjadi ‘dewasa’ ketika mampu menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dan memahami hikmah yang terkandung di dalamnya.
  5. Bahwa Jiwa bisa bersama-sama ada dengan fisik namun sekali waktu juga bisa terpisah dari fisiknya. Dan, keduanya masih tetap hidup sendiri-sendiri. Kondisi seperti itu digambarkan olehNya terjadi pada orang-orang yang kehilangan kesadarannya, seperti orang-orang yang tertidur, pingsan, koma, atau mati. Bahkan, pada orang mati, Allah mengatakan bahwa Jiwanya masih hidup di sisiNya (QS. 3:169)
  6. Sebagaimana kondisi badan seseorang, Jiwa adalah sesuatu yang bisa kena pengaruh dari luar berupa 'tekanan' positif maupun negatif, berupa rasa senang, sedih, kecewa, puas, bahagia, sengsara, dan lain sebagainya. 'Stress' tersebut muncul dalam bentuk ‘makna’. Jadi, Jiwa bisa mengalami interaksi dengan sesuatu dari luar dirinya dalam bentuk 'makna' alias 'informasi'.
  7. Bahwa Jiwa bisa berinteraksi dengan dunia luar lewat fasilitas yang dimiliki badan, yaitu berupa panca indera dan indera ke enam alias hati. Salah satu fungsi yang paling dasar adalah ‘memahami’
  8. Bahwa kualitas Jiwa juga bergantung kepada kualitas fisik, terutama otak. Jika kualitas fisik dan otak mengalami gangguan, maka Jiwa juga bakal mengalami gangguan. Kerusakan pada Otak menimbulkan kerusakan pada Jiwa, karena fungsi otak ternyata direpresentasikan oleh sel-sel yang terdapat di otak.
  9. Bahwa Jiwa adalah sosok yang bertanggungjawab terhadap segala perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih kebaikan atau keburukan dalam hidupnya Segala akibat dari perbuatannya akan kembali kepadanya. Namun, tanggungjawab itu akan dipikul oleh Jiwa, bukan saat Jiwa terpisah dari badannya, melainkan ketika Jiwa telah dikembalikan ke badannya pada hari kebangkitan kelak.



Dengan adanya beberapa point di atas, maka kita bisa membuat kesimpulan umum untuk merumuskan tentang Jiwa.

Bahwa Jiwa adalah 'sosok' non fisik yang berfungsi dan bersemayam di dalam tubuh seorang manusia. Ia bertanggung jawab terhadap seluruh perbuatan kemanusiaannya. Eksistensi jiwa terbentuk, ketika ia bergabung dengan fisiknya. Dan kemudian 'tidak berfungsi' ketika terpisah dari badannya.

Jiwa dan Fisik adalah dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang, yang tidak bisa berfungsi sendiri-sendiri. Keduanya baru berfungsi ketika ada bersama-sama. Untuk lebih jelasnya, marilah kita teruskan diskusi kita lebih jauh ke bagian-bagian berikutnya.

Perbedaan Jiwa dan Ruh

Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas Jiwa, ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui perbedaan Jiwa dengan Ruh. Sebab, banyak di antara kita yang merancukan keduanya.

Sebagaimana saya sampaikan di depan, bahwa infomasi tentang Ruh di dalam Al-Qur’an jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jiwa. Dalam jumlah yang sedikit itu pun, kata Ruh digunakan untuk menggambarkan beberapa hal yang berbeda.

Di antaranya adalah untuk menggambarkan ‘sesuatu’ yang menyebabkan munculnya kehidupan pada benda-benda yang tadinya mati, sekaligus 'menularkan' sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Selain itu, kata Ruh juga digunakan untuk menggambarkan malaikat, dalam bentukan kata Ruh al Qudus dan Ruh al Amin. Ayat berikut ini menggambarkan fungsi kehidupan.

QS. As Sjadah (32) : 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur

Setidak-tidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Ruh dan Jiwa berbeda. Yang pertama, karena substansinya. Yang kedua, karena fungsinya. Dan yang ketiga, karena sifatnya.

Perbedaan yang pertama, pada substansinya. Jiwa dan Ruh berbeda dari segi kualitas ‘dzat’nya. Jiwa digambarkan sebagai dzat yang bisa berubah-ubah kualitas: naik dan turun, jelek dan baik, kotor dan bersih, dan seterusnya. Sedangkan Ruh digambarkan sebagai dzat yang selalu baik dan suci, berkualitas tinggi. Bahkan digambarkan sebagai 'turunan' dari Dzat Ketuhanan.

QS. Al Hijr (15) : 29
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya RuhKu, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Tingginya kualitas Ruh itu tergambar dari 2 hal, sebagaimana disebutkan ayat di atas. Yang pertama, ditunjukkan oleh tunduknya malaikat kepada manusia. Dan yang kedua, ditunjukkan oleh penggunakan 'kata ganti' KU, yang menggambarkan bahwa Allah mengakui betapa dekatNya dzat yang bernama Ruh itu dengan Allah.

Kita tahu, malaikat tunduk kepada Adam setelah Allah 'meniupkan' RuhNya kepada Adam. Setelah Allah menyempurnakan kejadian Adam sebagai seorang manusia. Jadi, kita bisa mengambil kesimpulan umum, bahwa kualitas Ruh itulah yang menyebabkan meningkatnya kualitas seorang manusia, sehingga menjadikan para malaikat menghormatinya.

Yang kedua, ketinggian dzat yang disebut Ruh itu terlihat dari bagaimana Allah mengatakannya sebagai Ruh Ku. Tidak pernah Allah, dalam firmanNya, menggunakan kata ganti kepunyaan 'KU' untuk Jiwa. Misalnya, mengatakan 'JiwaKU'. Tetapi Dia menggunakan kata ganti kepunyaan itu, untuk menggambarkan Ruh.

Penggunaan kata Ruh Ku ini tentu jangan ditafsirkan sebagai Ruh Allah yang masuk ke dalam diri manusia. Melainkan Ruh milik (ciptaan) Allah. Meskipun, di ayat lain, Allah juga mengatakan sebagian dari RuhKu, yang menggiring kita pada pemahaman bahwa Allah ‘mengimbaskan’ sebagian dari sifat-sifatNya kepada manusia lewat Ruh itu.

Dengan Ruh itulah manusia menjadi memiliki kehendak. Dengan Ruh itu pula manusia bisa berilmu pengetahuan. Dengan Ruh itu pula ia menjadi bijaksana, memiliki perasaan cinta dan kasih sayang, serta berbagai bagai sifat ketuhanan, dalam skala manusia. Ya, Ruh adalah dzat yang menjadi media penyampai Sifat-sifat Ketuhanan di dalam kehidupan manusia.

QS Tahrim (66) : 12
dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari Ruh Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang ta'at.

QS. As Sajdah (32) : 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Dalam kaitannya dengan fisik, Allah menjelaskan bahwa Ruh tersebutlah yang menjadikan fungsi-fungsi kehidupan seperti penglihatan, pendengaran dan hati seorang manusia bisa dipahami oleh jiwa. Jika tidak karena Ruh, maka fungsi penglihatan, pendengaran dan 'hati' tidak menghasilkan kefahaman sebagaimana seorang manusia. Melainkan, bagaikan seekor binatang saja. Hal ini dikemukakan oleh Allah dalam firmanNya.

QS. Al A'raaf (7) : 179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Jadi kita bisa merasakan betapa istimewanya Ruh. Ruh lah yang menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya, yang 'menularkan' Sifat-sifat Allah yang Serba Sempurna dalam skala kehidupan manusia. Karena demikian tingginya kualitas Ruh itu, maka di ayat lain, Allah menegaskan bahwa Ruh adalah urusan Allah.

QS. Al Israa' (17) : 85
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit

Perbedaan yang kedua, antara Jiwa dan Ruh adalah pada fungsinya. Jiwa digambarkan sebagai ‘sosok’ yang bertanggung jawab atas segala perbuatan kemanusiaannya. Bukan Ruh yang bertanggung jawab atas segala perbuatan manusia, melainkan Jiwa.
Ruh adalah dzat yang selalu baik dan berkualitas tinggi. Sebaliknya Hawa Nafsu adalah dzat yang berkualitas rendah dan selalu mengajak kepada keburukan. Sedangkan Jiwa adalah dzat yang bisa memilih kebaikan atau keburukan tersebut. Maka, Jiwa harus bertanggung jawab terhadap pilihannya itu.

Setiap Jiwa akan menerima konsekuensi atau balasan dari perbuatan jeleknya atau perbuatan baiknya. la terkena dosa dan pahala. Sedangkan Ruh, selalu ‘mengajak’ kepada kebaikan. Ini juga ada kaitannya dengan istilah Ruh yang digunakan untuk menyebut malaikat. Malaikat adalah agent kebaikan. Lawan dari Iblis dan setan sebagai agent kejahatan.

QS. Al Mursalat (77) : 1
Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan,

QS. Fathiir (35) : 5
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

Dan yang ketiga, Perbedaan itu ada pada sifatnya. Jiwa bisa merasakan kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, dan kedamaian. Sedangkan Ruh bersifat stabil dalam 'kebaikan' tanpa mengenal perbandingan. Ruh adalah kutub positif dari sifat kemanusiaan. Sebagai lawan dari sifat setan yang negatif.

Dalam kalimat yang berbeda, Ruh juga digambarkan bagaikan malaikat yang mengajak pada cahaya yang terang benderang, melepaskan diri dari dunia kegelapan hawa nafsu. Seiring dengan substansi malaikat yang terbuat dari cahaya.

Sedangkan Jiwa adalah sosok yang 'bergerak' dan kualitasnya berubah terus di antara 'kutub cahaya' sang Ruh dengan 'kutub kegelapan' badan manusia yang terbuat dari tanah. Antara 'kutub malaikat' dan 'kutub setan'.
Jadi kalau digambarkan secara ringkas, Allah menciptakan badan manusia dari material tanah dan kemudian 'meniupkan' sebagian Ruh-Nya kepada badan itu. Maka, hiduplah' bahan organik tanah' menjadi badan manusia, disebabkan oleh adanya Ruh. Dan akibat dari bersatunya Badan dan Ruh, sejak saat itu pula mulai aktiflah Jiwa manusianya.

Jadi, Jiwa adalah akibat. Bukan penyebab. Penyebab utama adalah masuknya Ruh ke dalam badan, kemudian muncullah Jiwa sebagai interaksi antara Ruh dengan Badan.

Di dalam badan yang sudah ada Ruhnya itulah Jiwa berkembang mencapai bentuknya yang tertinggi. Ada 2 kutub yang saling tarik-menarik di dalam diri kita, yaitu : Ruh dan Badan.

Ruh mewakili sifat-sifat malaikat yang penuh dengan ketaatan, keikhlasan, akal sehat, kesucian, cinta kasih dan kesempurnaan. Sedangkan badan mewakili sifat-sifat iblis dan setan yang menggambarkan kehidupan materialistik, pemenuhan kebutuhan badaniah, keserakahan, kesombongan, pertentangan, kemarahan, dan segala tipu daya kehidupan.

Dalam kalimat berbeda, Ruh menggambarkan Akhirat sebagai kehidupan yang sesungguhnya, sedangkan Badan menggambarkan Dunia sebagai kehidupan sementara yang penuh kepura-puraan dan semu. Ruh adalah adalah Akal Sehat, sedangkan Badan adalah Hawa Nafsu!

Analogi Robot, Manusia Tiruan

Perumpamaan yang agak mendekati realitas untuk menggambarkan fungsi-fungsi dalam diri manusia, barangkali, adalah Robot. Entah sengaja atau tidak, robot didesain memiliki 3 bagian penyusun ‘kehidupannya’. Yaitu, Badan Robot, Operating system (sistem operasi dan kelistrikan), dan Program Aplikasi.

Badan robot didesain sedemikian rupa sehingga bisa menirukan fungsi-fungsi badan manusia. Mulai dari fungsi-fungsi 'berpikir', menggunakan panca indera alias sensor, merespon rangsangan dari luar lewat suara, sampai pada gerakan motorik.

Untuk itu badan robot dibuat dengan konstruksi tertentu. Misalnya, badannya dibuat dari bahan ringan yang kuat dan lentur, agar bisa mengantisipasi segala kondisi yang dipersyaratkan kepadanya, selama bertugas.

Bahan yang ringan dibutuhkan agar energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan robot tersebut tidak terlalu besar alias efisien. Lentur diperlukan agar badan robot menjadi efektif untuk mengantisipasi berbagai kondisi yang bakal ditemuinya selama 'kehidupannya' berlangsung.

Keluwesan gerak robot bukan hanya ditentukan oleh kelenturan badannya, melainkan juga oleh jumlah sendi dalam struktur badannya. Agar robot bisa bergerak 360 derajat, maka robot harus memiliki sendi-sendi yang dibuat sedemikian rupa sehingga pergerakan badannya menjadi luwes di dalam ruang 3 dimensi (muka belakang, atas bawah, dan kiri kanan).

Struktur badan robot juga dituntut agar bisa bergerak dengan seimbang. Untuk itu dibutuhkan ‘otot-otot’ yang mengendalikan seluruh bagian tulang dan persendiannya, dengan koordinasi yang sangat canggih, sehingga robot bisa bergerak dengan luwes dalam segala medan.

Sebagai contoh, bagaimanakah menjadikan robot bisa menggerakkan lengannya ke segala arah. Tentu, harus dibuatkan sendi sendi 'peluru' di bahu yang bisa berputar ke segala arah, ditambah sendi engsel di siku, dan ditambah lagi sendi-sendi di pergelangan tangan maupun jari jemarinya. Setelah itu, di berbagai sendi itu mesti dirangkai dengan 'otot-otot' sebagal tali penggerak lengan robot secara sempurna.

Jika robot hanya memiliki sendi engsel di bahu, misalnya, maka lengan robot hanya bisa bergerak ke depan dan belakang saja. Atau kalau otot-ototnya tidak dikoordinasikan dengan baik, maka gerakan lengan itu juga bakal kacau, kemana-mana.
Semua gerakan itu dikontrol dari komputer utama yang ada di dalam kepala robot, alias 'otak robot'. Kecepatan pengendalian harus demikian cepatnya, jangan sampai gerakan robot untuk memukul bola, misalnya, selalu meleset karena ketinggalan terus.

Anda bisa membayangkan betapa untuk bisa menciptakan gerakan lengan pada sebuah robot membutuhkan kecanggihan yang sulit dibayangkan. Khususnya, ketika robot itu ingin menirukan gerakan manusia, yang demikian luwes dan sempurna.

Robot juga harus dibekali dengan sensor-sensor. Di antaranya adalah sensor gerakan yang menggunakan kamera. Sensor suara yang menggunakan mikrofon. Sensor pembau yang meniru fungsi hidung, sensor pengecap yang meniru fungsi lidah, dan sensor kasar halus yang sekaligus sensor suhu, meniru fungsi kulit.

Sensor-sensor ini diperlukan untuk memperoleh data atau input dari luar sistem robot tersebut, agar robot bisa melakukan antisipasi atau respon secara benar. Katakanlah sebuah robot yang diciptakan untuk bisa bermain sepak bola, maka robot tersebut harus memiliki sensor gerakan yang cukup canggih. Sehingga ketika ada bola datang mengarah kepadanya, robot itu bisa mengambil keputusan untuk menendangnya.

Bukan hanya harus tepat waktu, ketika menendang, tapi dia juga harus bisa mengarahkan tendangan itu ke arah gawang lawan. Ketepatan waktu menendang, kekerasan tendangan, arah tendangan, dan berbagai variabel proses yang terlibat di dalamnya, semuanya dikendalikan oleh komputer yang ada di 'otak robot' tersebut.

Kalau digambarkan lebih rinci, proses itu berjalan kurang lebih begini. Ketika bola datang ke arah robot, maka bayangan bola itu akan tertangkap kamera, sebagai sensornya. Bayangan yang tertangkap kamera tersebut lantas mengenai layar di bagian dalam kamera. Layar berfungsi untuk mengubah bayangan bola menjadi pulsa-pulsa listrik, yang kemudian diteruskan oleh kabel kabel menuju ke 'otak' robot.

Sesampainya di otak, maka 'bayangan bola' yang sudah berupa sinyal sinyal listrik itu dibandingkan dengan data benda-benda yang dikenal oleh 'otak robot'. Jika bentuknya tidak sesuai misalnya berbentuk kotak barangkali otak komputer bakal memutuskan untuk tidak menendang bola. Dibiarkan saja lewat. Tapi jika, cocok dengan data 'bola' yang ada di otak komputer itu, maka 'otak' akan memutuskan untuk menendang bola.

Namun demikian, keputusan menendang itu tidak serta merta dilakukan dengan ngawur. Robot harus mengetahui dimana gawang lawan berada. Jangan sampai ke gawang sendiri, menjadi gol bunuh diri. Atau, tendangannya malah mengarah ke wasit dan penonton. Dia masih harus melakukan proses pengambitan keputusan untuk menentukan arah tendangan.

Setelah dia tahu kemana arah tendangan, maka dia juga masih harus mengukur, seberapa keras tendangan yang harus dilakukan. Jangan-jangan tidak sampai ke gawang lawan.

Dan seterusnya, dan seterusnya, semua proses pengambilan keputusan itu terjadi hanya dalam orde sepersekian detik saja. Sebab jika proses pengambilan keputusan oleh otak robot itu terlambat, tendangan itu tidak akan pernah terjadi. Ya, bolanya sudah terlanjur lewat, tapi robotnya belum menendang!

Jadi, demikian canggihnya proses yang terjadi dalam sebuah pengambilan keputusan untuk menendang bola, oleh sebuah robot. Dan, untuk mendukung proses keputusan menendang bola itu, robot harus memiliki 'mata' kamera yang canggih agar tendangannya tidak luput. Dan mata kamera itu harus bisa mengikuti gerakan bola secara terus menerus.

Robot juga harus memiliki badan lentur dengan gerakan yang luwes, supaya tendangannya bisa tepat sasaran. Dan yang paling rumit, adalah sistem komputer yang digunakan sebagai otaknya. Termasuk segala sistem perlengkapannya yang sangat canggih.

Bayangkan, bagaimana sebuah komputer harus didesain untuk memiliki kemampuan sedemikian rupa sehingga memiliki kecepatan proses yang sangat tinggi, dan kompleksitas yang demikian rumit.

Kabel-kabel penghubung sensornya, harus memiliki hantaran sinyal-sinyal listrik yang sangat cepat. Misalnya, harus menggunakan serat optik dengan kualitas terbaik. Memori dan hardisknya sangat besar. Dan yang paling penting, komputer itu harus memiliki sistem pemrograman sedemikian rupa sehingga bisa diberi input-input lewat 'pengalaman hidup' si robot.

Misalnya, dia bisa menarik pembelajaran dari sebuah permainan sepak bola, tanpa harus diberikan input oleh operatornya. Dia menjadi tahu dengan sendirinya bahwa benda terbuat dari kulit berbentuk bundar itu adalah bola yang harus ditendang. Dia juga tahu, bahwa gawangnya berbeda dengan gawang lawan. Dan dia juga juga bisa mengenal, siapa kawan siapa lawan. Dan seterusnya, dan seterusanya.

Dalam konteks pembahasan pada bab ini, saya sebenarnya cuma ingin memberikan perumpamaan tentang badan manusia dengan menggunakan robot sebagai contohnya.

Jadi, agar sebuah robot bisa bergerak sesuai yang diinginkan, maka badan robot harus didesain demikian canggih. Mulai dari 'tulang belulangnya' 'daging dan kulitnya 'otot sensor panca indera, susunan kabel-kabel sarafnya, sampai pada komputer ‘otaknya’. Jika desainnya mengalami penyimpangan, maka fungsi robot tersebut juga bakal menyimpang.

Begitulah manusia. Kita diciptakan Allah dengan desain tubuh yang sangat canggih dan sempurna. Jauh lebih canggih dari robot-robot yang sudah pernah dibuat oleh manusia. Bermiliar-miliar kali lebih canggih, karena tubuh kita bisa benar-benar beroperasi secara automaticaly, inheren dan independen. Sedangkan robot tidak.

Manusia mengalami pertumbuhan, sedangkan robot tidak. Kuku, rambut, daging, otot, dan otak beserta kemampuannya, mengalami pertumbuhan dan dinamika sebagai makhluk yang benar-benar hidup. Tapi robot tidak mengalaminya.

Inilah komponen pertama penyusun diri manusia. Badan adalah sosok yang terdiri dari zat-zat biokimiawi, tersusun menjadi sel-sel tubuh manusia. Berbagai macam sel itu kemudian berkolaborasi menjadi jaringan-jaringan otot, daging, otak, jantung, paru dan berbagai macam organ tubuh. Yang akhirnya, semua itu membentuk badan manusia sebagai sosok makhluk hidup dengan segala aktivitasnya...

Ruh, Sistem Operasi

Sebuah robot tidak bisa 'hidup' jika tidak dialiri listrik. Robot juga tidak bisa beroperasi jika di dalam sistem komputernya tidak diberi program dasar yang mengendalikan seluruh sistem bekerjanya kehidupan robot.

Meskipun ia sudah didesain dan dibangun dengan struktur yang canggih. Bahan baku badannya sudah dipilih yang paling bagus, ringan, kuat dan lentur. Demikian pula, 'otaknya' sudah dipilihkan sebuah komputer yang hebat dari segi kecepatan proses maupun kapasitasnya. Kabel-kabelnya dipilihkan bahan-bahan serat optik yang memiliki kecepatan hantaran sinyal tertinggi yang pernah dibikin manusia. Semua itu tidak akan berfungsi, jika si robot tidak dialiri listrik dan tidak memiliki program dasar operasinya.

Energi listrik dan sistem operasi itulah yang bakal menghidupkan robot, sehingga dia bisa bergerak-gerak. Sehingga dia bisa berjalan, membuka mata, mengayun-ayunkan tangan dan seluruh anggota badannya. Bahkan, lebih esensial lagi, ia bisa berpikir dan merespon rangsangan yang datang dari luar dirinya.

Listrik dan 'sistem operasi' semacam yang dibutuhkan robot itu, juga dibutuhkan manusia untuk menjadikan ia hidup. ‘Listrik’ dan 'sistem operasi' dasar kehidupan itulah Ruh.. Jadi, Ruh sebenarnya adalah energi kehidupan yang mengandung fungsi dasar kehidupan itu sendiri. Badan manusia, secanggih apa pun dan sesempurna apa pun, jika tidak 'dialiri' Ruh, ia adalah benda mati belaka.

Ruh kehidupan menyebabkan seorang manusia bertumbuh dan berkembang biak serta bisa bergerak ke sana kemari. Ruh itu yang menyebabkan jantung terus berdenyut. Dan Ruh itu juga yang menyebabkan ia bernafas, sehingga terjaga kelangsungan hidupnya.
Ruh adalah pemberi energi kehidupan, yang menjadikan sosok badan benda mati bisa hidup dengan segala dinamikanya. Persis bagaikan robot yang tadinya mati, namun ketika dialiri listrik ia menjadi 'hidup' dan berfungsi.

Salah satu 'tugas dasar' Ruh adalah memberikan energi kehidupan kepada manusia, yang 'ditiupkan' oleh Allah kepada cikal bakal badan yang tadinya mati, sehingga ia menjadi hidup dan berfungsi. Bagaikan energi listrik yang dialirkan kepada badan robot.

Namun demikian, energi kehidupan itu bukanlah satu-satunya 'tugas' Ruh. Sebab energi kehidupan itu belum memberikan kemampuan operasional pada 'kesadaran' dan aktivitas manusia.

Fungsi Ruh secara menyeluruh adalah membawa sifat-sifat Allah agar kehidupan manusia berjalan sesuai dengan FitrahNya. Karena Ruh membawa sifat Hayyat (Hidup), maka manusia menjadi hidup. Karena Ruh membawa sifat Rahman dan Rahim (kasih sayang), maka manusia juga memiliki sifat kasih dan sayang. Karena Ruh membawa sifat Jabbar (Perkasa) maka manusia juga ketularan sifat perkasa itu.

Ruh juga membawa sifat Qiyamuhu binafsihi (mandiri), maka manusia pun memiliki kecenderungan untuk bersifat mandiri. Karena Ruh membawa sifat Qudrat & Iradat (berkuasa dan berkehendak), maka manusia pun berkehendak untuk berkuasa. Dan karena, Ruh membawa sifat-sifat Ketuhanan lainnya, maka manusia pun 'ketularan' sifat-sifat tersebut. Namun, tentu saja, dalam skala kemanusiaan yang sangat terbatas.

Jadi Ruh adalah sistem operasi, dimana sifat-sifat manusia bersandar pada sifat-sifat Ruh yang ditiupkan oleh Allah kepada badan manusia. Ruh, sebenarnya memiliki potensi tidak terbatas, namun karena ia ditiupkan ke dalam tubuh manusia, maka ketidakterbatasan Ruh itu sangat dibatasi oleh keterbatasan tubuh manusia.

Jiwa, Program Aplikasi

Pada robot, listrik dan sistem operasinya belum bisa menyebabkan ia memiliki fungsi dan aktivitas yang sempurna. Robot masih membutuhkan software alias program aplikasi yang menyebabkan ia bisa berfungsi sesuai perintah desainernya.

Jika ia robot penyanyi, maka di dalam 'otak' komputernya harus dimasukkan program yang berkaitan dengan fungsi menyanyi itu. Ia harus 'kenal' banyak lagu. la juga mesti paham notasi. Dia mesti tahu irama, harmonisasi, dan banyak hal lagi tentang nyanyian atau sebuah pergelaran musik. Untuk itu, robot harus diisi dengan program-program aplikasi yang menjadikan ia pintar menyanyi. Jika tidak, maka dipastikan robot itu hanya 'hidup' tapi tidak pandai menyanyi.

Begitu juga bagi robot yang didesain untuk mampu menyetir mobil. Ke dalam 'otaknya' harus dimasukkan berbagai program aplikasi yang berkaitan dengan mengendarai mobil. Mulai dari tatacara menyetir, rambu rambu lalu lintas, sampai pada harus tahu peta jalan dimana dia beroperasi.

Jadi, program aplikasi sangat diperlukan untuk 'kehidupan' sang robot agar ia bisa 'hidup layak' sesuai dengan fungsinya.

Cara memasukkan program aplikasi itu ada dua. Yang pertama diberikan secara instan oleh programmer Program aplikasi itu bisa dimasukkan sejak awal robot itu dibuat, berdasarkan perkiraan masalah -masalah yang bakal dihadapinya. Misalnya, jika dia robot penyanyi, maka di hardisk komputernya mesti diinstal program tentang nyanyian mulai dari jenis lagu yang akan dibawakan sampai kepada tata cara dia membawakan.

Robot itu tidak bisa menyimpang dari program-program yang diberikan kepadanya. Jika ada permintaan yang tidak dia kenal, maka dia akan menolak permintaan itu. Atau meresponnya secara salah. Kalau dipaksa, komputernya bakal hang. Cara pertama ini memang lebih mudah, tetapi tidak memberikan 'kepintaran' yang cukup baik kepada si robot, sehingga dia tidak akan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan dan banyak hal yang terjadi di sekitarnya.

Cara yang kedua adalah yang lebih canggih. Programmer robot itu memasukkan suatu program aplikasi yang bisa menerima input baru berdasarkan pengalaman robot. Robot menggunakan sistem Hybride.

Programnya adalah program terbuka. Seluruh pengalaman baru yang dialami robot bisa dicatat sebagai data inputan baru. Dengan cara ini, robot semakin lama akan semakin pintar. Misalnya, ia bisa diajari lagu baru.
la bisa diajak melakukan pembelajaran, dan mengingat berbagai data baru di 'otak' komputernya.

Berbagai program aplikasi bisa kita masukkan ke dalam'otak' robot' agar ia menjadi robot yang pintar dan memiliki berbagai macam keahlian. Hanya saja, untuk bisa menciptakan robot yang demikian itu, luar biasa susahnya.

Menciptakan robot dengan satu keahlian saja sudah demikian sulit. Apalagi yang memiliki multiskill alias banyak keahlian. 'Otak' komputer yang tersimpan di dalam kepala robot itu harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga besarnya barangkali akan berjuta-juta kali dibandingkan besarnya kepala sang robot.

Nah, kalau kita bandingkan dengan manusia, maka software alias program aplikasi inilah yang disebut Jiwa. Bandingkan dengan pemahaman kita tentang Ruh. Ruh adalah sistem operasi yang di dalamnya memiliki energi kehidupan, sedangkan Jiwa adalah program aplikasi yang bisa menyebabkan seorang manusia memiliki kemampuan operasional.

Ruh menyebabkan seorang manusia hidup. Badannya bertumbuh, berkembang biak, bisa bernafas, jantungnya berdenyut dan lain sebagainya. Juga, dengan Ruh itu, manusia memiliki sifat-sifat dasar kemanusiaan yang saya sampaikan di depan. Ia memiliki sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat Tuhan sebagai 'sumber' Ruh kita.

Namun demikian, manusia tidak bisa beraktivitas dengan sempurna di dalam hidupnya kalau Jiwanya tidak tumbuh dan berkembang. Skill atau keahlian yang bersifat fisik maupun psikis semuanya dikendalikan oleh Jiwa. Jiwa bekerja di dalam sistem Ruhani. Jadi, Ruh menghidupi badan dan Jiwa sekaligus. Badan maupun Jiwa tidak bisa bekerja ketika Ruh tidak ada.

Kemampuan menyanyi, misalnya, itu adalah fungsi Jiwa. Kemampuan bermain sepakbola, juga fungsi dari Jiwa. Kemampuan berhitung, berbahasa dan belajar adalah fungsi Jiwa. Demikian pula kemampuan berlogika, menganalisa, berpikir. Termasuk kemampuan berbudaya dan beragama adalah fungsi dari Jiwa. Bukan fungsi Ruh. Juga bukan fungsi badan.

Jiwa adalah fungsi sentral dari eksistensi seorang manusia. Sebagaimana software alias 'program aplikasi' adalah fungsi sentral dari sebuah robot. Keberadaan badan robot dan sistem operasinya ditujukan untuk memfasilitasi software. Demikian pula pada manusia, keberadaan badan dan Ruh adalah untuk memfasilitasi fungsi Jiwanya. Jiwa inilah yang menyebabkan seseorang berfungsi sebagai manusia seutuhnya.

Karena itu, jika seseorang mengalami gangguan Jiwa, ia tidak lagi menjadi subyek dalam kehidupan beragama. Ia tidak dikenai tugas-tugas keagamaan. Seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya.

Agama berfungsi untuk memproses kualitas Jiwa seseorang dari yang bernilai rendah menjadi Jiwa yang berderajat tinggi. Dari Jiwa yang berkualitas 'nafs al amarah' menjadi 'nafs al muthmainnah.

Dari Jiwa yang 'merepotkan' banyak pihak menjadi Jiwa yang 'bermanfaat' buat semua pihak. Dari Jiwa yang 'bodoh' menjadi Jiwa yang 'pintar' dan bisa menyelesaikan beragam persoalan kehidupan.

Dari Jiwa yang egois dan serakah menjadi Jiwa yang sosialis, lantas spiritualis. Dari jiwa yang penakut, pembenci, pendendam dan selalu gelisah, menjadi Jiwa yang pemberani, pemaaf, tenang, tentram, penuh cinta dan kedamaian.

Itulah bidang garap keagamaan yang bertujuan menjadikan sosok manusia menjadi 'Insan Kamil', manusia yang sebenarnya. Manusia yang sempurna. Bukan cuma sekadar badan yang bisa bergerak ke sana kemari, tetapi tidak memiliki kualitas Jiwa dalam kehidupan yang mulia.

Jiwa adalah opened software alias 'program terbuka' dalam kehidupan seorang manusia. Jiwa bisa mengalami penurunan dan peningkatan kualitas. Ia bisa menjadi jelek dan jahat. Tapi, di lain waktu ia bisa berubah menjadi baik dan bermanfaat.

Di suatu waktu boleh jadi ia sangat hina, tapi di lain kesempatan ia bisa berubah menjadi demikian mulia. Semua itu bergantung pada proses pemrograman yang kita lakukan padanya.

QS. Asy Syam : 8 - 9
maka Allah mengilhamkan kepada Jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan Jiwa itu,

Kalau kita ingin kualitas Jiwa kita jelek, maka masukkanlah program yang jelek-jelek ke dalam Jiwa, maka Jiwa kita pun bakal menjadi jelek dan jahat. Sebaliknya kalau kita ingin baik dan bermanfaat, maka masukkanlah program yang baik dan bermanfaat, Jiwa kita pun bakal baik dan bermanfaat.

Jiwa memiliki kecenderungan ke dua arah, yaitu baik dan buruk. Maka beruntunglah orang-orang yang mengisi Jiwanya dengan program yang baik-baik dan bermanfaat bagi kehidupannya.

Kualitas Jiwa terus berkembang sesuai dengan pengalaman kita. Jiwa anak-anak berbeda dengan Jiwa remaja, berbeda dengan Jiwa seorang pemuda, dan berbeda lagi dengan Jiwa yang sudah dewasa.

QS. Al Hajj (22) : 5
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan. Tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampal pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

QS. An Nahl (16) : 78
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Dimanakah Jiwa dan Ruh

Pertanyaan yang sangat mendasar tentang Jiwa dan Ruh adalah posisi keberadaannya. Dimanakah Jiwa dan Ruh berada? Di sekitar kita banyak pendapat yang menggambarkan tentang posisi Jiwa dan Ruh tersebut.

Ada yang menggambarkan lepasnya Ruh dan Jiwa dari ubun-ubun. Kadang digambarkan sebagai seberkas sinar yang terlepas dari puncak kepala seseorang. Dalam hal ini, Jiwa dan Ruh digambarkan sangat dekat posisinya dengan otak manusia.

Namun, ada juga yang menggambarkan Jiwa dan Ruh adalah sosok yang bentuknya persis sama dengan badan seseorang. Jiwa dan Ruh (dalam hal ini dipersepsi sebagai satu sosok saja) digambarkan berbentuk seperti badan manusia, tapi tidak kelihatan. Ia punya tangan, kaki, kepala, dan seluruh anggota badan. Tapi bukan badan kasar. Ia disebut juga badan halus. Maka, ketika Jiwa dan Ruh seseorang dicabut dari badannya, digambarkan sebagai terlepasnya sosok badan halus dari badan kasarnya. Badan halus itu lantas melayang ke langit.

Di beberapa cerita klasik dan tradisional, ada juga yang menggambarkan bahwa Jiwa dan Ruh manusia itu bagaikan seekor burung berwarna hijau yang terbang ke sana kemari di dalam Surga. Dan sebagainya, masih banyak lagi gambaran-gambaran tentang keberadaan Jiwa dan Ruh.
Untuk membahasnya lebih jauh, saya kira kita harus bersepakat terlebih dahulu bahwa Jiwa dan Ruh adalah sosok yang berbeda, sebagaimana telah kita bahas di depan.

Posisi Ruh

Untuk mengetahui posisi Ruh, terlebih dahulu kita samakan persepsi tentang fungsinya. Bahwa fungsi Ruh adalah seperti Operating System dalam sebuah komputer atau robot. Ia sekaligus juga berfungsi sebagai ‘sumber kehidupan’.

Pada sebuah komputer atau robot, bayangkan ia memperoleh aliran listrik 'kehidupannya' dari sebuah sumber listrik bisa berupa baterai atau pembangkit listrik lainnya. Selain itu, di CPU (Central Processing Unit - otak komputernya) dimasukkan program dasar yang akan menjadi sistem beroperasi bagi seluruh kegiatan robot tesebut.

Dalam komputer generasi terakhir, hidup dan matinya (on off) komputer tidak harus dikendalikan secara manual dengan cara menancapkan ke colokan listrik. Tapi, bisa dikendalikan oleh program dasar tersebut secara otomatis. Jam berapa komputer harus hidup dan jam berapa ia harus mati, bisa dilakukan secara terprogram.

Begitulah kurang lebih keberadaan Ruh. Ruh adalah 'sosok' yang mengendalikan fungsi dasar kehidupan manusia dengan segala sifat-sifatnya. Sebagaimana komputer generasi terakhir, fungsi kehidupan dan sifat-sifat dasar kehidupan itu dikendalikan dari satu tempat yang sama. Lewat sebuah pemrograman yang sangat canggih dan kompleks, oleh keberadaan Ruh.

Sekali Ruh memasuki badan manusia, maka fungsi dasar kehidupan manusia sudah terhubung ke sistem Ilahiah. Bagaikan komputer sudah ditancapkan ke sumber listrik, dan secara otomatis masuk ke program Windows. Siap untuk dioperasikan dengan program aplikasi apa saja yang sesuai dengan Sistem Operasi tersebut.

Untuk mengetahui dimana Ruh seorang manusia berada, kita bisa mendeteksinya dari fungsi kehidupan yang diperankannya. Sebagaimana kita tahu, Salah satu fungsi utama dari keberadaan Ruh adalah memberikan fungsi kehidupan. Karena itu, kita bisa mendeteksi posisi Ruh itu dari fungsi kehidupan yang terjadi pada manusia. Dimana saja kita menemui fungsi kehidupan di dalam tubuh manusia, maka di situlah Ruh ada dan berperan.

Fungsi kehidupan dinyatakan ada, jika sesuatu itu menunjukkan di antaranya adalah terjadi pertumbuhan, perkembangan atau regenerasi, self maintanance yang berjalan dengan sendirinya.

Dimanakah kita melihat fungsi itu berjalan di tubuh kita? Bagian tubuh yang manakah di dalam diri kita yang menunjukkan fungsi kehidupan dasar tersebut? Ternyata di seluruh penjuru anggota badan kita. Yaitu, di unit kehidupan terkecil kita yang bernama sel.

Sel adalah bagian terkecil dari diri seorang manusia yang memiliki fungsi dasar kehidupan yang saya sebutkan di atas. Ia bisa berkembang biak, bertumbuh, regenerasi, dan memenuhi kebutuhannya secara self maintanance.

Seluruh organ tubuh seorang manusia terbangun dari sekumpulan sel. Ada sel-sel otot, sel-sel tulang, sel kulit, sel otak, sel darah, sel jantung, sel liver, sel rambut dan lain sebagainya.

Setiap sel berfungsi untuk memasok seluruh kebutuhan hidup jaringan di dalam organ tubuh tertentu. Sel melakukan fungsi-fungsi kehidupan seperti menyerap dan mengeluarkan oksigen, menyerap sari-sari makanan, dan membuang sampah-sampah yang tidak diperlukan. Termasuk memiliki mekanisme perlindungan terhadap zat-zat yang berbahaya bagi kelangsungan hidup sel.

Seluruh mekanisme kehidupan sel tersebut dikendalikan oleh sel itu sendiri berdasarkan perintah genetika yang terkandung di bagian inti sel. Kalau dicermati lebih jauh, mekanisme yang terjadi di dalam sel sangatlah canggih dan kompleks. Terorganisasi demikian rapinya, dan berjalan sangat disiplin mengikuti perintah perintah dari sebuah pusat komando yang sangat cerdas di dalam genetikanya.

Gen di dalam sebuah sel bisa diumpamakan sebagai pita panjang yang berpilin. Atau, bisa juga diumpamakan sebuah mata rantai panjang yang berisi kode-kode perintah tertentu. Setiap mata rantai itu memiliki kode yang berbeda-beda. Fungsinya untuk memberikan perintah kepada sel agar melakukan sesuatu yang diperlukan bagi kelangsungan hidup sel.

Di antaranya, sel harus membentuk jenis-jenis protein tertentu untuk berkembang biak atau regenerasi. Padahal, ada jutaan atau bahkan miliaran jenis protein yang mungkin dicetak oleh sel. Tapi, sel bisa melakukannya dengan tepat sesuai perintah yang datang kepadanya. Padahal, jika Salah memproduksi jenis protein, sangat boleh jadi sel itu akan keracunan oleh produknya sendiri.

Kalau digambarkan, proses pembuatan sebuah protein di dalam sel sangat mengagumkan. Proses itu bagaikan terjadi dalam sebuah pabrik kimia raksasa yang sangat canggih, dengan ketelitian mempesona.

Pertama-tama, sel menerima kiriman bahan-bahan mentah dari darah. Bahan-bahan mentah itu berasal dari makanan yang sudah dicema, diserap oleh darah dan kemudian diedarkan ke seluruh sel-sel tubuh. Selain dari sari makanan, sel juga menerima pasokan bahan mentah berupa oksigen yang berasal dari pernafasan paru-paru.

Berbagai macam bahan mentah tersebut disortir oleh mekanisme di bagian luar sel, yang disebut membran atau kulit sel. Bahan-bahan yang tidak dikenal dan tidak dibutuhkan oleh sel tersebut 'tidak diperbolehkan' masuk ke dalam sel. Ditolak dan disuruh pergi, dibawa kembali oleh darah menuju bagian lain.

Sedangkan yang sesuai dengan kebutuhan sel itu akan dibawa masuk ke dalam sel oleh cairan yang disebut sitoplasma. Bahan-bahan mentah tersebut kemudian dibawa ke beberapa tempat di dalam sel yang berfungsi untuk memproduksi protein maupun energi. Di antaranya adalah mitokondria dan ribosom.

Pecahan-pecahan bahan mentah itu berupa molekul-molekul air, gula, asam amino, dan oksigen, yang intinya merupakan kombinasi dari atom-atom Carbon, Hidrogen, Oksigen dan Nitrogen. Selain itu, sel juga membutuhkan atom-atom lain untuk kebutuhan proses-proses di dalam sel, seperti Na, D, Ca, K, Fe dan lain sebagainya bergantung jenis selnya.
Setelah tersedia bahan-bahan dasar tersebut, maka mulailah proses produksi protein oleh sel, dalam bentuk kombinasi atom-atom organik tersebut.

Protein adalah zat yang sangat dominan di dalam tubuh makhluk hidup termasuk manusia. Seperlima bagian tubuh manusia terdiri dari protein. Bagian terbesar adalah air.

Separo jumlah protein terdapat di otot, seperlimanya ada di tulang dan tulang rawan, sepersepuluhnya di kulit, dan selebihnya ada di jaringan-jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, adalah protein. Semua itu diproduksi oleh sel-sel di dalam tubuh kita.

Padahal, setiap jenis sel bertugas untuk memproduksi jenis protein yang berbeda-beda. Sel rambut berbeda dengan sel hati, berbeda dengan sel saraf, dan berbeda pula dengan sel darah, dan seterusnya.

Sel rambut misalnya, perlu memproduksi protein yang disebut Keratin. Protein ini juga terdapat di dalam sel-sel kuku. Pada sel darah (hemoglobin) terdapat protein albumin. Pada serat otot diperlukan protein Miosin. Jaringan ikat di seluruh tubuh memerlukan protein yang bernama Kolagen. Dan seterusnya.

Bagaimanakah sel-sel tersebut bisa memproduksi protein yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi selnya? Ternyata perintahnya muncul dari inti sel. Nggak tahu darimana asal mulanya, di dalam inti sel itu ada perintah-perintah (program atau software) yang menyuruh untuk membentuk protein-protein sesuai kebutuhan selnya.

Perintah itu berbentuk kode-kode protein juga, yang disebut sebagai DNA (Deoxyribo Nudeic Acid). Perintah itu diterjemahkan oleh jenis protein lain yang disebut sebagai RNA (Ribonudeic Acid). Berdasarkan perintah itulah 'mesin produksi' di dalam sel membuat protein-protein tertentu.

Benar tidaknya 'perintah', dilaksanakan bergantung kepada benar tidaknya 'mesin produksi' menyusun komponen-komponen protein, yang komposisinya bisa berjuta-juta kemungkinan. Salah langkah sekali saja, akan menyebabkan protein tersebut cacat dan tidak bisa digunakan atau malah bersifat racun bagi tubuh.

Demikian rumitnya, proses produksi yang berlangsung di dalam sel tersebut. Dan semua itu berlangsung di luar kesadaran si makhluk hidup yang bersangkutan. Kendalinya ada di dalam inti sel berupa program-program 'Operating System'

Dan bukan hanya di dalam sel, kerumitan dan kecanggihan itu berlangsung. Tapi juga terjadi dalam bentuk koordinasi, antar sel. Sebab, sejumlah sel akan berkoordinasi membentuk jaringan.

Jaringan kulit misalnya, terbentuk dari jutaan atau bahkan miliaran sel-sel kulit. Ada kulit ari di bagian paling luar tubuh. Ada juga kulit jangat di bagian bawahnya, lebih ke dalam. Siapakah yang memerintahkan sel-sel kulit itu bekerjasama sehingga terbentuk jaringan kulit yang melindungi tubuh kita dari sengatan matahari dan udara panas?

Jika masing-masing sel kulit itu tidak mau berkoordinasi membentuk jaringan, maka sungguh kita akan mengalami problem dalam kehidupan dan kesehatan kita. Atau, jika sel-sel kulit itu mengalami penyimpangan dalam memproduksi dirinya, kemudian berkembang biak tidak terkendali, maka manusia akan mengalami apa yang dinamakan kanker kulit.

Hal yang sama juga terjadi pada sel-sel darah. Di dalam setiap inti sel darah itu terdapat perintah-perintah dalam bentuk software yang menjadikan sel-sel darah berkembang biak menjadi sel darah merah, sel darah putih, plasma darah, dan berbagai macam komponennya, sehingga darah berfungsi normal.

Jika terjadi penyimpangan sedikit saja, maka kita bakal mengalami persoalan yang besar dalam kehidupan kita. Penderita kanker darah (leukimia) adalah salah satu contoh, dimana produksi sel-sel darahnya mengalami penyimpangan. Jumlah produksi darah putihnya lebih banyak dibandingkan dengan darah merahnya. Maka, penderitaan yang sangat besar menimpa orang-orang yang menderita leukimia.

Demikian pula sel-sel tulang, sel-sel otot, mata, hidung, telinga, jantung, liver, saraf-saraf, sampai ke otak. Semuanya berkembang secara terkendali oleh sebuah pusat komando yang ada di dalam sel-sel tersebut. Sistem komando itu semakin luas dan semakin meluas.

Dari miliaran sel berkoordinasi membentuk jaringan-jaringan. Dari berbagai macam jaringan membentuk organ-organ. Dari berbagai macam organ terbentuklah tubuh manusia. Seluruh tubuh manusia, kemudian membentuk suatu koordinasi yang luar biasa canggih dan rumit lewat koordinasi otak manusia dan sistem saraf.

Jadi, sistem komando di dalam tubuh manusia merupakan gabungan antara pusat komando di dalam miliaran sel-sel tubuhnya dengan pusat komando yang berada di otak dan sistem sarafnya. Kesempurnaan fungsi kehidupan seseorang ditentukan oleh kesempurnaan komando alias Software yang tersebar di miliaran sel sampai jaringan otaknya.

Nah, kini kita mulai memperoleh gambaran betapa badan kita dikendalikan oleh sebuah kekuatan software (pemrograman) yang demikian canggih. Software itu dominan di dalam tubuh kita, dan terbagi merata di seluruh penjuru tubuh kita mulai dari yang terkecil sampai yang paling besar. Dan uniknya, beroperasinya perintah-perintah itu di luar kesadaran kita. Ada suatu 'KECERDASAN' super hebat dan superteliti yang mengontrol langsung proses-proses komando itu dengan kedisplinan sangat tinggi.

Agaknya, keterlaluan kalau kita mengatakan bahwa seluruh proses itu terjadi dengan sendirinya. Apalagi terjadi secara kebetulan. Karena proses-proses itu berlangsung dengan ‘sangat cerdas’, dan bisa memilih proses-proses yang bermanfaat saja untuk kelangsungan hidup manusia.

Tidak ada pilihan lain bagi kita untuk mengatakan, bahwa seluruh software itu dikendalikan oleh DZAT YANG MAHA CERDAS. Yang telah dengan sengaja MENCIPTAKAN dan sekaligus MENGENDALIKAN makhlukNya. Dialah ALLAH RABBUL IZZATI.

'Sang Kecerdasan' itu mengendalikan hidup-matinya manusia lewat 'Program Komando' tersebut di dalam tubuh seseorang. Dia juga lewat program itu menjadikan seseorang sehat atau sakit berdasarkan sempurna atau tidaknya komando yang diberikan dalam proses reaksi sel-sel tubuhnya.

Dia juga yang mengendalikan manusia dalam berbagai aktivitas yang kontrolnya di luar kesadaran manusia, mulai dari jantung yang terus berdenyut, liver, usus, sistem saraf, sistem otak, sampai tertidur atau terjaganya seseorang. Semua itu terjadi dan terkontrol lewat fungsi Ruh yang ada di dalam diri seorang manusia. Ruh lah yang menjadi program komando itu.

Mudah-mudahan dengan uraian ringkas di atas kita bisa menangkap posisi Ruh di dalam diri seorang manusia. Bahwa, ternyata Ruh Nya telah 'menyebar' dan 'meresap' ke seluruh penjuru tubuh kita, sebagai satu kesatuan yang utuh.

Mulai dari bagian yang paling halus sampai bagian yang paling kasar. Dari bagian yang paling dalam sampai terluar. Bagian yang paling kelihatan sampai yang paling rahasia. Ruh Nya telah 'meliputi' dan 'merendam' seluruh eksistensi tubuh kita. Tidak ada bagian terkecil pun dari tubuh kita yang tidak terliputi oleh Ruh Nya. Dan tidak ada satu pun fungsi kehidupan yang tidak terkontrol oleh Ruh Nya.

QS As Sajdah (32) : 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya RuhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Di ayat yang berbeda Allah mengatakan bahwa Dia dan Ruh Nya berada lebih dekat kepada kita dari pada urat leher kita sendiri. Bayangkan, urat leher itu ada di dalam tubuh kita, Allah mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari itu. Dan memang begitulah kondisinya.

Tentu saja Dia lebih dekat dari urat leher, lha wong seluruh proses dalam pembentukan urat leher itu sendiri dikendalikan oleh Allah lewat sel-sel pembentuk urat leher tersebut. Bahkan kalau kita mau memperhalus lagi keberadaanNya, seluruh partikel-partikel penyusun sel itu juga terkontrol oleh KekuasaanNya.

Namun, dalam kaitannya dengan posisi Ruh, kita kali ini membatasi diri pada komponen-komponen makhluk hidup saja. Dan bagian yang paling kecil dari kehidupan tersebut adalah sistem yang terdapat di dalam sel. Lebih kecil daripada sel, sudah bukan wilayah Ruh Manusia lagi, sebab ia sudah berupa benda mati. Sedangkan Ruh ditiupkan Nya kepada manusia sebagai makhluk hidup yang sempurna kejadiannya.

Ya, kesempurnaan kejadian merupakan Salah satu syarat ditiupkan RuhNya kepada makhluk hidup. Sehingga Allah tidak pernah dikabarkan meniupkan Ruh Nya kepada binatang, misalnya. Kenapa, karena tubuh binatang diciptakan oleh Allah tidak sesempurna tubuh manusia.

Infrastruktur yang ada di dalam tubuh binatang tidak memungkinkan fungsi Ruh berjalan dengan sempurna di dalamnya. Binatang hanya memperoleh sebagian kecil dari sifat-sifat Allah yang 'tergambar' dalam Ruh-Nya,. dala'm skala makhluk.

Namun demikian, potensi 'hidup' binatang juga Hayyat ('Hidup'). Dalam terimbas dari sifat-sifat Allah , skala yang jauh dari kesempurnaan seorang manusia. Maka potensi kehidupan yang 'ditiupkan' kepada binatang itu tidak bisa menimbulkan potensi akal budi dalam dirinya. Paling tinggi, hanya sebatas insting atau naluri belaka. Sifat-sifat Allah tidak mengimbas secara komplet pada diri binatang, sebagaimana terjadi pada manusia. Dan karena itu tidak disebut sebagai Ruh Nya.

Demikian pula pada tumbuhan. Potensi kehidupan Ruh mengimbas kepadanya dalam skala yang lebih kecil lagi, disebabkan oleh infrastuktur badannya yang tidak sempurna. Bahkan, kesempurnaannya jauh di bawah binatang.

Sebagimana saya kutipkan di depan, bahwa Ruh hanya ditiupkan Allah kepada makhluk yang infrastrukturnya sempurna. Itu diulang berkali-kali dalam firman yang berbeda. Di antaranya QS. Hijr (15) : 29 dan Shaad (38) : 72. Di bawah. ini Allah beffirman dalam Salah satu ayatNya, tentang kesempurnaan manusia.

QS. Israa (17) : 70.
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

2. Posisi Jiwa
Mudah-mudahan kita telah memiliki persepsi yang agak jelas tentang Ruh. Tentu saja, masih begitu banyak rahasia yang tersimpan di dalam Ruh, terutama berkaitan dengan dzatnya. Dan ini, memang telah diinformasikan Allah kepada kita lewat firmanNya, berikut ini.

QS. Al Israa' (17) : 85
Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Tapi, sedikitnya ilmu Allah sudah demikian banyaknya buat kita. Dan, Allah tidak pernah secara tegas dan mutlak melarang kita untuk mempelajari esensi Ruh itu. Hanya diberi catatan saja, bahwa apa yang kita ketahui tentang Ruh itu hanya sebagian kecil saja dari esensi Ruh yang sangat misterius.

Informasi tentang Jiwa lebih banyak lagi bisa kita dapatkan di dalam Al-Qur’an. Posisi Jiwa di dalam tubuh manusia agak berbeda dengan posisi Ruh. Meskipun ada kemiripan tertentu yang seringkali membuat kita rancu dalam memahaminya.

Dalam analogi komputer atau robot, Ruh dan Jiwa adalah sama-sama software (program perangkat lunak). Hanya bedanya, Ruh adalah Program Dasar yang berkaitan dengan Sistem Operasinya (Operating System), sedangkan Jiwa adalah program aplikasi. Kedua-duanya ada di dalam otak komputer. Tapi berada pada sektor atau lokasi yang berbeda.

Perbedaan lainnya lagi, Operating System bertumpu dan saling mempengaruhi dengan infra struktur komputer. Sedangkan program. aplikasi justru bersandar kepada Operating System tersebut.

Demikian pula Ruh dan Jiwa. Ruh memiliki skala yang jauh lebih luas daripada Jiwa. Wilayah cakupan Ruh meluas sampai kepada seluruh jaringan infrastruktur dalam tubuh manusia. Sampai pada unit terkecil dari kehidupan, yaitu sel. Kemudian, berdasar infrastruktur itu Ruh bekerja dengan software nya yang canggih untuk mengatur fungsi dasar kehidupan.

Sedangkan Jiwa adalah 'program aplikasi' yang bekerja pada sistem kerja Ruh. Jadi, jika Ruh tidak berfungsi, Jiwa juga tidak bisa berfungsi. Tapi, sebaliknya, kalau Jiwa tidak bekerja, Ruh. masih tetap bisa bekerja.

Kalau diurutkan tingkatan pengaruhnya, adalah sebagai berikut. Ruh adalah yang memiliki pengaruh paling besar, karena ia berpengaruh terhadap kerja Jiwa dan badan sekaligus. Jika Ruh tidak berfungsi, maka badan dan Jiwa juga tidak berfungsi. Keduanya tidak hidup, alias mati.

Urutan kedua adalah Jiwa. Jiwa memiliki pengaruh terhadap badan. Tapi tidak memiliki pengaruh terhadap Ruh. Justru ia terpengaruh oleh fungsi kerja Ruh. Namun, pengaruh Jiwa terhadap badan tidaklah mutlak sebagaimana Ruh.

Ketika Jiwa kita kuat, maka badan akan ikut bertambah kuat. Dan jika Jiwa kita lemah, badan kita juga akan ikut melemah. Tapi melemahnya badan itu tidak sampai nol, melainkan sampai pada fungsi dasarnya yang menjadi wilayah kekuasaan Ruh.

Misalnya, Jiwa yang. melemah menyebabkan seseorang menjadi pingsan. Ketika pingsan itu pengaruh Jiwa menjadi nol, tapi badan tidak mati, karena masih ada fungsi Ruh yang bekerja pada badan.

Jiwa juga bisa keluar masuk (on off) ke badan kita, sepanjang Ruh masih bekerja pada keduanya. Ini mirip dengan kerja komputer. Program aplikasi bisa berjalan atau tidak, ketika operating system nya bekerja. Kalau program aplikasi tidak dijalankan, komputer akan standby pada sistem operasinya saja. Tidak berguna memang, tapi tetap hidup (on). Komputer baru berguna kembali kalau dioperasikan pada program aplikasinya.

Manusia juga menjadi 'tidak berguna'. Ketika fungsi Jiwanya tidak berjalan, meskipun ia belum mati. Mungkin ia berada dalam keadaan tidur, pingsan atau koma. Dalam kondisi demikian, manusia tidak dimintai pertanggung jawaban apa pun, sebab fungsi Jiwanya tidak berjalan.

Orang gila juga digolongkan sebagai orang yang kehilangan fungsi Jiwanya tidak dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya. Bagaikan komputer yang program aplikasinya kacau kena virus misalnya. Maka, kerja komputer itu pun tidak bisa dipertangung jawabkan.

Dimanakah pusat pengendalian program aplikasi pada komputer? Berada di otaknya Central Processing Unit, CPU. Dimanakah pusat pengendalian jiwa berada? Juga ada di otak seorang manusia. ‘Program-program aplikasi’ dalam Jiwa manusia ditempatkan di sektor-sektor tertentu dalam otaknya.

Kerusakan program aplikasi itu tergantung kepada dua hal. Yaitu, kerusakan pada sektornya (bad sector), dan kerusakan pada susunan programnya.

Demikian pula pada manusia. Jika seseorang mengalami kerusakan sel otak, maka orang itu juga akan mengalami gangguan atau bahkan kerusakan pada Jiwanya. Di lain pihak, kerusakan Jiwa juga bakal terjadi jika susunan program (kandungan perintah di Softwarenya) mengalami kekacauan. Pembahasan lebih jauh, akan kita lakukan pada bagian-bagian berikutnya.

Pada kesempatan ini saya cuma ingin menyampaikan sepenggal kesimpulan, bahwa posisi Jiwa berpusat di otak kita pada sektor-sektor yang berbeda dengan Ruh. Tapi, sebagaimana Ruh, pengaruh Jiwa juga menyebar sampai ke seluruh penjuru badan kita. Hanya saja, lebih dominan di wilayah sadar. Sedangkan Ruh berpengaruh lebih luas sampai ke wilayah bawah sadar.

Ketika berada dalam kondisi sadar, Jiwa berpengaruh pada seluruh aktivitas kita. Tapi, begitu kesadaran kita hilang, maka kendalinya bergeser ke peranan Ruh. Jiwa masih tetap ‘hidup’, badan juga masih tetap 'hidup'. tetapi keduanya tidak saling mempengaruhi satu sama lain, sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Az Zumar (39) : 42.

Akal dan Kesadaran

Pemahaman berikutnya untuk menguak misteri Jiwa dan Ruh adalah berkaitan dengan Akal dan Kesadaran. Keberadaan Jiwa terkait sangat erat dengan akal. Dan kemudian juga terkait erat dengan kesadaran seseorang.

Hal itu bisa kita amati langsung dari sekitar kita. Orang yang Jiwanya terganggu, pasti juga mengalami gangguan pada akal dan kesadarannya, dalam berbagai skalanya. Bergantung pada jenis gangguan Jiwanya.

Ada yang ringan, sehingga gangguan pada akal dan kesadarannya ringan. Namun ada juga gangguan Jiwa yang berat, sehingga gangguan akal dan kesadarannya juga berat.

Orang yang stress dalam skala ringan, misalnya, pasti akan mengalami gangguan fungsi akal sehatnya, meskipun juga ringan. Biasanya, mereka uring-uringan, emosi gampang naik, sampai berkurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya.

Dalam skala yang lebih berat depresi kehilangan akal sehat itu bisa semakin memburuk. Orang tersebut bisa semakin sulit untuk diajak berpikir. Bahkan ada yang demikian cuek terhadap lingkungannya. Menyendiri. Ngomel-ngomel tak karuan jluntrungannya. Yang kemudian menjurus pada ‘hilang’ kesadaran, meskipun dia terjaga. Kontrol dirinya bisa tidak bekerja dengan baik lagi.

Barangkali, sebagian sifat-sifat kemanusiaanya juga mulai menurun. Misalnya, hilang rasa malunya, tidak memiliki rasa takut, menjadi sadistis, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, gangguan Jiwa menyebabkan berkurangnya akal sehat dan kesadaran kemanusiaannya. Bahkan, sampai hilang sama sekali.

Namun dia tetap 'hidup' dan 'terjaga' ' Di sini kita melihat betapa ada dua 'fungsi kehidupan' dalam diri manusia yang bisa bekerja secara terpisah. Jiwanya mengalami masalah, tapi Ruhnya tetap 'bekerja' untuk menjaga fungsi-fungsi dasar kehidupan yang melekat pada badannya.

Akal

Agar terjadi pembahasan yang terfokus tentang akal dan kesadaran, maka saya kira kita perlu terlebih dahulu memberikan batasan alias definisi kepada yang disebut akal dan kesadaran.

Apakah sebenarnya yang disebut ‘Akal’? kalau kita 'rasakan' dan mencermati dalam diri kita masing-masing, saya kira kita akan bersepakat kalau mendefinisikan 'Akal' sebagai : 'seluruh pontensi kecerdasan' yang dimiliki oleh seseorang.

Tidak peduli, seseorang itu berusia berapa, latar belakang pendidikannya apa, laki-laki atau perempuan, cacat atau tidak, dan lain sebagainya. Bahwa 'akal' seseorang ditunjukkan oleh seluruh potensi kecerdasan yang dia miliki. Semakin cerdas dia, semakin tinggi potensi akalnya. Dan semakin tidak cerdas dia, maka semakin rendah potensi akalnya.

Kini, persepsi tentang kecerdasan seseorang bukan hanya terkait dengan kecerdasan intelektual. Melainkan juga melibatkan kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Bagaimana cara seseorang menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, bisa menunjukkan seberapa kuat akalnya. Atau dengan kata lain, menunjukkan seberapa besar 'potensi kecerdasan' yang dia miliki.

Potensi kecerdasan meliputi : kemampuan memahami, kemampuan menganalisa, kemampuan membuat keputusan, sampai pada kemampuan untuk menjalankan (mengeksekusi). Dalam proses itu, yang terlibat bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan juga kecerdasan emosional dan spiritual.

Pada dua poin pertama kemampuan memahami dan menganalisa barangkali sangat dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual. Seseorang bisa memahami sesuatu permasalahan dengan baik, hanya jika kecerdasan intelektualnya cukup baik. Jika tidak, dia akan mengalami penyimpangan pemahaman dari yang semestinya.

Karena itu, malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu Allah kepada para rasul, memiliki akal yang kuat dan kecerdasan sangat tinggi. Hal itu dikemukakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Jika tidak, maka apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada manusia bakal mengalami distorsi pemahaman.

QS. An Najm (53) : 6
Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

Begitulah potensi akal dan kecerdasan intelektual berperan pada pemahaman permasalahan. Sedangkan 'kecerdasan emosional' dan 'spiritual' akan sangat menentukan pada langkah berikutnya poin ketiga dan keempat yaitu pengambilan keputusan dan menjalankannya.

Sebuah keputusan yang baik bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan juga oleh kematangan emosional dan spiritual seseorang. Meskipun, pintar, kalau tidak matang secara emosional dan spiritual, maka keputusan yang dibuat akan berpotensi menyulut masalah.

Misalnya, keputusan yang diambil dalam kondisi marah. Atau keputusan yang diambil dalam kondisi sedang stress tinggi, tergesa-gesa, hanya beorientasi pada kepentingan diri sendiri, dan lain sebagainya.

Apalagi, untuk mengeksekusi keputusan itu, dan kemudian menjalankannya. Betul-betul tidak cukup hanya kecerdasan intelektual. Karena, biasanya kita lantas berhubungan dengan berbagai variabel di luar diri kita. Di situlah dibutuhkan kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi. Jika tidak, maka interaksi yang terjadi bakal berpotensi menyulut persoalan yang berkelanjutan. Disebabkan oleh kurang bijaksana dalam menjalankan keputusan tersebut.

Maka, pada tahap ini saya kira kita mulai bisa menarik kesimpulan, bahwa yang disebut 'Akal' adalah seluruh potensi kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang. Baik melibatkan kecerdasan intelektual, emosional, maupun spiritualnya.

Selain itu, kita menangkap kefahaman bahwa potensi kecerdasan bisa berubah-ubah kualitasnya semakin cerdas atau sebaliknya. Dan, saya kira kita juga sepakat bahwa potensi kecerdasan masing-masing orang berbeda-beda. Semua itu berjalan seiring dengan proses pembelajaran dan pengalaman hidup yang telah dijalaninya.

Kesadaran

Apakah yang dimaksud dengan kesadaran? Dalam konteks ini, kita membedakan antara 'sadar' dengan ‘terjaga’. Sadar terkait dengan 'menyadari' dan 'memahami' sesuatu yang terjadi pada dirinya atau lingkungan sekitarnya. Sedangkan terjaga adalah sekadar 'melek' alias tidak tertidur atau tidak pingsan.

Boleh jadi, seseorang yang terjaga tidak menyadari dan tidak memahami segala sesuatu yang terjadi pada dirinya. Atau lingkungan sekitarnya. Misalnya, pada orang yang sedang mabuk, orang yang sedang lupa, atau sedang melamun. Jadi, kita bisa memahami bahwa 'tersadar' dan ‘terjaga’ adalah kondisi berbeda.

Dalam dunia medis dikenal derajat kesadaran seseorang menurut skala Glasgow (Glasgow Coma Scale) yang mengukur kesadaran (conciousness) seseorang berdasarkan reflek pada mata, ucapan, dan motorik alias gerakan.

Seseorang dikatakan memiliki kesadaran penuh alias normal ketika reflek matanya memiliki nilai 4, respon verbal alias ucapannya memperoleh nilai 5, dan respon motoriknya bernilai 6. Sebaliknya, seseorang dikatakan telah koma (mati suri) jika semua nilainya 1. Baik pada respon mata, verbal, maupun motoriknya. Bagaimana cara menilai tingkat kesadaran tersebut? Bisa mengikuti pedoman dalam tabel berikut ini.

Glasgow Coma Scale

(Eye, Verbal, Motoric scale: 4, 5, 6)
Mata 4 : membuka mata tanpa stimulasi dalam kondisi terjaga penuh.
3 : bisa membuka mata jika distimulasi ditepuk tepuk badannya
2 : bisa membuka mata hanya jika disakiti
1 : tidak bisa membuka mata no respon

Verbal 5 : bisa menjawab sesuai yang ditanyakan
4 : bisa menjawab dengan kalimat, tapi tidak jelas.
3 : bisa menjawab dengan kata, tapi tidak jelas.
2 : hanya bisa menjawab dengan erangan
1 : no respond

Motorik6 : bisa bergerak sesuai yang diperintahkan
5 : bisa bergerak ketika distimulasi melokalisir menepis stimulasi yang menyakiti
4 : bisa bergerak ketika distimulasi sakit, tapi bersifat withdrawal menghindari sumber sakit.
3 : bisa bergerak ketika disakiti, tapi tidak mampu menghindar, cuma menekuk sendi
2 : bisa bergerak ketika disakiti, tapi cuma reflek gerak sederhana meluruskan sendi
1 : no respond

Glasgow mencoba mengkaitkan antara kesadaran seseorang dengan reflek fisik. Jika fisiknya tidak bisa merespon stimulasi dengan baik, maka secara bertahap kesadaran orang tersebut dianggap menurun, sampai pada suatu batas terendahnya yaitu koma alias mati suri.

Total nilai antara respon mata, verbal, dan motorik diberi angka 15. Jika seseorang memperoleh nilai akumulatif 15 berarti orang tersebut berada dalam kondisi 'sadar' alias 'terjaga' penuh. Jika di bawah angka 8, ia sudah dikategorikan sebagai koma.

Akan tetapi, orang yang memiliki angka tertinggi dalam skala Glasgow sebenarnya sekadar menggambarkan fungsi kesadaran dalam arti 'terjaga'. Dan itu, hanya sebagian saja dari fungsi kesadaran. Sebab, nilai tersebut belum menggambarkan nilai-nilai luhur dari 'Kesadaran' seseorang.

Misalnya, apakah orang yang 'terjaga' itu sedang bahagia, ataukah kecewa. Ia sedang tentram ataukah merasa gelisah. Apakah ia sedang penuh rasa cinta ataukah penuh dendam. Ia bisa membuat keputusan dengan sikap bijaksana ataukah marah dan putus asa. Dan lain sebagainya.

Apa yang diukur Glasgow adalah sekadar nilai kuantitatif 'Kesadaran'. Sedangkan fungsi luhur adalah bersifat kualitatif. Pengukuran fungsi luhur seseorang biasanya diukur dengan metode psikotest.

Kesadaran yang bersifat kualitatif ini sangat berkait dengan fungsi akal seseorang. Kualitas kesadaran yang baik, menunjukkan fungsi akal yang juga baik. Sedangkan kualitas kesadaran yang jelek, menggambarkan fungsi akal yang juga jelek.

Dengan kata lain, secara umum, fungsi kesadaran sangat berimpit dengan fungsi akal. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa keduanya adalah identik. Karena itu, kesadaran dan akal bisa menjadi parameter atas kualitas Jiwa seseorang.

Kualitas akal dan kesadaraan yang baik, menggambarkan fungsi jiwanya baik. Sebaliknya kualitas akal dan kesadaran yang jelek menggambarkan fungsi Jiwa yang jelek. Secara ekstrim dikatakan, jika akal dan kesadarannya rusak, maka Jiwanya pun rusak. Dan begitulah sebaliknya.

Maka, pada kesempatan ini kita memperoleh kesimpulan bahwa 'Akal' dan ‘Kesadaran’ adalah fungsi utama pada Jiwa seseorang. Seseorang dikatakan berJiwa sehat, jika akal dan kesadarannya berfungsi secara sehat. Dan Jiwa dikatakan tidak sehat jika akal dan kesadaran seseorang sedang tidak sehat.

Untuk memahaminya lebih jauh, kita akan membahasnya di bagian-bagian berikutnya. Ternyata kualitas akal, kesadaran dan Jiwa seseorang tidaklah statis, melainkan bertingkat-tingkat seiring dengan kualitas kesadarannya. Ada 4 tingkat kesadaran pada diri kita, yang memberikan gambaran tentang kualitas Jiwa.

Kesadaran Inderawi

Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa yang kita maksud 'Kesadaran' bukan sekadar melek atau terjaga, tetapi kemampuan 'memahami dan merasakan' suatu interaksi.

Kesadaran inderawi adalah tingkat kesadaran terendah dalam diri seseorang yang berfungsi ketika ia melakukan interaksi tertentu dengan lingkungannya. Karena kesadaran mewakili fungsi Jiwa, maka tingkatan kesadaran inderawi juga menggambarkan kualitas Jiwa yang terendah.

Seseorang dikatakan berada dalam kesadaran inderawinya jika ia menyadari dan bisa memahami diri dan lingkungan sekitarnya dengan bertumpu pada fungsi panca inderanya.

Ia bisa memahami apa yang dilihatnya. Ia bisa mengerti segala yang didengarnya. la bisa menikmati apa-apa yang dibau oleh indera penciumannya, dikecap oleh lidahnya, dan dirasakan oleh kulitnya.

Ketika seseorang berada pada kesadaran inderawinya, maka ia memperoleh nuansa pemahaman terhadap segala yang terjadi sangat 'riil'. Dan cenderung materialistik. Seringkali, di antara kita bertumpu kepada kemampuan inderawi secara berlebihan.

Kadang kita hanya percaya kepada sesuatu jika sesuatu itu bisa dijangkau oleh indera. Kita hanya bisa memahami jika telah melihat dengan mata kepala sendiri, atau telah mendengarnya, mencium dan merasakannya. Sesuatu yang tidak terdeteksi oleh panca indera, bakal tidak kita akui sebagai keberadaan. Atau setidak-tidaknya, kita tidak merasa perlu untuk memikirkannya, dan kemudian mengacuhkannya.

Orang yang demikian sebenarnya telah terjebak pada pola pikir materialistik dan terbelakang. Kenapa demikian? Sebab, ternyata sistem kerja inderawi kita sangatlah terbatas. Sehingga, lucu juga, kalau kita bergantung kepada yang sangat terbatas itu untuk memahami realitas. Pasti hasilnya juga akan begitu terbatas dan menipu. Semakin rendah kualitas inderawi kita, maka semakin jelek juga hasil pemahaman kita.

Sebagai contoh, apa yang terjadi pada orang yang buta warna. Kalau seorang penderita buta warna bersikeras bahwa realitas warna yang ada di sekitarnya adalah seperti kefahamannya, maka Anda pasti akan menertawakannya. Sebab orang yang buta warna memang tidak faham bahwa alam sekitarnya berwarna-warni.

Pada orang yang mengalami buta warna total, ia hanya bisa memahami dunia dalam warna hitam-putih atau abu-abu saja. Gradasi warna merah, jingga, kuning, sampai putih, baginya hanya terlihat sebagai warna abu-abu tua sampai abu-abu muda, dan paling ekstrim adalah putih. Atau sama sekali tidak berwarna, alias hitam.

Padahal bagi kita yang tidak buta warna kita melihat bahwa dunia ini berwarna warni demikian indah. Tidak seperti yang dia fahami lewat keterbatasan penglihatannya. Ia telah terjebak pada keterbatasannya sendiri. Dan bersikeras bahwa alam sekitar adalah seperti yang dia fahami.

Kalau kita mau introspeksi, sebenarnya penglihatan kita pun demikian terbatasnya. Bahkan, pada orang yang memiliki penglihatan paling 'sempurna' sekalipun. Karena, sistem kerja penglihatan kita ternyata demikian menipu. Tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi. Apa yang kita lihat sebenarnya bukan realitas.

Sesungguhnya antara kenyataan dan apa yang kita lihat atau kita pahami adalah 2 hal yang berbeda. Kita bukan melihat benda yang sesungguhnya, kecuali sekadar bayang-bayang yang tertangkap oleh lensa mata kita, diteruskan ke retina, dan kemudian ke otak sebagai pulsa-pulsa listrik belaka.

Sehingga, pusat penglihatan di otak kita itu pun sebenarnya tidak pernah berinteraksi langsung dengan benda yang kita lihat. Sel penglihatan di otak hanya berinteraksi dengan pulsa-pulsa listrik yang berasal dari retina. Jadi kalau pulsa-pulsa listrik itu mengalami distorsi, maka pusat penglihatan itu bakal salah dalam memahami penglihatan tersebut.

Jadi, kefahaman yang disimpulkan oleh sel penglihatan itu sangat bergantung kepada kualitas jalur penglihatan mulai dari lensa mata, retina, saraf-saraf penglihatan sampai kepada sel-sel otak yang terkait dengan proses melihat itu.

Padahal, saya kira kita tahu, bahwa ketajaman lensa mata kita tidaklah terlalu tinggi. Misalnya, lensa mata kita tidak mampu melihat benda-benda yang terlalu kecil. Seperti pori-pori benda, bakteri, virus, sel, molekul, atom, dan apalagi partikel-partikel sub atomik seperti proton, neutron, dan elektron.

Lensa mata manusia juga hanya bisa menangkap benda-benda yang cukup besar. Namun, tidak terlalu besar. Jika terlalu besar, juga tidak bisa terlihat. Gajah di pelupuk mata misalnya, pasti malah tidak kelihatan. Jadi, yang sedang-sedang saja.

Belum lagi, melihat dalam kegelapan. Pasti juga tidak mampu. Atau sebaliknya, melihat di tempat yang terlalu terang, malah silau. Singkat kata, penglihatan kita begitu terbatasnya sehingga banyak hal yang tidak bisa kita pahami dengan hanya sekedar melihat.

Di kali lain, justru penglihatan kita itu telah menipu, dan tidak 'menceritakan' yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, kita melihat gunung berwarna biru, padahal kalau didekati ia berwarna hijau dedaunan. Bintang di langit terlihat kecil-kecil dan berkelap-kelip, padahal ia adalah benda raksasa yang berpijar seperti matahari. Kita melihat fatamorgana di padang pasir, padahal ia hanyalah uap air yang terbentuk karena panas yang begitu tinggi di permukaan pasir itu. Dan seterusnya. Mata kita sungguh tidak bisa kita andalkan untuk memahami kenyataan. Karena ia sering sekali ‘menipu’ kefahaman kita.

Demikian pula, indera yang lain seperti penciuman, pendengaran, pengecap dan peraba. Mereka tidak kalah sering menipu kita.

Jika suatu saat, kita ke rumah sakit, kita bakal membau aroma obat-obatan yang menyengat. Tapi jika kita berada di sana dalam waktu yang cukup lama, tiba-tiba kita tidak merasa membau aroma yang menyengat lagi. Kenapa demikian? Karena hidung kita telah beradaptasi. Jadi ia telah menipu kefahaman kita. Seakan-akan sudah tidak ada aroma obat lagi, padahal sebenarnya sensitivitas penciuman kita yang menurun karena sudah beradaptasi alias berkompromi.

Kulit sebagai indera perasa juga tidak kalah 'pembohongnya'. Kalau kita berkali-kali meraba benda kasar, maka ketika kita meraba benda halus kepekaannya juga menjadi berkurang. Atau, kita mencelupkan tangan kita ke dalam air dingin beberapa waktu, kemudian ganti mencelupkannya ke air hangat. Maka, kita seperti merasakan mencelupkan tangan ke air panas.

Kenapa demikian? Karena, kulit kita juga melakukan adaptasi dan 'kompromi' terhadap lingkunganya. Jadi, ia 'plin-plan' dan suka menipu. Karena itu, percaya yang terlalu berlebihan kepada panca indera kita juga bisa menyebabkan kekeliruan dalam memahami suatu kenyataan.

Itulah sebabnya, kesadaran alias kefahaman yang dibentuk hanya berdasarkan panca indera bakal menjebak kita dalam kekeliruan yang sangat mendasar. Panca indera tidak cukup digunakan untuk memahami kenyataan. Karena ternyata, kenyataan yang terhampar di sekitar kita berbeda dengan yang tertangkap oleh mata, telinga dan seluruh panca indera.

Ya, Kesadaran Inderawi adalah kesadaran yang paling rendah tingkatannya. Hanya anak-anak yang masih kecil saja yang bertumpu sepenuhnya kepada pemahaman panca inderanya untuk membangun kefahaman terhadap realitas di sekitarnya. Orang yang lebih dewasa pasti akan bertumpu pada kesadaran yang lebih tinggi dari sekadar Kesadaran Inderawi.

Kesadaran Rohani/ Ilmiah

Seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman, dan sudah makan asam garam kehidupan bakal berusaha memahami realitas kehidupan ini dengan melakukan eksplorasi lebih jauh, daripada sekadar bertumpu pada panca indera. Mereka akan mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang lain. Bahkan, akan menyimpulkan dari berbagai penelitian yang berkait dengan masalah tersebut.

Khasanah pengalaman manusia dalam menghadapi persoalan hidupnya itulah yang kemudian disebut sebagai ilmu pengetahuan. Ia dikembangkan berdasarkan rasionalitas persoalan yang berkembang dengan kebutuhan kehidupan manusia.

Maka, orang yang telah menggunakan berbagai khasanah keilmuan untuk memahami realitas hidupnya, ia telah mencapai kesadaran tingkat kedua yaitu Kesadaran Rasional alias Kesadaran Ilmiah.
Dia tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada hasil pengamatan panca inderanya. Melainkan membandingkan dengan hasil-hasil pengamatan yang lain, Misalnya melalui alat-alat bantu yang lebih canggih. Atau analisa-analisa matematis dan perhitungan keilmuan lainnya. Dia, karenanya lantas mendapatkan kesimpulan yang lebih 'valid' dan lebih mendekati kenyataan dibandingkan sekadar menggunakan panca indera.

Sebagai contoh. Kalau kita menggunakan mata untuk mengamati sebatang logam, maka kita akan mengatakan bahwa logam itu adalah benda padat yang tidak berlubang-lubang, tidak tembus penglihatan. Akan tetapi jika kita menggunakan sinar x atau mikroskop elektron untuk 'melihat' sepotong logam itu, kita bakal melihat sesuatu yang berbeda, bahwa logam tersebut bukanlah benda yang 'terlalu padat'. la benda yang berpori-pori dan ‘keropos’.

Contoh lainnya, kita tidak bisa melihat janin di dalam rahim seorang wanita, dengan mata telanjang. Tapi, kini kita bisa 'melihatnya' dengan menggunakan alat bantu, USG. Kefahamannya tentang pekembangan janin di dalam rahim menjadi jauh lebih baik ketimbang hanya sekadar menggunakan mata telanjang. Atau menggunakan teropong suara yang ditempelkan ke perut ibu yang sedang hamil, seperti dilakukan para bidan zaman dulu.

Atau, ketika dia berusaha memahami tentang langit. Tentu saja, pemahamannya akan menjadi jauh lebih baik dan maju ketika dia belajar ilmu astronomi yang menggunakan banyak alat bantu berupa rumus matematis maupun teleskop, dibandingkan dengan hanya menggunakan mata untuk memahami bintang-bintang dan benda langit yang berjumlah triliunan.

Pendek kata, dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan rasional dia akan memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang alam semesta dan lingkungan hidupnya. Tiba-tiba ia menyadari betapa canggih dan hebatnya alam semesta tempat dia hidup. Dia telah memperoleh 'Kesadaran Rasional dan Ilmiah' terhadap realitas yang terhampar di sekitarnya.

Pada tingkat kesadaran rasional ini, seseorang tiba-tiba bisa 'melihat' lebih besar dan luas dari apa yang dilihat oleh matanya. Ia bisa 'mendengar' lebih tajam dibandingkan dengan pendengaran telinganya. la bisa ‘mencium’ lebih peka daripada penciuman hidungnya. Dan bisa merasakan lebih halus daripada kehalusan indera pengecap dan perabanya.

Ya, tiba-tiba saja, ia melihat dunia ini berbeda. Bukan hanya seperti yang dia amati selama ini. Banyak hal yang tadinya tidak terdeteksi kini bermunculan. Ia telah bisa 'melihat mendengar mencium dan sekaligus merasakan' Dunia, dengan menggunakan ‘akal’nya.

Inilah yang digambarkan oleh Allah dalam berbagai ayatnya, yang menceritakan hamba-hamba yang memiliki ilmu pengetahuan mendalam.

QS. Al Ankabuut (29) : 43
Dan Perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

QS. Ali Imran (3) : 190 - 191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS. Ar Ra'd (13) : 19
Adakah orang Yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

QS. Al Ankabuut (29) : 35
Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.

QS. Ali Imran (3) : 7
Dia-lah Yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang Yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. " Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

QS. Ankabuut (29) : 49
Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

Kesadaran Spiritual

Kesadaran tingkat ketiga adalah 'Kesadaran Spiritual'. Kesadaran tingkat ini mulai menggeser tumpuan pemahamannya, dari rasionalitas di kesadaran tingkat kedua, menjadi bertumpu pada kefahaman yang lebih mendalam. Dia mulai melihat adanya realitas yang tidak teramati oleh ilmu pengetahuan empirik dan pendekatan rasional.

Ada realitas di balik batas-batas panca indera dan kemampuan rasionalitasnya. Dan juga, dia melihat keterbatasan pemahaman empirik tertentu yang menjadi landasan ilmu pengetahuan. Dia mulai menggeser rasionalitas menjadi bertumpu pada ‘Rasa’.

Biasanya, mengarah pada rasa kekaguman yang mendalam terhadap realitas yang dulu tidak pernah diduganya. Tiba-tiba dia 'melihat' dan 'merasakan' berada di balik realitas yang sedang dieksplorasinya. Dan kemudian, dia menemui 'tembok pembatas' yang sangat kokoh yang membentur rasionalitasnya. Menghadang pemikiran empiriknya. Dia bertemu dengan 'Sebuah Kekuasaan' yang tiada terperikan. Yang 'Mengatur' dan 'Mengendalikan' alam semesta dengan 'Kecerdasan' yang luar biasa.

Tiba-tiba, banyak hal yang tidak memenuhi hukum rasionalitas dan tidak bisa dibuktikan mengikuti metode-metode empirik yang selama ini dikenalnya.

Sebagai contoh, adalah ketika kita mencoba memahami realitas alam semesta. Pada kesadaran tingkat pertama. Kesadaran Inderawi manusia berusaha memahami benda-benda langit sekadar dengan mata dan telinganya.

Hasilnya: manusia mengenal berbagai macam bintang di langit, matahari, bulan, dan sejumlah meteor yang jatuh ke Bumi. Banyak manfaat yang telah diambil manusia lewat kesadaran inderawi ini.

Di antaranya, manusia pada abad-abad yang lalu bisa menentukan arah perjalanannya dengan berpedoman pada rasi bintang yang dikenalnya. Ia tahu arah utara, barat, selatan dan timur, berdasar posisi bintang-bintang itu. Manfaat lainnya lagi, mereka bisa menentukan pergerakan waktu dalam skala yang sederhana, berdasar posisi matahari dan bulan yang terlihat dari bumi. Dan lain sebagainya.

Namun, Kesadaran Inderawi ini lantas menjebak manusia untuk memahami kenyataan hanya berdasar apa yang dilihatnya. Misalnya, mereka menganggap matahari berkeliling bumi. Sebagaimana juga bulan mengelilingi bumi. Kenapa demikian? Karena begitulah memang yang kelihatan dari permukaan planet bumi. Padahal, kelak terbukti, ternyata matahari bukan mengelilingi bumi sebagaimana kita lihat, melainkan justru bumilah yang mengelilingi matahari.

Kefahaman dan kesadaran bahwa bumi mengelilingi matahari itulah yang lebih mendekati kenyataan. Dan, untuk memperoleh kefahaman bahwa bumi mengelilingi matahari, manusia tidak bisa hanya mengandalkan panca inderanya, melainkan dengan menggunakan berbagai pengamatan tidak langsung yang melibatkan berbagai rumus matematika. Manusia telah melakukan pemahamannya dengan menggunakan fungsi akal yang lebih tinggi, lewat analisa perhitungan, dan imajinasi yang lebih abstrak.

Coba bayangkan, mata kita jelas-jelas melihat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, setiap hari dari Timur ke Barat. Tapi akal kita justru membantahnya, dan mengatakan bahwa yang berputar berkeliling justru adalah bumi terhadap matahari. Hasilnya, bisa bertolak belakang sama sekali!

Demikian pula, ketika kita mencoba memahami hamparan permukaan bumi. Orang zaman dahulu meyakini bahwa bumi ini datar. Karena memang begitulah yang tampak oleh mata kita. Tetapi, perjalanan Columbus berkeliling Dunia menggunakan kapal lautnya telah merubah pemahaman itu.

Ternyata Bumi kita ini bulat. Manusia hewan, tumbuhan dan berbagai isi bumi sekadar . 'hinggap' di permukaannya. Bukti itu, kini tidak bisa dibantah lagi ketika manusia bisa memotret planet bumi dari satelit. Bumi memang berbentuk bola, yang mengambang dan melesat di awang-awang.

Sekali lagi manusia dihadapkan pada dua pemahaman yang sangat berbeda, ketika menggunakan tingkat kesadaran yang berbeda. Yang pertama sekadar menggunakan indera mata, dan yang kedua menggunakan rasio secara empirik. Hasilnya, radikal berbeda.

Terbukti bahwa penggunaan rasio jauh lebih unggul dibandingkan kefahaman inderawi yang demikian terbatas. Ada potensi 'imajinasi' dan ‘analisa’ yang tidak dimiliki oleh kesadaran tingkat pertama. Dengan potensi imajinasi serta analisa itulah manusia memiliki 'mata imajiner' yang memiliki ketajaman dan sudut pandang yang jauh lebih luas ketimbang mata kepala.

Kalau kita lanjutkan, maka Kesadaran Spiritual bakal memberikan hasil yang lebih hebat lagi dalam memahami kenyataan. Dalam hal mengamati alam semesta, manusia yang menggunakan 'Kesadaran Spiritualnya' bakal menemukan rahasia besar yang selama ini tidak terlihat oleh orang-orang yang sekadar menggunakan 'mata imajinernya'.

'Mata imajiner' alias Kesadaran Rasional sangat bermanfaat untuk melihat realitas yang bersifat fisik, dalam skala yang lebih luas, yang berada di luar jangkauan panca indera. Tiba-tiba seseorang bisa melihat sesuatu yang berada di balik penglihatan matanya, saat menggunakan Kesadaran Rasionalnya.

Tapi, mata imajiner memiliki keterbatasannya ketika digunakan untuk menangkap 'Makna' yang tersimpan di dalamnya. Makna yang terkandung di dalam pesan penciptaan. Makna yang menjurus kepada adanya Dzat yang Tiada Berhingga, yang menampilkan Kecerdasan Tiada Terkira.

Dalam konteks pemahaman alam semesta, kita telah melihat bahwa segala yang tercipta itu tidak ada yang kebetulan, melainkan dicipta dengan sengaja. Lewat sebuah rancangan yang sempurna.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan mutakhir, dua aliran 'Kesadaran' tersebut telah melakukan pertarungan panjang untuk memahami realitas. Kelompok yang pertama diwakili oleh ilmuwan materialis. Sedangkan kelompok kedua diwakili oleh ilmuwan-ilmuwan agamis.

Kelompok yang pertama berpendapat bahwa alam semesta yang demikian dahsyat ini terbentuk dengan sendirinya, tanpa melibatkan Tuhan sebagai sang Pencipta. Sedangkan kelompok kedua, justru 'melihat' adanya 'Kecerdasan Super' yang terlibat secara aktif dalam munculnya segala realitas yang mempesona.

Kelompok materialis menggunakan 'mata imajinernya' untuk memahami alam semesta. Dan mereka hanya memperoleh 'kenyataan' tentang struktur alam semesta yang tertata dengan keseimbangan sempurna.

Sedangkan kelompok agamis menggunakan ‘mata spiritualnya’ untuk memahami kenyataan alam semesta. Selain memahami betapa sempurnanya struktur alam semesta ini, mereka juga bisa merasakan betapa hebatnya 'Kecerdasan' yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta dalam keseimbangan yang tiada cacat sedikit pun.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, bahwa seluruh ciptaannya di alam semesta dan diri manusia dibangun berdasar keseimbangan yang sempurna.

QS. Al Mulk (67) : 3
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

QS. Al Infithaar (82) : 7
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang,

Ada dua perbedaan yang sangat mencolok yang diperoleh kedua kelompok itu. Padahal, mereka sama-sama ingin memahami kenyataan yang sama. Akan tetapi, ternyata 'kenyataan' yang mereka sadari itu berbeda. Dan perdebatan itu pun. berlangsung sengit selama berpuluh tahun terakhir.

Kelompok materialistik bersikukuh dengan pendapatnya bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya secara evolutif. Berproses 'secara kebetulan' membentuk kehidupan. Alam memang memiliki kecenderungan untuk beproses seperti yang kita lihat sekarang dalam keseimbangannya yang azali.

Pada hakikatnya, mereka tidak mau dan tidak bisa melihat adanya 'Sesuatu' dibalik mekanisme yang demikian 'Aneh dan Cerdas' itu. Bahwa semua proses berjalan demikian teratur dan seimbang dengan tujuan yang sama: membentuk dan memfasilitasi adanya kehidupan.

'Mata imajiner' alias ‘Kesadaran Rasional' ternyata tidak sanggup melihat semua itu. Ia hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat materialistik belaka. Kenapa demikian?

Karena sebenarnya, 'mata imajiner' alias Kesadaran Rasional adalah sekadar kepanjangan fungsi dari mata kepala, yang dilengkapi dengan analisa-analisa empiris. Dilengkapi dengan berbagai peralatan bantu. Tapi, substansinya masih sama ia 'melihat' dengan 'mata fisiknya' Maka, tentu saja, ia hanya bisa menangkap hal-hal yang bersifat fisik juga.

Padahal, makna yang terkandung di balik realitas itu bersifat non fisik. Yaitu, sebuah 'kefahaman' yang sangat abstrak. Yang lebih dekat kepada 'rasa'. Dan ini adalah objek dari indera ke enam yang disebut hati. Inilah yang difirmankan Allah dalam berbagai ayatNya.

QS. An Nahl (16) : 12
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),

QS. Al Hajj (22) : 46
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

QS. Al Ankabut (29) : 63
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).

QS. Al Mukmin (40) : 67
Dia lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).

Jadi, pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi manusia hanya bisa memperoleh makna itu ketika ia menggunakan hatinya sebagai sensor. Bukan lagi mata fisik. Berkali-kali Allah mengatakan itu. Bahwa untuk bisa memahami mesti menggunakan hati. Bahwa yang namanya hati itu ada di dalam dada. Bahwa, pada kasus tertentu, bukan mata kepala yang buta melainkan mata hatinya.

Inilah tingkat Kesadaran Spiritual. Sebuah Kesadaran yang dibangun berdasarkan penglihatan mata hati alias mata spiritual. Orang yang menggunakan mata hatinya bakal bisa 'melihat' Allah di balik segala kenyataan fisik, yang dilihatnya. Atau dengan kalimat lain dikatakan, ia telah bisa 'merasakan kehadiran Allah' di seluruh benda dan kejadian yang berinteraksi dengannya.

Ketajaman 'mata spiritual' alias Kesadaran Spiritual ini semakin sempurna jika seseorang mencapainya secara bertahap, mulai dari Kesadaran Inderawi, Kesadaran Rasional dan kemudian Kesadaran Spiritual.

Sebab, munculnya Kesadaran pada tingkat yang lebih tinggi itu selalu dipicu oleh memuncaknya Kesadaran yang lebih rendah.

Sebagai contoh, munculnya Kesadaran Rasional adalah ketika pemahaman inderawi sudah mentok, tidak mampu lagi. Ketika, mata sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi di pusat matahari, maka di situlah terjadi stimulasi terhadap Kesadaran Rasional untuk berkembang. Maka, manusia lantas menggunakan potensi rasionalitasnya untuk mengungkapkan rahasia yang ada di pusat matahari itu. Bahwa di sana ada proses pembangkitan energi panas yang luar biasa dahsyat yang disebut sebagai reaksi Termonuklir.

Demikian pula, ketika mata fisik sudah tidak mampu lagi melihat sebab-musabab terjadinya keseimbangan yang mengikat dan menggerakkan benda-benda raksasa di alam semesta, maka Kesadaran Rasional terpicu untuk mengambil alih peran indera yang terbatas itu. Dan muncullah kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang menjelaskan terjadinya keseimbangan gravitasi di seluruh penjuru langit. Kita, lantas berada dalam Kesadaran Rasional tentang kenyataan tersebut.

Begitu pula dengan Kesadaran Spiritual, ia baru akan muncul ketika terpicu oleh ketidak mampuan Kesadaran Rasional dalam memahami kenyataan yang terhampar di hadapannya. Selama seseorang masih merasa bisa memahami kenyataan ini dengan Kesadaran yang lebih rendah maka ia akan menyombongkan diri tentang kemampuan itu. Pada saat yang bersamaan ia tidak akan pernah beranjak dari kesadaran rendahnya menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Perkembangan ilmu pengetahuan empirik yang semakin memuncak di abad-abad terakhir ini, sebenarnya telah menstimulasi munculnya Kesadaran Spiritual. Kemampuan mata imajiner manusia mulai menemukan batasnya. Yang di balik batas itu, manusia mulai merasa tidak tahu apa-apa. Ada suatu rahasia besar yang 'menakutkan', yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak ke segala arah kehidupan telah menemukan ketidak terbatasan yang mengerikan. Baik yang berkait dengan pemahaman alam makro, alam mikro, maupun yang terkait dengan proses-proses kehidupan.

Pada skala makrokosmos, Misalnya, manusia kini dihadapkan pada "Kebesaran Misterius' yang tiada bandingnya. Dulu, manusia hanya mengenal dunia sebagai lingkungan dimana ia menjalani hidup. la menganggap dunia hanya sebesar daerah tempat tinggalnya.

Seiring dengan perjalanan hidupnya, manusia lantas memahami tentang pulau dan benua yang ditempatinya. Semakin meluas, manusia memahami bahwa bumi ini bulat. Dan akhirnya, manusia memperoleh kefahaman bahwa bumi hanyalah sebuah planet kecil dari triliunan benda langit yang terhampar di seluruh penjuru alam semesta.

Tiba-tiba manusia memperoleh kesadaran, tentang keberadaan nya yang demikian kecil di hamparan 'padang pasir' semesta raya. Dimana bumi hanya bagaikan sebutir ‘debu’. Dan di atas debu itulah 5 miliar manusia hidup dengan segala kesombongannya.

Kita tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Demikian raksasanya jagad semesta raya. Sementara, bumi adalah satu-satunya planet yang dihuni oleh kehidupan. Selebihnya, belum diketemukan adanya kehidupan di planet-planet lain. Ya, 5 miliar manusia hidup dalam kesendirian di jagad raya semesta, yang sampai sekarang tidak diketahui batasnya.

Seluruh ilmuwan astronomi di muka bumi kini sedang terpaku memandang ke langit. Menatap penuh ngeri sekaligus kekaguman. Ngeri karena manusia begitu kecilnya dibandingkan dengan alam semesta yang berisi triliunan benda-benda angkasa seperti planet bumi atau bahkan banyak yang lebih besar dari bumi.

Namun, kita juga kagum melihat pemandangan yang tiada tara itu. Triliunan matahari berserakan di angkasa semesta bagaikan pelita kecil-kecil yang dihamparkan dan ditata dengan indahnya, di dalam kegelapan ruang angkasa yang demikian raksasa. Di sela-sela pelita itu benda-benda angkasa lainnya menari-nari, bergerak melesat dengan kecepatan tinggi di orbit-orbit yang terjaga selama miliaran tahun. Jauh di luar batas usia peradaban manusia yang cuma berumur ribuan tahun. Hati kita jadi tercekat menyadari kenyataan ini.

Tiba-tiba manusia merasa tidak berdaya dan merasa tidak ada apa-apanya, berhadapan dengan kedahsyatan alam semesta. Kita ini kecil. Bahkan lebih kecil dari yang bisa kita bayangkan. Disinilah manusia terbentur pada suatu kenyataan, yang mencampakkan pada ketidak berdayaan Rasionalnya.

Ia tidak tahu dimana batas alam semesta yang demikian luas ini. Dan, di luar batas itu ada apa. Ia juga tidak tahu bagaimana triliunan benda-benda langit yang semuanya bergerak dan melesat dengan kecepatan tinggi itu bisa tertata demikian rapi dan indahnya dalam keseimbangan yang sempurna.

Ia juga tidak tahu kapan terlahirnya alam semesta secara pasti, dengan cara bagaimana, berasal dari mana, serta apa pula yang akan terjadi kelak.

Dan, masih begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab dengan memuaskan. Semuanya membuat pandangan kita menjadi nanar dan lelah. Meskipun kita telah berulang-ulang mencoba memahaminya, tetap saja tidak bisa. Sebab kita hanya menggunakan 'mata imajiner' yang terbatas. Persis seperti yang dikatakan Allah dalam firmanNya.

QS. Al Mulk (67) : 3 - 4
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah

Mata imajiner telah mencapai batas kemampuannya. Maka, sudah semestinya kita gunakan mata spiritual yang lebih mengandalkan hati. Inilah yang digambarkan Allah di dalam ayat-ayatNya yang lain.

QS. Al Hajj (22) : 46
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

QS. Al A'raaf (7) : 54
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

QS. An Nahl (16) : 12
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),

QS. Al Baqarah (2) : 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur Kepunyaan Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

QS. Al An'aam (6) : 75
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada lbrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.

QS. Jaatsiyah (45) : 37
Dan bagi Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. Al Hasyr (59) : 23
Dia lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.

QS. Al Ankabuut (29) : 63
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).

Ayat-ayat di atas memberikan gambaran bahwa alam semesta ini bukan tercipta dengan sendirinya. Melainkan diciptakan oleh Allah. Sebenarnya setiap manusia yang ‘mau jujur’, pasti akan bisa merasakan bahwa tidak mungkin alam semesta ini ada dengan sendirinya. Kalau mereka ditanya : siapa pencipta alam semesta dan segala isinya ini? Mereka pasti akan menjawab Allah. Namun kebanyakan mereka mengingkarinya, karena berbagai alasan dan kesombongannya.

Kesadaran Spiritual memang sangat berkait dengan kejujuran hati. Bukan sekadar kepintaran dan kecerdasan pikiran. Hati yang jujur dan hati yang mencari kebenaran. Itulah kuncinya. Sepintar apa pun, kalau hatinya 'buta', tidak akan bisa melihat kenyataan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Mereka selalu mencari alasan untuk menyatakan bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya. Padahal demikian nyatanya tanda-tanda penciptaan itu. Dan mereka tahu itu. Tapi mereka berpaling darinya. Ini persis yang dikatakan Allah di dalam firmanNya.

QS. Yusuf (12) : 105
Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan.di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.

Bukan hanya pada makrokosmos, tanda-tanda kebesaran Allah itu digelar. Pada alam mikrokosmos pun para ilmuwan menemukan batas yang tak kalah 'mengerikan'. Yang di balik batas itu manusia yang menyebut dirinya pakar, juga mulai tidak faham.

Dulu manusia mengatakan bahwa benda di alam semesta ini tersusun oleh bagian terkecil yang disebut atom. Kata atom memang berarti tidak bisa dibagi lagi. Berasal dari kata atomos bahasa yunani.

Namun kemudian, manusia mulai kecele, ketika menemukan kenyataan bahwa atom ternyata masih bisa dibagi menjadi inti atom dan elektron-elektron. Inti atom bagaikan matahari dalam tatasurya kita, sedangkan elektron bagaikan planet-planetnya. Semua benda ternyata tersusun dari inti dan elektron-elektron.

Sampai di sini sebenarnya manusia mulai merasakan adanya misteri di balik inti atom. Benarkah inti atom juga tidak bisa dibagi lagi. Penemuan energi nuklir pada abad 20 membuktikan bahwa inti pun ternyata bisa dipecah lagi menjadi partikel-partikel sub atomik seperti proton dan neutron.

Lebih jauh, kemudian diketahui bahwa neutron juga bisa dibagi menjadi proton dan elektron. Dan seterusnya kemudian diketahui bahwa bahwa partikel-partikel sub atomik itu terdiri dari 'pilinan' energi yang disebut sebagai Quark.

Jadi sampai sekarang, para pakar atomik masih terbengong-bengong dengan kenyataan ini. Bahwa, ternyata benda di alam semesta ini bisa dibagi-bagi dalam ukuran yang tak terbatas kecilnya. Dan ketika dipecah-pecah lagi semakin kecil, tiba-tiba sifat bendanya hilang berubah menjadi energi.

Hal ini mulai tampak pada elektron. Elektron adalah Salah satu jenis partikel yang memiliki dua sifat yang membingungkan. Kadang tampak sebagai materi. Di waktu yang lain tampak sebagai bola energi.

Ini, tentu saja sangat membingungkan. Karena, materi dan energi adalah dua eksistensi yang berlawanan. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang bisa memiliki sifat berlawananan sekaligus. Materi adalah kuantitas, sedangkan energi adalah kualitas. Saking bingungnya mengklasifikasikan elektron ini kuantitas ataukah kualitas, akhirnya para pakar menyebutnya sebagai sifat dualitas.

Jadi, dalam skala mikrokosmos pun manusia mengalami 'kebingungan' yang sangat substansial. Kemampuan mata imajiner dan Kesadaran Rasionalnya membentur dinding tebal yang tidak bisa ditembusnya.

Tiba-tiba ada suatu batas yang di balik batas itu mereka tidak paham. Dan 'terpaksa' mengakui adanya Kecerdasan yang mengatur semua partikel dan energi.

Di saat itulah sebenarnya 'Kesadaran Rasional' telah kalah dan memunculkan kesadaran baru, yaitu: 'Kesadaran Spiritual'. Seseorang menjadi paham, bahwa di balik kenyataan ini ada suatu 'Aktor' yang mengaturnya. DIA adalah dzat yang Suprarasional. DIA adalah Dzat yang hanya bisa dipahami dengan hati. Bukan sekadar rasio, tetapi dengan menggunakan akal secara sempurna

QS. An Nisaa' (4) : 5
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

QS. Qashash (28) : 14
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Begitulah, ada akal yang belum sempurna, dan ada akal yang sudah sempurna. Akal yang belum sempurna adalah akal yang belum bisa menangkap hikmah, sebagaimana akal yang sudah sempurna. Musa memperoleh hikmah dan pengetahuan setelah akalnya sempurna di usia dewasa.

Akal yang sempurna adalah yang telah bisa merangkaikan seluruh komponen akal yang berkaitan dengan panca inderanya (Kesadaran Inderawi), berhubungan dengan khasanah keilmuan empirik
(Kesadaran Rasional), dan juga tersambung dengan hati sebagai sensor kefahaman (Kesadaran Spiritual).

Kefahaman 'Hati' lebih bersifat holistik. Di dalamnya terkandung makna-makna: mengobservasi dengan panca indera (yandzurun), berpikir secara rasional (yatafakkarun), dan memahami (yafqahun). Itulah yang disebut sebagai menggunakan akal (ya’qiluun).

Keterbatasan rasio manusia semakin kelihatan ketika mencoba mengobservasi proses-proses kehidupan. Darimanakah munculnya kehidupan? Bagaimana proses kehidupan itu terjadi? Sebelum dan sesudah kehidupan itu apa dan bagaimana? Dan seterusnya.

Sudah lama manusia ingin melihat nyawa. Seperi apa bentuknya. Darimana datangnya? Dan kemana perginya? Tapi sampai hari ini tidak pernah kesampaian. Sampai ada cerita tentang penguasa lalim yang mencoba membungkus hidup-hidup seorang manusia dengan kaca sampai mati, karena ingin melihat keluarnya nyawa dari badannya. Tapi, tidak berhasil juga melihat nyawa itu.

Di sisi lain, para filsuf dari zaman dulu sampai sekarang berusaha memahami keberadaan Jiwa dan Ruh sebagai penggerak kehidupan, juga tidak pernah memberikan hasil yang memuaskan.

Ya, telah berabad-abad lamanya manusia mencoba menguak rahasia terbesar dalam drama kehidupan. Tapi sampai sekarang, rahasia kehidupan tetap tersimpan dalam sebuah kotak gelap yang sangat misterius. Terutama bagi mereka yang ingin memahaminya dari pendekatan rasional semata.

Sebagaimana pemahaman terhadap makrokosmos dan mikrokosmos, manusia membentur dinding tebal yang misterius ketika mencoba menguak misteri kehidupan. Problem utamanya sebenarnya bukan pada 'bisa atau tidaknya' misteri itu dikuak, melainkan lebih pada 'sudah benarkah alat yang kita pakai untuk menguaknya'

Jika kita hanya menggunakan Kesadaran Rasional, maka sangat boleh jadi misteri itu tidak akan pernah terkuak sampai akhir zaman. Sebab, Kesadaran Rasional memang berfungsi hanya pada persoalan-persoalan empirik yang bisa diulang-ulang secara kasat mata. Padahal, misteri di balik kenyataan itu adalah wilayah yang tidak bisa dibuktikan secara empirik.

Bagaimana mungkin kita bisa membuktikan keberadaan batas batas alam semesta, sementara usia peradaban manusia tidak cukup untuk membuktikannya? Bukankah alam semesta ini sudah berusia miliaran tahun, sementara peradaban manusia baru puluhan ribu tahun?

Demikian pula, diameter alam semesta itu demikian besarnya, sehingga (kalau pun ada batasnya) kita tidak pernah bisa menjangkau wilayah yang berjarak miliaran tahun cahaya itu. Meskipun hanya lewat
pandangan mata. Apalagi, ingin memahami apa-apa yang ada di luar batas alam semesta itu. Ada sesuatu yang 'Maha Besar' yang menghadang 'penglihatan' kita lebih jauh yang sekadar menggunakan mata imajiner dan rasionalitas.

Juga, agaknya kita tidak akan bisa membuktikan batas-batas mikrokosmos secara mendetil karena keterbatasan kemampuan peralatan dan 'penglihatan' manusia. Semakin kecil suatu benda, semakin sulit untuk menentukan posisinya.

Ada suatu ketidakpastian yang demikian besar ketika kita ingin sekadar menentukan posisi suatu partikel, sebagaimana telah dibuktikan oleh Werner Heisenberg, lewat teori Ketidak pastiannya. Apalagi, untuk membuktikan keberadaan benda terkecil, agaknya bakal menjadi mimpi belaka.

Sebab pada skala terkecil keberadaan benda itu telah muncul kerancuan yang membingungkan antara materi dan energi. Antara kuantitas dan kualitas. Antara 'nyata' dan 'maya'. Bahkan antara 'ada' dan 'tiada'. Manusia dihadang oleh sesuatu yang 'Maha Halus' dan misterius untuk mengeksplorasi apa-apa yang ada di balik kehalusan struktur materi dan energi.

Dan akhirnya, bagaimana mungkin manusia ingin melihat sumber kehidupan, karena 'kehidupan' itu sendiri muncul bukan sebagai materi dan energi. la muncul sebagai 'Kehendak' yang bisa 'mengatur' dan 'mengarahkan' dirinya sendiri. Mengendalikan proses-proses material dan energial yang mengiringi kehidupan itu, bahkan di luar kesadaran si pelaksana kehidupan. Manusia bukanlah pemilik kehidupan, melainkan sekadar pelaksana belaka.

Orang-orang yang hanya berkutat pada pemikiran materi dan energi belaka tidak akan pernah menemukan esensi kehidupan. Kita tidak pernah tahu kenapa jantung kita terus berdenyut sepanjang hayat.

Kita juga tidak pernah tahu kenapa organ-organ seperti paru-paru, liver, ginjal, sumsum tulang belakang, otot, darah, sel beserta kromosom, rantai genetika, dan lain sebagainya mesti ada.

Kita juga tidak tahu kenapa kita bisa berpikir, memahami, menganalisa, dan menyimpulkan. Dan yang lebih misterius lagi kenapa kita memiliki 'kehendak' untuk hidup, untuk beraktivitas, untuk menjalani kebaikan dan keburukan. Dan seterusnya, dan seterusnya. Dari manakah munculnya kehendak itu?

Di sini, kembali kita dihadang oleh sebuah kekuatan yang "Maha Hidup' dan 'Maha Berkehendak' yang menjadi sumber dari kehidupan itu sendiri. Mata imajiner dan rasio kita lagi-lagi tidak mampu menangkap 'Sosok' di balik kehidupan itu. Kecuali kita menggunakan mata spiritual dalam memahaminya.

Mata spiritual bekerja tidak hanya berdasarkan inderawi. Juga tidak hanya bekerja berdasarkan ilmu empirik. Tapi bersandar pada kejujuran dan rendah hati, kehendak menuju pada kebenaran, serta keyakinan spiritual yang bersumber pada informasi ilahiah.

Bagaimana mungkin kita memperoleh informasi tentang kehidupan sesudah mati, jika kita tidak membacanya dari dalam Al-Qur’an? Bagaimana mungkin kita bisa memahami tentang struktur langit yang tujuh, kalau kita tidak menggalinya dari firman Allah? Bagaimana pula kita bisa memahami Jiwa dan Ruh, kalau kita tidak bersandar kepada sang Empunya Kehidupan?

Begitulah memang cara bekerjanya Kesadaran Spiritual. Bersumber dari informasi ilahiah, kemudian dipahami oleh 'akal sempurna' lewat mekanisme inderawi, ilmu empirik rasional, dan hati. Kesimpulan dari semua itu akan menghasilkan sebuah 'Kesadaran' yang demikian tajam, luas sekaligus lembut...