Sunday, March 11, 2007

Arafah

ARAFAH…

Inilah sebuah padang yang lengang dan sepi
Bukit-bukitnya tanpa penghuni

Saat delapan Dzulhijjah,
Datang manusia dari berbagai pelosok negeri
Talbiyah mulai bergema,
Takbir membahana,
Langit dunia pun terbelah sudah!

Istighfarku mulai merintih

Ya Allah, ya Rabbi,
Tiada terhiraukan lelahnya badan
Lelahnya kaki,
Semua kini telah datang

Sungguh gemetar badan ini, ya Allah
Tapi lebih gemetar lagi hati kami

Takutku, rinduku,
Menyatu dalam dada kecil ini

Tuhan,
Kini tangan-tangan kami yang kotor
Telah terangkat di depan dada
Tuk mohonkan ampun
Atas dosa yang tiada pernah terhitung lagi

Ya Allah, malam ini
Berjuta manusia tertidur lelap dibuai mimpi
Sementara, air mata kami habis
Mengiringi dzikir dan istighfar kami.

Ya Allah,
Kami datang menyaksikan keagunganMu
Kami datang karena panggilanMu,
Kami datang ya Allah…
Ampuni kami,
…Astaghfirullahal adziim…



HAJI BUKAN REKREASI


Perjalanan Haji bukanlah rekreasi. Ungkapan tersebut tentu saja sangat menarik. Apalagi di zaman yang umat Islam semakin kehilangan substansi ibadahnya seperti sekarang.

Sebagian besar ibadah kita tidak menyentuh esensi dan substansi yang seharusnya. Kebanyakan kita justru terjebak pada ritual dan ceremonial belaka. Rajin beribadah, namun tidak memperoleh dampak dan manfaatnya.

Coba kita perhatikan, Allah mengatakan bahwa barangsiapa berdzikir kepadaNya, maka hatinya akan tenteram dan damai. QS. 13:28. Akan tetapi, sudahkah kita merasakan nikmat dan tenteramnya dzikir? Begitu banyaknya umat Islam melakukan dzikir, tapi hati yang gelisah tetap saja gelisah. Hati yang kacau tetap saja tak mau damai. Kenapa? Karena kebanyakan kita tidak melakukan dzikrullah dengan sebenarnya, kecuali sekadar ‘mengucapkan’ kalimat dzikir.

Hati kita tidak bergetar saat berdzikir. Bahkan kita juga tidak ingat kepada Allah saat berdzikir. Maka jangan heran ribuan kali kita berdzikir, tidak pernah mengubah kualitas hati kita. Umat Islam tetap saja dalam kegelisahan hidupnya. Bahkan semakin tidak menentu. Terjebak dalam pesona dunia yang semu.

Nasib ibadah shalat kita pun tak jauh berbeda. Setiap hari kita shalat minimal 5 kali. Akan tetapi coba cermati, apa dampaknya dalam kehidupan kita. Sudahkah shalat kita mampu mencegah perbuatan keji dan munkar dalam keseharian? Rasanya belum!

Shalat kita tak lebih hanya menggugurkan kewajiban belaka. "Yuk, segera shalat, biar nggak ada lagi tanggungan...!"Begitulah seringkali kita mendengar ungkapan orang di sekitar kita.

Karena itu jangan heran setiap hari umat Islam shalat berkali-kali, tetapi banyak di antara kita masih melakukan perbuatan maksiat. STMJ kata kawan saya. Bukan 'Susu Telor Madu Jahe, tetapi 'Shalat Terus, Maksiat tetap Jalan'.

Kenapa bisa demikian? Karena kita tidak menjiwai ibadah shalat kita. Dalam istilah Al-Qur’an orang yang demikian ini disebut beragama secara bohong-bohongan. Pura-pura. Tidak sungguh-sungguh. Mengaku Islam tetapi shalatnya tidak berdampak dalam tingkah lakunya. QS.107 : 4-5.

Bukan cuma dzikir dan shalat, puasa dan zakat kita pun seringkali tidak memberikan dampak bagi kualitas jiwa kita. Rasulullah mengingatkan, bahwa banyak di antara umat Islam yang berpuasa tetapi tidak memperoleh manfaat puasanya. Mereka cuma memperoleh lapar dan dahaga.

Kenapa? Karena mereka tidak menjalankan puasa secara seharusnya. Dikiranya puasa itu sekadar tidak makan dan tidak minum saja. Padahal puasa adalah latihan untuk mengontrol dan memperbaiki akhlak. Yang akan berdampak pada kualitas lahiriah maupun batiniah. Kesehatan badan maupun jiwa.

Tapi coba lihat, setiap tahun umat Islam beramai-ramai melakukan puasa Ramadhan selama sebulan penuh, apa dampaknya bagi umat ini? Apakah kita bertambah sehat? Apakah akhlak kita bertambah baik? Atau bangsa ini bertambah sejahtera dalam ketakwaan dan RidhaNya..?

Zakat pun tak berbeda keadaannya. Islam mengajarkan zakat agar secara pribadi kita menjadi orang yang berjiwa sosial. Tidak materialistik. Memiliki empati pada orang lain. Sekaligus meratakan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada umat. Akan tetapi bukannya kita menjadi dermawan, melainkan bertambah egois. Tiap zakat dan shadaqah yang kita keluarkan, kita selalu menghitung-hitung: "berapa banyak ya Allah bakal membalas zakat atau sedekah yang kita keluarkan...? Kata Al-Qur’an sih 700 kali. wow, betapa banyaknya..."begitu pikiran kita.
Dan, Ibadah haji kita. Hati-hati, jangan-jangan juga tidak memberikan dampak bagi peningkatan kualitas jiwa kita. Yang ada di benak kita bukan berusaha memperoleh pelajaran dari makna haji, tetapi sekadar untuk memperoleh predikat 'H' atau lebih parah lagi, kalau lantas hanya sekadar rekreasi...

Kenapa saya mensinyalir demikian? Karena kita melihat demikian banyak orang Indonesia berhaji, tetapi coba perhatikan apa dampaknya bagi bangsa ini? Tidak kurang dari 200 ribu orang Indonesia berangkat ke tanah suci setiap tahun, apakah anda melihat dampaknya?

Apakah bangsa ini semakin baik akhlaknya? Apakah bangsa ini semakin bertakwa dan berserah diri kepada Allah? Apakah bangsa ini semakin rendah hati dan tawadhu' dalam menjalani hidup? Atau apakah bangsa ini menjadi pekerja keras yang tawakkal kepada Allah sang Rabbul 'alamin...?

Kita perlu banyak bercermin. Kemana pun. Kepada siapa pun. Kapan pun dan dimana pun. Diskusi yang sedang Anda baca ini adalah salah satu cara kita bercermin terhadap kualitas beragama kita. Khususnya ibadah haji kita. Mengajak kita untuk berdialog sekaligus bercermin kepada cerita-cerita hikmah

Diskusi ini mengajak Anda merasakan betapa nikmatnya menjadi tamu Allah. Betapa haru biru perasaan kita dibuatnya. Dan betapa bahagia selalu berdekatan dengan Dzat yang Maha Agung, penuh Kasih dan penuh Sayang itu...

Mudah-mudahan Anda memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari Diskusi ini. Syukur, bagi anda yang belum berhaji, lantas mendorong anda menjadi ingin berhaji. Dan bagi yang sudah berhaji, anda memperoleh kembali suasana penuh hikmah, yang penuh haru dan menggetarkan hati...

Insya Allah,
saat ini Allah sedang bersama Anda



Dari Penulis Untuk Pembaca

Inilah sebuah perjalanan yang penuh dengan linangan air mata. Perjalanan yang sarat dengan perasaan suka, tanpa duka. Khususnya bagi yang berbekal iman dan taqwa.

Apa yang saya tulis dalam diskusi ini adalah sebuah pengalaman dan kisah nyata dari berbagai insan. Ada pengalaman ruhani yang saya alami sendiri. Tetapi juga banyak yang saya ambil dari pengalaman teman-teman dan handai taulan. Semua menunjukkan suasana batin ketika bertamu di 'rumah Allah'. Selama 40 hari di tanah Haram. Baik di kota Madinah Al Munawarah, maupun di kota Mekkah Al-Mukaramah.

Dengan diskusi ini, saya ingin mengajak para pembaca agar bisa menghayati bagaimana suasana hati para jama'ah haji, ketika bertamu kepada Allah itu. Dan saya berharap kawan-kawan yang belum berkesempatan pergi ibadah haji, akan mempunyai motivasi yang lebih tinggi untuk bisa secepatnya datang ke tanah suci.

Beberapa bagian diskusi ini saya tulis dalam bentuk cerita dan dialog, untuk memudahkan menangkap arti dan makna yang tersembunyi. Sebenarnyalah, keindahan setiap peristiwa yang dialami oleh jama'ah haji, tak akan dapat diwakili oleh indahnya kata-kata. Karena itu saya berharap, semoga setiap muslim mempunyai keinginan yang kuat untuk datang sendiri ke tanah haram agar bisa merasakan bagaimana keindahan yang sesungguhnya.

Sementara, bagi saudaraku yang sudah pernah melaksanakan-nya, mudah-mudahan menambah semangat kita dalam menjalankan ibadah kita sehari-hari. Yakinlah, bahwa dengan semangat ibadah yang sudah kita ikrarkan di tanah haram itu, di tanah air pun kita akan bisa melaksanakan pengabdian diri kepada Ilahi rabbi. Sehingga, insya Allah akan tetap terjagalah kemabruran haji.

Terima kasih tiada terhingga kepada seluruh jama'ah haji, yang dengan rela mengizinkan pengalamannya untuk saya tulis dalam diskusi ini. Semoga pengalaman yang tampak sederhana itu mempunyai andil besar dalam membuka cakrawala hati para pembaca.

Semoga karya kecil ini, mempunyai manfaat yang besar. Semoga pula berbagai cerita dan pengalaman nyata dari para jama'ah ini membawa manfaat nyata dalam kehidupan kita di hari ini, dan juga dalam kehidupan kita di kemudian hari...

Amien ya rabbal `alamiin.

Menyambut Panggilan

Begitu ramainya suasana tasyakuran di rumah pak Syarif. Para tetangga dan keluarganya, hari minggu itu datang semua untuk ikut memberikan do'a restu kepadanya.

Pak Syarif adalah salah satu penduduk sebuah kampung yang tergolong istimewa. Kesehariannya sangat sederhana. Ia bekerja sebagai tukang parkir sepeda motor di areal pasar dekat rumahku. Istrinya tidak bekerja alias sebagai ibu rumah tangga bagi empat orang anaknya.

Yang menjadikan ia istimewa dalam pandangan para tetangganya adalah, bahwa ia bisa berangkat menunaikan ibadah haji bersama istrinya. Sementara, banyak tetangganya yang meskipun kehidupannya serba cukup bahkan ada yang disebut sebagai keluarga muslim yang kaya, ternyata belum juga bisa berangkat menunaikan ibadah haji.

Ketika aku tanyakan, berapa lama kira-kira mengumpulkan uang untuk menabung sehingga bisa pergi haji, katanya sekitar dua puluh tahun...! Sungguh hebat, dua puluh tahun niatnya sudah terpasang dengan kuat, meskipun jenis pekerjaannya seperti tidak memungkinkan untuk bisa pergi haji. Tetapi tekat yang kuat, dengan disertai panjatan do'a yang kusyu' dan rasa optimis akan pertolonganNya, menjadikan Allah memberikan jalan yang, sangat mudah baginya. Dia-lah yang melipat gandakan rezki pak Syarif.

Minggu pagi itu pak Syarif bersama istrinya nampak begitu bahagia. Tasyakuran sederhana pun digelar dalam rangka pemberangkatan mereka ke tanah suci. Sungguh, pagi yang cerah itu, membuat rumah sederhana di ujung kampung itu betul-betul meriah, karena dipadati oleh para tetangga dan keluarganya.

QS. At-Thalaq (65) : 4-5
perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa pada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Di tengah hiruk pikuknya para tamu yang nampak bahagia itu, kelihatan seorang setengah baya, yaitu pak Widi yang sedang berbincang-bincang dengan para tetangga dan teman-temannya. Kedengaran lamat-lamat olehku salah seorang temannya bertanya kepada pak Widi.
"Kapan pak Widi berangkat ke tanah suci, seperti halnya pak Syarif ?"
Yang lain nyeletuk: "iya pak, kan pak Widi sudah siap, baik tentang ONH maupun tentang kesehatan, kan nggak ada masalah...! Apakah tahun depan pak...?
"...wah, kalau pak Widi yang berangkat, tentu lebih ramai sekali kampung ini...apalagi pak Widi adalah sosok tokoh masyarakat di lingkungan kampung ini.." sahut yang lain.

Mendengar beberapa pertanyaan dari tetangga dan teman-temannya, sambil makan kue yang ada di hadapannya, pak Widi menjawab tanpa ekspresi apa-apa : "...ah sudahlah, kan saya belum dipanggil. Nanti aja kalau saya sudah dipanggil, pasti saya akan berangkat haji."

Pak Abdullah, yang sejak tadi diam saja mendengarkan pembicaraan mereka, tiba-tiba ikut bertanya pada pak Widi: "lho, pak Widi...siapa yang memanggil? menunggu panggilan dari siapa bapak akan berangkat haji...? " Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, pak Widi juga bingung. Pandangan matanya kosong. Ia tidak tahu jawabnya. Maka ia hanya bisa menjawab sembarangan saja.
"...saya juga bingung koq. Tapi kata orang-orang, kalau belum terpanggil, kan kita tidak bisa berangkat ke sana.... ?"

Para tetangga dan teman-teman pak Widi yang kebetulan mendengarkan dialog kecil itu, juga bingung. Ada sesuatu yang dirasa agak aneh dalam pembicaraan itu.
Siapakah yang memanggil manusia untuk pergi ibadah haji?
Siapa pula yang dipanggil untuk pergi melakukannya?
Benarkah pak Widi, termasuk juga kita semua, belum dipanggil?
Mengapa pak Syarif, dengan pekerjaan yang begitu sederhana sudah merasa terpanggil, sehingga ia bertekat untuk mengumpulkan uang, dan akhirnya bisa berangkat?
Mengapa pak Widi, dengan kekayaannya merasa belum dipanggil?
Bukankah, dengan menghayati rukun Islam yang lima itu, sebenarnya seluruh muslimin dan muslimat sudah dipanggil untuk berngkat ke tanah suci...?


PANGGILAN ALLAH

Allah Swt sebagai tuhannya alam semesta. Dialah Dzat Yang Maha Pengasih, dan Yang Maha Penyayang. Sebenarnya dengan kasih sayangNya itu, sudah sejak lama Allah memanggil para hambaNya untuk datang menuju dan mendekat kepadaNya. Untuk apa? Mengapa? Agar manusia tidak tersesat dalam melakukan perjalanan hidupnya.

Allah Yang Maha Rahim itu begitu sayangnya kepada makhluk ciptaanNya yang disebut manusia. Terutama manusia-manusia yang mempunyai komitmen untuk selalu beribadah kepadaNya.

Siapa saja yang datang memenuhi panggilan itu, khususnya orang-orang yang beriman, insya Allah dialah orang yang bahagia. Seorang hamba yang beriman, apabila dengan segala kemampuannya ia mau mengabdikan dirinya karena Allah semata, insya Allah dia akan mendapatkan kemuliaan dariNya. Di dunia ini, maupun di akhirat nanti.

Kehormatan yang sangat mahal nilainya itu insya Allah akan diberikan sendiri oleh Allah Sang Pencipta, yang hanya Dialah Yang Maha Kaya. Dialah yang akan memberikan penghargaan atas jerih payah dan 'prestasi' manusia yang berhasil mengalahkan musuh utamanya.

Sehingga..., tinggallah kepekaan seseorang. Apakah ia akan menghiraukan panggilan itu, atau sebaliknya ia justru acuh tak acuh, dan tidak mengindahkan sama sekali. Sungguh, setiap saat dan waktu, Allah selalu memanggil hamba-hambaNya!

Ada panggilan untuk berbuat kebajikan. Ada panggilan untuk meningkatkan iman.

Ada panggilan agar meninggalkan kemungkaran. Ada panggilan untuk meningkatkan ketaqwaan.

Ada panggilan untuk berpuasa. Ada pula panggilan agar manusia datang bertamu di Baitullah Mekah Al-Mukaromah.

Sungguh berbahagialah manusia yang mau menggunakan ilmunya untuk memenuhi semua panggilan itu. Sebab Allah akan mengangkat martabat dan derajatnya. Suatu martabat yang sangat dirindukan oleh setiap manusia.

Inilah beberapa panggilan Allah yang tertera dalam Al-Qur'anul Kariim.

QS. Al-Mujaadilah (58) : 11
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. Ali Imran (3) : 102
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

QS. Al-Baqarah (2) : 183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Sungguh, apabila kita renungkan, sangatlah indah cara-cara Allah memanggil manusia yang rindu dan peduli akan kasih sayangNya.
Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah saw bersabda : Allah Ta'ala berfirman
“Aku menurut sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku akan bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu di dalam kelompoknya, maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik. Jika ia mendekatkan diri kepadaKu sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
(HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam hadits tersebut Allah memberikan semacam persyaratan, kepada siapa saja yang ingin datang menuju Allah. Dan Allah akan menyambutnya dengan penuh kasih dan penuh sayang. Syaratnya cukup sederhana. Hanya satu. Harus aktif!

Siapa saja yang aktif menuju Allah, berarti dialah orang yang mempunyai kesungguhan untuk bertemu dengan Allah. Maka Allah akan menerimanya dengan mesra, dengan segala keridhaanNya.

Jika ada seorang hamba yang ingat kepada Allah, maka Allah akan mengingatnya dengan lebih baik. Jika ada seorang hamba yang bersikap aktif datang kepada Allah, maka Allah akan datang dengan lebih cepat kepadanya.

Demikian pula jika ada seorang hamba yang ingin datang ke Baitullah di tanah haram, insya Allah, Dia akan dengan penuh suka menyambut kedatangannya. Dan sungguh Allah Swt akan mempermudah prosesnya untuk sampai di Baitullah.

QS. Al-Baqarah (2) : 125
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang ruku' dan yang sujud".

Hadits Qudsi (R. Ad Dailami)
"Barang siapa yang menjenguk-Ku dalam rumah-Ku (masjidil Haram) atau masjid Rasulullah saw, atau Baitul Maqdis, lantas ia meninggal, maka ia meninggal dalam keadaan sahid."

QS. Al-Hajj (22) : 26
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memper-serikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.


PANGGILAN IBRAHIM

QS. Al-Hajj (22) : 26-27
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memper-serikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku dan sujud.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Siapakah yang tidak terpanggil dengan kisah Ibrahim? Sebuah kisah dari seorang yang lurus, seorang yang santun, seorang yang cintanya kepada Allah mampu mengalahkan cintanya kepada anak sendiri. Bahkan mengalahkan cintanya kepada diri sendiri...

Dialah sang tauladan. Yang kisah drama kehidupannya perlu kita teladani. Dan akhirnya diikuti oleh semua manusia sebagai tata cara dalam ibadah haji. Dialah sang tauladan. Yang dengan do'anya mengajarkan kepada kita agar memegang teguh tentang tauhid.

Dialah sang pemberani. Yang dengan kemantapan tauhidnya, ia berani dibakar demi menegakkan kebenaran sejati. Dan Allah pun menjawab dengan spontan. Bahwa Ibrahim adalah orang yang benar. Sehingga dengan izin Allah api yang panas itu pun menjadi dingin...dan selamatlah Ibrahim.

QS. AI-Anbiya (21) : 69
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim".

Ajaran Ibrahim adalah mentauhidkan Allah. Yang hanya kepada Allah sajalah manusia pantas dan patut menyembah. Selain Allah, adalah berhala yang harus disingkirkan dan harus dihancurkan. Agar hidup ini tetap lurus, dan tetap istiqomah hanya untuk menuju Allah semata.

QS. Ibrahim(14) : 35
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala.

Dalam beragama, Ibrahim tidak sekedar menuruti emosinya, tetapi ia menggunakan akal fikirannya. Karena akal fikiran adalah anugerah dari Allah yang luar biasa hebatnya. Dengan kemampuannya menggunakan akal fikirannya, Ibrahim mampu memberikan bukti bahwa hanya Allah-lah yang berhak dijadikan sebagai tuhannya manusia. Tuhan seluruh alam semesta. Karena memang Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia.

Maka seorang modern yang mengaku selalu menggunakan pikirannya dalam beraktifitas, sungguh sangat tepat menganut dan mempelajari Islam sebagai agamanya.

QS. Al-Anbiya (21) : 56
Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".

Apabila seseorang telah lurus jalannya, dan hanya kepada Allah semata kecintaannya diberikan, maka ia akan mendapatkan hikmah dari mana saja. Dari setiap persoalan yang dihadapinya maupun dari setiap benda yang dilihatnya. Itulah ciri dari orang-orang yang shalih.

QS. Asy-Syu'araa' (26) : 83
(Ibrahim berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih.


PANGGILAN RASULULLAH

Rasulullah saw begitu mencintai umatnya. Maka salah satu anjuran beliau adalah agar manusia datang menuju Baitullah. Bahkan beliau mewajibkannya bagi orang yang mampu untuk melakukannya.

Mengapa Rasulullah sampai mengundang dan memanggil agar manusia pergi ke Baitullah? Karena begitu hebatnya penghargaan Allah bagi orang yang menunaikan ibadah haji.

Maka demi cintanya kepada manusia, khususnya orang-orang yang beriman, Rasulullah pun memanggil manusia agar pergi menunaikan ibadah hajinya ke tanah Haram.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda :
Hai semua manusia, Allah mewajibkan atasmu haji. Maka berhajilah kalian. Dan siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata dan berbuat keji dan fasiq, ia akan keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan pada saat dilahirkan oleh ibunya. Dan melakukan umrah hingga umrah di tahun depan, menjadi penebus dosa yang terjadi antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga
(HR. Bukhari, Muslim)

Siapa yang pergi berhaji, benar-benar ikhlas karena Allah, maka diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, dan dia diberi hak syafaat pada semua yang dido'akannya
(HR. Abu Naiem, dari Abdullah bin Mas'ud)

Siapa yang menyelesaikan ibadat hajinya, dan semua muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya, maka akan diampunkannya dosa dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
(HR. Ahmad, Abu Ya'la, dari Jabir ra)

Berhajilah kamu, karena ibadat haji itu dapat mencuci dosa-dosa sebagaimana air dapat membersihkan kotoran.
(HR.Atthabarani)

Siapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat menyampai-kannya berhaji ke Baitullah, kemudian ia tidak berhaji, maka tidak ada halangan baginya untuk mati dalam keadaan yahudi atau nasrani.
(HR. Attirmidzi dan Al-Baihaqi, dari Ali ra)


PANGGILAN NURANI

Selain panggilan Allah, dan panggilan Ibrahim, sebenarnya nurani manusia setiap saat dan waktu juga telah memanggilnya untuk selalu berbuat baik. Karena pada hakekatnya nurani adalah cahaya Ilahiah, yang selalu mengajak kepada kebaikan semata. Tetapi jika seseorang sering berbuat salah, selalu berbuat jahat, sering dusta, iri, dengki, hasut, dan buruk sangka,...maka sebenarnya itulah penyakit hati yang akan menutupi nuraninya.

Jika hati seseorang sudah tertutupi, maka semua panca inderanya tidak berfungsi sebagaimana mestinya lagi.

QS. Al A'raf (7) : 179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanan kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Orang yang sudah tidak mempunyai nurani lagi, dikarenakan hati mereka tidak sensitif terhadap panggilan kebenaran, maka oleh Allah hati mereka bahkan dikunci mati. Sebab hati mereka telah berpenyakit yang sulit diobati.

QS. Al-Baqarah (2) : 7
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

QS. Al-Baqarah (2) : 10
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.


PANGGILAN BILAL

Lima kali dalam sehari, Bilal mengumandangkan seruannya. Sebuah seruan yang indah untuk hamba yang taat mengerjakan shalat. Sebuah panggilan yang lantang untuk menjanjikan kemenangan. Inilah sebuah panggilan yang menjanjikan kebahagiaan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Asyhaduallaa ilaaha illallaah,
Asyhaduallaa ilaaha illallaah,
Asyhaduanna muhammadarrasulullaah,
Asyhaduanna muhammadarrasulullaah,
Hayya 'alash shallaah,
Hayya 'alash shallaah,
Hayya 'alal falaakh,
Hayya falaakh,
Allaahu akbar, allaahu akbar,
Laa ilaha ilallaah.....

Tentu semua manusia dalam hidupnya menginginkan kemenangan dan juga menginginkan kebahagiaan. Seseorang yang menginginkan sebuah kemenangan, dalam hal apa saja, tentu ia sangat perlu dan rela menyiapkan segala sesuatunya agar ia menjadi menang.

Demikian pula seseorang yang ingin hidupnya bahagia. Ia akan rela berkorban apa saja. Sampai kadang-kadang kita lihat ada orang yang tersesat kemana-mana untuk sebuah kebahagiaan yang didambakannya. Mengapa banyak orang yang tersesat dalam mencari sebuah kemenangan? Karena banyak orang yang tidak tahu apa syarat kemenangan itu. Dan apa syarat untuk mencapai kebahagiaan itu.

Lihatlah! begitu indahnya seruan Bilal. Sangat perlu kiranya kita lakukan perenungan terhadap seruan itu. Agar manusia hidupnya menang dan bahagia.

Apa syarat untuk mencapai kemenangan? Menurut 'ilmu' nya Bilal, syaratnya hanya satu! Yaitu: kerjakan shalat.
Dirikan shalat dengan sebaik-baiknya.
Fahami maknanya.
Renungi nilainya.
Sadari manfaatnya.
Insya Allah akan kita dapatkan kemenangan itu. Jika kemenangan telah kita capai, maka kebahagiaan pun akan kita dapatkan.
Bahagia di dalam hidup ini!
juga yang lebih penting lagi, bahagia di hari akhir nanti..!

"...Hayya 'alash shallaah, Hayya 'alal falaakh,..." (...mari kita shalat, mari kita menuju kemenangan...)

QS. Al-Jumu'ah (62) : 9
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Haji Bukan Rekreasi

Apakah bedanya pergi haji dan pergi rekreasi...?


Pengalaman Pak Taufik Djafri

Hari itu, rumahku tiba-tiba menjadi begitu sunyi dari canda dan tawa. Seharian aku hilir mudik di dalam rumah. Tak karuan rasanya. Antara senang, sedih, haru dan juga gembira. Antara rasa syukur, dan cemas, menjadi satu dalam dada. Demikian pula kiranya yang dirasakan oleh istriku. Bahkan mungkin lebih dari yang kurasa. Hal itu terjadi karena besok pagi aku harus berangkat ke tanah suci untuk melakukan ibadah haji.

Anakku yang masih kecil, yang ketika itu berumur sekitar tiga setengah tahun, mungkin secara rasional tidak mengerti kalau besok pagi sudah harus kutinggalkan sendirian di rumah. Tetapi secara naluriah, rupanya ia merasakan. Seolah-olah ia mengerti kalau akan kutinggal dalam waktu yang cukup lama. Terbukti, sejak pagi ia selalu 'menempel'ku, seakan-akan tidak mau kutinggalkan. Kemana-mana minta digendong, dipangku, dipeluk dan sebagainya. Sungguh, kemanjaannya melampaui hari-hari biasanya....!

Malam itu udara di luar cukup dingin. Musim kemarau sudah mulai datang. Itulah saat yang membuat hatiku berdegup kencang. Seolah-olah hari itu adalah malam terakhirku berada di lingkungan keluarga. Sebab esok hari adalah hari dan tanggal yang telah ditetapkan oleh panitia pemberangkatan jama'ah haji, kloter dua embarkasi Surabaya.

Begitu suara adzan isya' dari masjid di kampungku usai, aku sekeluarga melakukan shalat berjamaah di rumah dengan begitu khusyu'. Itulah shalat berjama'ah isya' untuk terakhir kalinya bersama istri dan anakku, sebelum aku berangkat menunaikan ibadah haji di tahun itu. Sungguh, tak terkatakan indahnya, shalat yang seolah-olah merupakan shalat terakhir itu. Nikmat sekali rasanya...!

Setiap do'a dapat kuhayati dengan begitu nikmat. Dan, Tuhan benar-benar terasa begitu dekat. Cukup lama kami tenggelam dalam khusyu'nya shalat. Panjatan do'a begitu menggetarkan hati. Rintihan qalbu yang amat elok. Seolah bertemu dengan Dzat Yang Maha Indah. Kami pun enggan melepaskan saat-saat seperti itu. Aku merasakan pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla dalam dzikir asmaul husna yang luar biasa indahnya.

Selesai shalat, kami berdo'a bersama. Kupandangi terus wajah si kecil mungil yang duduk di sebelahku. Kami bertiga melaksanakan shalat isya' berjama'ah di kamar. Sebuah kamar yang tidak terlalu luas. Anakku yang masih berusia tiga tahun lima bulan itu, ikut mengamini setiap panjatan do'aku dengan penuh khusyu’. Ia mengikuti ritme do'a-do'aku dengan seksama. Layaknya seorang dewasa yang sudah mengerti akan arti benar dan salah.

Ah.., tak terasa ada setitik air mata yang mau jatuh di sudut mataku. Yang aku tahan supaya tidak ketahuan. Dalam keheningan bisikan do'a itulah terdengar beberapa derap langkah kaki di luar pintu rumah.

Oh.., rupanya beberapa teman, handai taulan, dan keluarga jauh, telah berdatangan. Mereka berkunjung ke rumah sekadar mengucapkan selamat jalan, memberikan do'a restu, semangat, agar aku lebih tenang, dan bisa beribadah dengan sebaik-baiknya. Menjalankan perintah Allah ke tanah suci.

"...Mari silahkan masuk, ayo masuk,...ayo masuk..." kataku.

Wah, ternyata banyak juga tetangga dan teman-teman yang datang. Sebuah keramaian, yang sakral dan khidmat. Suasana riuh, namun bernuansa ibadah terasa sekali malam itu. Teman-teman bercanda, sambil menghibur keluargaku yang akan kutinggalkan esok pagi. Di antara riuh canda kami itu, ada sebuah pesan dari seorang tetangga yang tergolong 'sepuh'. Kata-kata itu masih melekat dalam ingatan.

"...janganlah khawatir akan segala sesuatunya, baik kekhawatiran dalam perjalanan maupun kekhawatiran terhadap keluarga yang ditinggalkan, sebab engkau bertamu di rumah Allah. Tentu Allah akan menjaga semuanya..."

"...Bertamu di rumah Allah...! "inilah kata-kata pak Ahmad yang terus kuingat. Kata-kata bersahaja, tanpa dibuat-buat. Bahkan disampaikan dengan intonasi yang datar-datar saja...Tetapi kata itu, istilah itu, begitu menghunjam tajam di dalam hatiku.

Bersamaan dengan 'petuah' pak Ahmad itu, aku jadi teringat akan peristiwa bersejarah dalam suatu riwayat yang oleh Allah diabadikan di dalam Al-Qur'an al-Karim. Yaitu tentang ketinggian akhlak dan budi mulia seorang sahabat anshar, yang menghormati tamunya, seorang muhajirin.

Suatu ketika, Rasulullah saw menawarkan, siapakah di antara para sahabat yang bersedia menjamu seorang tamu dari kalangan muhajirin. Maka salah satu sahabat anshar menyediakan diri. Dan ia pun menyediakan tempat untuk keperluan bermalam di rumahnya bagi sahabat muhajirin yang dimaksud oleh Rasulullah tersebut.

Ketika telah sampai waktu makan malam, sang empunya rumah menjadi bingung karena ternyata di rumahnya tidak ada makanan sama sekali, kecuali sedikit makanan untuk anaknya saja. Selanjutnya setelah dilakukan musyawarah dengan sang istri, tamupun diajak makan bersama, dalam keadaan gelap gulita.

Suasana rumah itupun kemudian 'disetting' oleh pemiliknya, seolah-olah lampu penerangan di rumah sedang kehabisan minyak. Maka makanlah mereka dalam suasana gelap. Si empunya rumah berpura-pura ikut makan, karena memang tidak ada makanan di hadapannya, sedangkan sang tamu memakan makanan satu-satunya yang ada di rumah tersebut.

Keadaan dibuat sedemikian rupa, agar sang tamu tetap bisa makan dengan nikmat. Meskipun pemilik rumah perutnya keroncongan alias kosong, karena seharian tidak kemasukan apa-apa...! Begitu hebatnya, ketinggian budi dan akhlak pemilik rumah tersebut. Dengan hati yang tulus ia mengorbankan dan mengesampingkan keperluannya demi menghormati tamunya.

Dan yang lebih luar biasa adalah perbuatan baiknya itu tidak ingin diketahui oleh tamunya. Subhaanalah. Keikhlasan sang pemilik rumah, serta cara mereka menyambut dan menghormati tamunya tersebut, mendapat penghargaan yang luar biasa dari Allah Swt. Sampai-sampai diturunkan sebuah ayat yang sangat indah dari surat Al-Hasyr.

QS. Al-Hasyr (59) : 9
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Sungguh tepat, apa yang disampaikan pak Akhmad tadi. Allah Swt sangat menghargai orang yang menghormati tamunya. Keperluan orang lain lebih diutamakan dari pada keperluannya sendiri. Padahal, ia sendiri sangat memerlukan makanan yang hanya sepiring itu, untuk anaknya. Mengingat kejadian itu, aku jadi merenung...

Jika Allah demikian menghargai orang-orang yang menghormati tamunya, maka pastilah Allah pun sangat menghargai dan menghormati tamu-tamu-Nya. Sungguh, sekiranya ada seseorang yang datang bertamu ke 'rumah' Allah, pasti Allah akan menghormatinya. Menjaga dan memeliharanya. Dan insya Allah akan menolong dari berbagai kesulitan yang ada. Bahkan, akan memberikan kenikmatan yang tiada terkira.

Mengenang petuah pak Akhmad, aku semakin mantap dan yakin akan pertolongan Allah kepada hambaNya. Allah pasti akan memberikan sesuatu yang terbaik yang dibutuhkan oleh hamba tersebut. Dan saat berhaji, aku bakal menjadi salah satu tamu Allah Swt .

Maka dengan hati penuh harap, aku melaksanakan ibadah haji secara total. Inilah kesempatan untuk bertamu ke 'rumah' Dzat Pemilik Alam Semesta Raya, Yang Maha Kaya, Yang Maha Kuat, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Murah, dan Yang Maha Indah.

Dalam suasana hati yang seperti itu, tiba-tiba saja aku teringat kepada seorang teman yang berangkat ke luar negeri. Dia adalah Pak Suryo.. !

Pak Suryo berangkat ke luar negeri dengan keluarganya, anak dan istrinya. Perjalanan itu memakan waktu yang lebih lama dibanding perjalanan musim haji ke tanah suci. Meskipun para tetangganya mengetahui, bahwa pak Suryo sekeluarga esok pagi mau berangkat, suasana rumahnya sungguh sangat beda dengan suasana seseorang yang hendak berangkat ibadah haji.

Keberangkatan pak Suryo, sama sekali tanpa diliputi suasana haru. Padahal beberapa hari sebelumnya mereka sudah pamit kepada para tetangga. Tetapi saat-saat keberangkatannya, tak ada tetangga yang mengantar. Tak ada kerabat yang muncul. Semua berjalan biasa-biasa saja.

Meskipun pak Suryo akan melakukan perjalanan jauh, meninggalkan para tetangga dalam waktu yang cukup lama. Jangankan penghormatan dari para tetangga, saat pak Suryo berangkat naik taksi menuju bandara pun, tak ada tetangga yang keluar rumah, untuk mengantarnya.

Barulah aku sekarang merasakan, betapa tajam perbedaannya, antara pergi rekreasi dan pergi ibadah haji! Begitu nikmatnya pergi haji, dengan insan lain bisa begitu akrab. Tetangga bisa menjadi seperti saudara, yang seolah tak mau berpisah. Apalagi kepada anak-istri atau keluarga yang hendak ditinggalkannya.

Ya, memang pergi ibadah haji tidak sama dengan pergi rekreasi! Ada nilai universal yang begitu indah. Yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang akan berangkat rekreasi. Sebenarnya, jauh sebelum berangkat haji, aku sudah melakukan semacam pengamatan kepada tetangga atau kerabat yang akan pergi ibadah haji, dengan tetangga atau kerabat yang akan melaksanakan perjalanan jauh, tetapi sekadar rekreasi. Jarak tempuh sama-sama jauh, biaya perjalanan sama-sama besar, namun perbedaan 'hasil' yang didapat, sungguh menyolok!

Dari sekian perbedaan yang ada, antara pergi rekreasi dan pergi ibadah haji, yang paling signifikan adalah ketika mereka pulang dari perjalanannya masing-masing. Misalnya saja, ada lima puluh orang yang sama-sama pergi ke tanah suci, dan juga lima puluh orang yang pergi berrekreasi ke luar negeri.

Kalau diperhatikan, 'oleh-oleh' cerita dari kedua kelompok tersebut, sangat jauh berbeda. Lima puluh orang yang melakukan perjalanan ke tempat rekreasi, cerita mereka tentang perjalanan rekreasinya relatif sama, juga tentang keindahan alam, tentang suasana hati, tentang perbekalan, dan lain-lain, masing-masing orang bercerita dengan cerita yang relatif sama.

Tetapi, lima puluh orang yang pergi menunaikan ibadah haji, satu rombongan, naik pesawat yang sama, menginap di hotel yang sama, beribadah pada masjid yang sama pula, anehnya cerita mereka berlainan semua.

Mengapa? Karena perjalanan haji adalah perjalanan yang bukan sekedar perjalanan jasmani, tetapi lebih pada perjalanan ruhani yang sangat menakjubkan. Sebuah perjalanan yang sangat menggetarkan hati bagi siapa saja yang datang ke tanah suci dengan hati bersih. Setiap orang akan memiliki cerita yang berbeda. Suasana hatinya pun berbeda.

Seluruh perjalanan haji adalah ibadah yang sudah ditetapkan aturan mainnya. Secara jasmani perjalanan itu merupakan napak tilas nabi Ibrahim as dan Ismail as. Tetapi di balik napak tilas fisik itu, tersembunyi suatu pelajaran yang sarat dengan makna-makna kehidupan, yang berkaitan erat dengan kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Ketika pergi rekreasi, seseorang hanya ingin bersenang-senang yang sifatnya sementara saja. Tapi berhaji adalah sebuah perjalanan yang mengandung nilai spiritual yang sangat tinggi. Karena ia merupakan puncak dari rukun islam sebagai dasar dari syariat yang harus difahami dan dijalani. Pergi haji haruslah karena Allah. Bukan karena yang lain.

Ibadah haji bertujuan untuk mendekatkan diri secara total kepada Dzat Penguasa langit dan bumi ini. Dalam perjalanan itu haruslah dihindari perkataan-perkataan yang tak ada guna dan manfaatnya. Setiap jama'ah yang sedang melakukan ibadah haji, tiada henti-hentinya berdzikir dan menyebut asma Allah Yang Maha Tinggi.

Apabila dalam perjalanan untuk rekreasi, para penumpang bus atau pesawat nampak selalu bercanda ria, maka dalam perjalanan haji para jamaah sering tundukkan kepala. Sesekali terlontar kalimat tayyibah dari bibirnya dan kalimat talbiyah sebagai seruan telah datangnya seorang hamba menuju Allah Swt.

"...Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illalaahu, allaahu akbar...""...labbaika, allahumma labbaika, labbaika laa syarikalaka labbaiik, innal hamda wa nikmata laka wal mulka, laa syariikalaka..."

Inilah kalimat-kalimat yang bisa menghipnosis para jamaah haji. Dengan membaca kalimat-kalimat ini, hampir dapat dipastikan akan berderailah air mata para jamaah, karena tak kuasa dan tak bisa membendung lagi perasaan haru, bahagia, takut, dan rindu kepada Sang Penciptanya.

Maha suci Engkau Ya Allah. Segala puji bagiMu..,Tiada Tuhan selain Engkau, Engkaulah Dzat Yang Maha Besar itu. Ya Tuhanku, Aku telah datang kepadaMu, 'tuk memenuhi panggilanMu. Aku telah datang kepadaMu, 'tuk memenuhi panggilanMu, Yang sudah lama menjadi idaman hatiku. Untuk mengunjungi rumahMu. Baru kini terlaksana, 'tuk menyempumakan rukun islam ke lima,

TuhanKu. Tidak ada sekutu bagiMu. Segala puji-pujian dan perbendaharaan nikmat, Adalah milikMu semata. Bahkan kekuasaan mutlak ada di tanganMu jua. Tuhanku, Tiada sekutu bagiMu...

Satu hal lagi yang menjadikan perjalanan haji berbeda dengan sekedar bepergian atau rekreasi adalah ketentuan dari Allah Swt yang telah memberlakukan beberapa persyaratan agar haji kita diterima. Ketentuan tersebut adalah :

Dalam melakukan ibadah haji, dilarang rafats. Yaitu mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi, tidak senonoh atau melakukan persetubuhan.
Dalam melakukan ibadah haji, dilarang berbuat fasik.
Dalam melakukan ibadah haji, dilarang berbantah-bantahan
Dalam melakukan ibadah haji, sebaiknya melakukan perbuatan yang baik, sebab perbuatan apa saja akan diketahui oleh Allah Swt.
Dalam melakukan ibadah haji, bekal utama yang harus dibawa adalah bekal taqwa.

QS. Al-Baqarah (2) : 197
Musim (haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang telah menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa saja yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekal-lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepadaKu, hai orang yang berakal.

Selain persyaratan yang sudah tertera dalam surat Al-Baqarah tersebut, Ibadah haji adalah sebuah kewajiban. Terutama bagi meraka yang telah diberi kemampuan. Baik mampu dalam hal biaya, dalam hal kesempatan, atau dalam hal jasmani dan ruhaninya.

Di akhir ayat nomor 197 dari surat Al-Baqarah tersebut di atas, Allah menunjuk kepada orang yang mempunyai akal. Artinya bahwa yang bisa memahami jika taqwa adalah sebaik-baik bekal hanyalah orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang dalam aktivitas hidupnya selalu menggunakan akalnya. Karena hanya orang-orang berakallah yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Maka kemampuan yang dimaksud oleh ayat berikut ini tentulah di samping mampu dalam hal harta, mampu dalam hal kesehatan, mampu dalam kesempatan, juga harus mampu dalam hal ilmu. Karena melakukan ibadah tanpa bekal ilmu sungguh akan sia-sia dan sering tersesat. Baik dalam hal niat atau dalam proses pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Q.S. Ali Imran (3) : 97
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup (mampu) mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Untuk memberikan sebuah gambaran betapa pentingnya ibadah haji, dan betapa haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali mendapatkan hadiah yang sangat indah yaitu surga, maka Rasulullah saw memberikan sebuah motivasi yang sangat kuat pada kita semua tentang nikmatnya haji. Tetapi di sisi lain beliau juga memberikan sebuah peringatan betapa ruginya orang yang tidak cepat-cepat menunaikan ibadah hajinya jika ia telah di beri kemampuan.

Rasulullah saw, bersabda:
Hai semua manusia, Allah telah mewajibkan atasmu untuk haji. Maka berhajilah kalian. Dan siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata atau berbuat keji dan fasiq, ia akan keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia pada saat dilahirkan oleh ibunya. Dan melakukan ibadah umrah hingga umrah di tahun depan, menjadi penebus dosa yang terjadi di antara kedua umrah itu. Dan haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga.
(HR. Bukhari, Muslim)

Sesungguhnya seorang hamba yang Aku sehatkan badannya, dan Aku luaskan rezekinya, lalu dalam masa lima tahun tidak datang kepadaKu, sungguh ia akan kecewa dan rugi
(Hadits Qudsi, R. Albaihaqi, Ibn Hibban)

Satu pelajaran lagi yang dapat kita petik dari pelajaran haji ini adalah: ternyata badan kita yang sedang sehat ini, lantaran Allah-lah yang berkenan menyehatkannya. Hal itu dikarenakan meskipun kita berupaya dengan berbagai hal, kalau Allah menghendaki kita sakit, maka manusia takkan berdaya untuk menghalanginya. Jika ketentuan 'waktu sakit' telah tiba, maka terjadilah sakit.
Karena itulah Rasulullah saw mengingatkan kepada kita semua. Berhati-hatilah terhadap lima perkara, sebelum datang lima perkara lainnya.
Yaitu, kita harus waspada dan jeli menggunakan :
1. Waktu sehat, sebelum datang waktu sakit
2. Waktu muda, sebelum datang waktu tua
3. Waktu kaya, sebelum datang waktu miskin
4. Waktu sempat, sebelum datang waktu sempit
5. Waktu masih hidup, sebelum datang kematian

Ternyata rezeki yang kita dapatkan, yang menjadikannya adalah hanya Allah Swt. Sebab dengan berupaya seperti apapun, jika Allah belum menghendaki, maka suatu rezeki yang dikejar secara bagaimanapun, tetap belum menjadi haknya.

Sekedar untuk mengingatkan diri kita masing-masing, bahwa Allah adalah Sang Pemberi rezeki.

Sungguh, sering kita jumpai 'misteri' dalam lingkungan kita. Misalnya ada dua orang yang sama-sama mempunyai kemampuan yang sama, ilmu yang relatif sama, tenaga yang relatif sama, bahkan masing-masing adalah sebagai pekerja keras tak mengenal lelah.

Tetapi sering kita lihat, hasil akhir jumlah rejeki yang didapatkannya ternyata tidaklah sama. Yang satu hasilnya kurang dari yang diharapkan, sedang yang lain hasilnya berlebihan.

Bahkan secara ekstrim, sering kita lihat. Ada orang yang pekerjaannya santai-santai saja, tetapi ia mendapatkan hasil yang melimpah. Sementara ada seorang kawannya yang bekerja mati-matian siang dan malam, dan juga berdo'a tak putus-putusnya. Tetapi ternyata hasil yang dicapai sangat pas-pasan bahkan bisa dikatakan tidak mencukupi kebutuhan-nya.

Itulah hidup! Yang kadang kala nampak misteri. Karena itu sebagai hamba Allah kita harus pandai-pandai memanage hati dan berusaha memahaminya. Sebenarnya ada apa di balik misteri kehidupan itu semua.

Badan yang sehat, rezeki yang luas, ilmu yang tinggi, bukanlah merupakan tujuan akhir, tetapi masih merupakan tujuan antara. Selanjutnya dengan rezeki itu, dengan badan itu, dan dengan ilmu itu, manusia diseru untuk datang kepada Allah untuk mengabdikan dirinya. Menyembah dan beribadah. Demikianlah tujuan Allah mencipta manusia.

QS. Adz-Dzaariyaat (51) : 56
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Berangkat Dengan Keranda

Mengapa berangkat dengan Keranda...?


Malam itu kami semua yang berada di pondokan haji, mendapat informasi bahwa pesawat akan berangkat pukul 02.00 dini hari. Maka berbagai perasaan berkecamuk menjadi satu dalam pikiranku. Antara senang, haru, sedih, cemas. Tapi juga bersyukur. Karena, benar-benar aku akan berangkat menuju baitullah, yang sudah lama aku idam-idamkan selama puluhan tahun.

Setelah waktunya betul-betul tiba, kami semua yang tergabung dalam kloter dua, tepat pada pukul 01.30 dini hari masuk ke pesawat satu persatu.

Sungguh aku merasa ada sesuatu yang beda kalau dibandingkan dengan bepergian ke tempat lain. Meskipun sama-sama naik pesawat, jika pergi ke tempat lain suasana di dalam pesawat selalu ceria penuh sendau gurau dan tawa. Tetapi suasana di dalam pesawat kali ini sungguh berbeda. Semua jama'ah nampak serius. Di sana sini terdengar bisikan-bisikan do'a dari para jama'ah. Sehingga menambah suasana menjadi lebih ‘mencekam’.

Apalagi kondisi semacam itu terjadi pada malam hari, yang sunyi, yang jauh dari keramaian manusia pada umumnya. Kebetulan saat itu aku mendapat tempat duduk paling tepi, di dekat jendela. Sehingga aku bisa dengan leluasa melihat keluar jendela. Tak ada pemandangan lain kecuali kelap-kelipnya lampu bandara dan gelapnya langit tengah malam.

Setelah semua penumpang duduk sesuai dengan seatnya masing-masing, alhamdulillah tepat pukul 02.00 pesawat mulai bergerak. Berangkat menuju landasan pacu untuk terbang menuju tanah haram.

Satu lagi yang terasa nampak beda. Sejak pesawat bergerak pelan, berbelok arah untuk menuju landasan pacunya, semua yang ada di dalam pesawat terdiam bisu tak ada yang berbicara. Semua tertunduk dan terpaku. Masing-masing memandangi buku catatannya untuk berdo'a mohon perlindungan kepada Allah Swt. Karena Dialah Dzat Yang Maha Perkasa, yang menentukan hidup-mati manusia.

Aku melirik ke arah teman sebelahku. Aku memandang ke arah jamaah di depanku. Dan juga kucoba melihat orang-orang yang ada di belakangku. Semua membaca doa, bermunajat kepada Allah dengan begitu khusyuk.

Ketika semua orang membisu dalam kesepian, tiba-tiba terdengar suara menderu mesin pesawat. Maka pada saat yang bersamaan dengan suara menderu itu, kami rasakan pesawat mulai bergerak agak cepat dan akhirnya melesat naik ke angkasa yang gelap. Yang hitam, dan pekat.

Kembali aku melirik ke luar jendendela,..akh! Tak terlihat lagi kehidupan sekeliling kami. Semua yang ada di luar pesawat warnanya hitam. Seolah tak ada kehidupan lain. Selain kami yang ada di dalam pesawat... Betapa ngerinya...! Ternyata kami, para jamaah calon haji yang berjumlah sekitar lima ratusan orang tersebut, hidup ‘menyendiri’ diatas bumi yang tambah lama bertambah nampak kecil itu....subhaanallaah.

Tanpa terasa kupandangi keberadaan kami. Wajah setiap orang jamaah, perilaku mereka, juga semua benda dan interior yang ada di dalam pesawat. Ketika kuarahkan pandangku ke atap pesawat yang bentuknya memang agak lengkung, tiba-tiba pikiranku melayang pada sebuah benda atau kendaraan yang sering dipakai untuk mengangkut jenazah yang biasa aku saksikan di kampungku. Kendaraan istimewa yang di angkat oleh para pentakziah ketika menghantar jenazah ke pemakaman.

Kendaraan itu diangkat oleh sedikitnya empat orang. Itulah kendaraan para jenazah, yang ‘roda’nya terdiri dari manusia, yang dipakai untuk menghantarkan jasad manusia ke tempat kuburnya. Akh..! Agak merinding juga bulu kudukku. Di luar gelap sekali. Di dalam pesawat semua orang berdo'a. Deru suara pesawat, seolah suara jerit tangis anak manusia yang meraung-raung menghantarkan suatu proses pemakaman hamba Allah yang berjumlah ratusan orang yang berada di dalam sebuah keranda besar. Dan keranda itu kini melesat dengan cepat menuju ketinggian langit yang tak berujung pangkal. Membawa para calon jenazah yang berjumlah lima ratus orang lebih...

Tanpa kusadari aku teringat pada proses pemakaman salah satu tetanggaku. Ia meninggal sekitar satu bulan yang lalu. Seorang ibu yang meninggalkan tiga orang anaknya.

Masih teringat dalam benakku, ketika keranda sudah sampai di tepi liang kuburnya, masuklah tiga orang ke liang lahat untuk melakukan proses penguburan. Salah satu dari ketiga orang tersebut adalah anak kandung dari sang ibu yang meninggal tersebut.

Dengan wajah yang nampak sedih, sang anak pun mengubur jenazah ibunda dengan timbunan tanah dengan penuh hati-hati. Melihat ekspresi sang anak tersebut, seorang tetanggaku yang kebetulan berdiri di dekatku secara spontan berkata dengan setengah berbisik. Sebuah kalimat yang ditujukan pada dirinya sendiri. Dan kata-kata itu selalu kuingat dengan kuat.

Katanya :
"...ternyata beginilah akhir dari sebuah cerita hidup seseorang..." Aku tertegun dengan kata-kata yang bernada filosofis itu. Sebuah kalimat yang diucapkan secara spontan oleh orang-orang kampung, orang biasa yang notabene bukan seorang ulama, bukan pula seorang ustadz.

Tapi aku sungguh terpesona dengan kalimat itu. Setelah aku renungkan kata-kata itu, sungguh benar adanya...! Hidup adalah sebuah cerita yang unik, sejak manusia dalam buaian ibundanya, sampai kembalinya ia kepada pangkuan Sang Pencipta. Seluruh perjalanan hidupnya sangat menarik untuk direnungkan. Kalau kita cemati, ternyata semua persoalan yang terjadi dalam hidup ini hanyalah bunga-bunga hidup belaka. Dibalik semua persoalan dan kisah kehidupan itulah, tersimpan nilai mahal yang perlu kita renungkan makna hakikinya.

Ketika kita menyaksikan sebuah pemakaman, sebagai akhir dari perjalanan seseorang di dunia, akankah terpikir oleh kita...?
Mengapa kemarin kita kikir ?
Padahal yang kita kikirkan tidak lebih adalah harta yang tidak pernah dibawa pulang ke kampung keabadian. Ketika kita menyaksikan sebuah jenazah yang sudah tak berdaya semacam itu, kita pun akan merenung...

Mengapa ketika masih hidup kita pernah sombong kepada saudara kita lainnya? Padahal manusia tak memiliki apa-apa kecuali hanya sebuah tubuh terbujur kaku yang minta tolong bantuan orang lain untuk masuk ke peristirahatan terakhirnya...

Ketika kita menyaksikan proses pemakaman seperti itu, Mengapa pula kadang kita masih menyandarkan amal kebajikan kita pada orang lain?
Padahal ketika jenazah masuk ke liang kuburnya, banyak manusia di atas tanah pekuburan yang tak ambil peduli terhadap si fulan yang menghadap Sang Pencipta...

Tinggallah si fulan yang mempertanggungjawabkan segala perbuatannya secara sendiri. Tanpa bantuan orang lain lagi..

Akh...! Inilah akhir dari sebuah cerita kehidupan yang perlu untuk direnungkan...Sungguh tak pantas kita kikir, sungguh tak pantas kita sombong, sungguh tidak pada tempatnya kita merasa paling kuat, paling berkuasa, atau merasa banyak temannya... Karena di tanah itu, di rumah itu, di tempat itu, seseorang tidur sendiri, merana sendiri, menyesal sendiri, dan ia akan menanggung akibat dari perbuatannya ketika hidup di dunia. Penyesalan yang hebat pun tak ada gunanya lagi...

Di bagian akhir dari surat Yaasiin diceritakan betapa orang-orang kafir masih belum percaya bahwa nantinya mereka akan dibangkitkan, dan mereka akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

QS. Yasin (36) : 78-82
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu." Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.

Dan merekapun menyesal luar biasa, setelah mengetahui sendiri akibat dari perbuatannya, yang ternyata mereka akan memetik hasilnya. Penyesalan itu tergambar dengan jelas dalam surat al-mukminuun berikut ini.

QS. Al-Mukminuun (23) : 99 -100
(Demikianlah orang-orang kafir itu) hingga apabila telah datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata :"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan."

Ketika teman sebelahku menawarkan makanan ringan untukku, aku agak terkejut. Dan aku pun terbangun dari lamunanku yang cukup panjang tentang kematian.

Perjalanan di atas awan menuju tanah haram yang memakan waktu cukup lama itu, semakin menarik. Dalam perjalanan yang cukup melelahkan aku mendapat banyak pelajaran tentang hidup. Aku pun semakin bisa mengambil kesimpulan, bahwa semua yang dimiliki manusia ternyata menjadi tak ada artinya.

Harta, jabatan, ilmu, umur, anak, istri/suami, semua seperti tak ada nilainya lagi. Dan semua itu insya Allah akan menjadi bernilai dengan indah, hanya jika dikaitkan dengan Sang Maha Pengasih, Allah Swt.

Seorang hamba dalam perjalanan hidupnya, jika semakin bertambah mendekat kepada Allah Swt, semakin nampak betapa semua menjadi kecil. Yang besar hanya Dia. Yang nampak hanya Dia. Yang dekat hanya Dia...

Pesawat bergerak semakin meninggi. Semakin menjauhi kota Surabaya. Kulihat lampu-lampu bandara semakin tak kelihatan lagi. Bahkan lampu-lampu kota Surabaya yang begitu terang, yang jumlahnya sangat banyak itu semakin lama semakin sedikit, dan nampak semakin kecil, yang akhirnya hilang. Tak nampak lagi....
Allaahu akbar..!

Aku semakin tenggelam dalam pikiranku. Sekian ratus orang yang berada di dalam pesawat seolah kumpulan debu atau bahkan lebih kecil lagi. Dan kini sedang melayang di angkasa raya yang luasnya tak berbatas, dalam kegelapan malam... Akh, betapa kecilnya, dan betapa lemahnya diri manusia.

Arti dan keberadaan manusia terasa menjadi semakin kecil, ketika para jamaah melantunkan dzikirnya secara berulang-ulang. "...subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha ilallaahu, allaahu akbar..., " "...subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha ilallaahu, allaahu akbar..., " "...subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha ilallaahu, allaahu akbar..., "

Sebuah alunan yang terasa begitu indah. Merdu sekali. Menyentuh kalbu. Suasana ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Meskipun aku sering melakukan dzikir semacam itu. Keindahan alunan melodi itu terjadi dan tercipta secara harmoni. Walaupun secara spontanitas.

Hal itu dikarenakan penghayatan dan penjiwaan yang luar biasa dari hati para jamaah yang pasrah. Yang semakin merasa tak berdaya. Sungguh benar kata Rasulullah, bahwa orang yang paling pintar dalam hidupnya bukanlah orang yang punya ilmu pengetahuan yang tinggi, atau orang yang menguasai berbagai macam ilmu yang tak tertandingi. Tetapi orang yang paling pintar, kata Rasulullah adalah siapa saja di antara kalian yang sering ingat akan mati, dan selalu berusaha untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya. Agar bisa bertemu dengan Dzat Yang Maha Tinggi dalam keadaan ridha dan diridhai.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw,:"...Ya Rasul, siapakah orang yang paling pintar itu?..." Rasul tercinta menjawab :
" ...Aktsaruhum dzikran lil mauti wa asyad duhumusti' daadu lahu, ulaa ika humul akyaasu, dzahabuu bi syarafiddunya wa karaa matil aakhirah"
yaitu siapa saja di antaramu yang terbanyak mengingati mati, dan yang lebih keras mengadakan persediaan baginya. Mereka itulah orang-orang pintar. Yang pergi dengan kemuliaan dunia, dan sekaligus kehormatan akhirat.
(HR. Ibnu Majah)

Sungguh sangat masuk akal, apa yang disampaikan Rasulullah itu. Dalam kondisi semacam itu, manusia tak punya pegangan lain kecuali berpegang pada tali Allah, sebagai satu-satunya Dzat Penentu hidup dan mati.

Mengapa mengingat mati lebih pintar dari yang lainnya? Sebab keadaan ketika mati mencerminkan sukses atau gagalnya seseorang dalam perjalanan hidupnya. Mati adalah ending kehidupan yang dapat dipakai sebagai ‘tanda’ apakah seseorang berhasil atau tidak dalam kehidupannya. Waktu dunia sangatlah pendek dibanding dengan waktu akhirat. Dan peristiwa mati adalah merupakan pintu masuk pada kehidupan yang sesungguhnya.

Yang aku rasakan pada saat seperti itu adalah: semua yang ada, yang selama ini kucari, ternyata bukanlah kepunyaanku. Semua yang kudapatkan selama hidup ini, ternyata bukanlah dalam kekuasaanku. Waktu yang kumiliki selama ini, ternyata begitu cepatnya berlalu.

Tiba-tiba saja aku dan juga mungkin semua orang akan merasa, bahwa waktu untuk hidup yang tersedia, hanya seperti satu hari saja. Kalau waktunya sudah tiba, umur empat puluh tahun, sungguh seperti satu hari saja. Bahkan umur tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun atau bahkan lebih, juga hanya seperti satu hari saja....
Barulah aku mengerti mengapa Allah Swt, bersumpah Demi Waktu. Begitu pentingnya waktu yang disediakan Allah bagi manusia. Sayang, banyak sekali manusia tidak menyadarinya...

Dan keranda yang kami tumpangi pun terus melesat dengan cepat menuju tanah haram. Pesawat Boeing dengan kapasitas 540 orang itu ternyata tidak lebih dari sebuah titik yang lebih kecil dari sebutir debu yang melayang di angkasa raya yang luasnya tak terkira...
Ya Allah Ampunilah kami...

Kami baru menyadari betapa kecilnya diri manusia di alam semesta ini. Apalagi di hadapanMu Dzat Yang Maha Perkasa...
"...astaghfirullaahal adziim..., Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha ilalaahu, allaahu akbar..."

Setiap kehidupan manusia, masing-masing kita tidak ada yang mengetahui kapan dan di mana berhentinya. Karena hidup adalah bagaikan garis lurus yang suatu saat akan menjumpai titik akhir.

Hanya saja setiap titik akhir dari kehidupan manusia, tak satu pun yang mengetahuinya. Tak satu pun yang mengetahui 'jadwal' keberangkatannya. Karenanya, setiap manusia haruslah selalu berjaga-jaga atasnya.

Menurut ilmu astronomi, alam kita ini melengkung. Baik yang ada di alam kecil (mikrokosmos), maupun yang ada pada alam besar (makrokosmos). Bahkan permukaan bumi, planet-planet lain, bulan, matahari atau pun alam semesta raya. Semua melengkung, dan membentuk lintasan-lintasan yang berbentuk ellips.

Maka, kita pun kini berada di dalam keranda super raksasa yang terus mengembang, dan meninggi membawa peradaban manusia menuju titik akhir zaman. Pada titik itulah setiap manusia akan dimintai pertanggungan jawabannya atas segala perbuatan ketika hidup di dunia. Sungguh, tak ada yang bebas dari kematian. Karena kematian itu sendiri adalah bagian dari kisah perjalanan anak manusia menuju al-Khalik Yang Maha Tinggi.

Perjalanan manusia dari alam ruh, beralih masuk ke alam rahim. Dari alam rahim ibunda melalui proses kelahiran beralih masuk ke alam dunia. Dari alam dunia melalui proses maut atau proses kematian beralih masuk ke alam barzah. Dari alam barzah, melalui proses kebangkitan manusia akan beralih masuk pada kehidupan akhirat. Dan akhirnya semua makhluk akan kembali kepada Ilahi rabbi, Dzat Sang Penguasa seluruh alam di hari kemudian nanti.

QS. An-Nisaa' (4) :78
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)': Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

Tentang mati ini, sering kali banyak orang yang lupa. Sehingga malaikat Jibril pernah berpesan kepada rasulullah saw. Dengan maksud agar disampaikan kepada kita semuanya.

Hiduplah semau-mu, tetapi ingatlah bahwa suatu saat engkau mati...
Berbuatlah semau-mu, tetapi ingatlah bahwa perbuatan apapun yang engkau lakukan akan dibalas sesuai dengan yang engkau lakukan itu...
Cintailah segala yang engkau cintai, tetapi ingatlah bahwa suatu saat engkau akan mengucapkan selamat berpisah dengannya....

Bekal Paling Utama

Apa bekal utama kita dalam hidup ini...?


Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang berbeda dengan ibadah lainnya. Misalnya shalat, puasa atau zakat. Perbedaan yang nampak jelas adalah bahwa ibadah haji harus dikerjakan di tanah haram. Sehingga jama'ah yang tempatnya di luar tanah haram harus pergi ke sana untuk melakukan ibadah tersebut. Sehingga sudah barang tentu siapa saja yang pergi berhaji haruslah mempertimbangkan perbekalan.

Pertanyaannya, sudahkah setiap jamaah mengurusi dan mempersiapkan perbekalannya? Ketika hal tersebut kutanyakan pada para jamaah yang akan berangkat ke tanah suci, mereka rata-rata menjawab bahwa perbekalan yang dimaksud adalah perbekalan material dan latihan-latihan secara fisikal. Antara lain: uang, makanan, pakaian, obat-obatan, dan juga persiapan fisik.

Bahkan ada di antara teman yang melatih fisiknya setiap hari berjalan di bawah terik matahari.
Apa alasannya? agar nanti di sana bisa kuat melakukan ibadah.

A. Bekal uang.

Bekal ini secara umum adalah sangat penting. Pertimbangannya, dengan adanya uang apalagi pergi ke lain negara, tentu banyak hal yang akan dapat diselesaikan dengan mudah. Ketika aku bertanya kepada seorang temanku :
" Apakah sudah siap?",
Pak Djoko menjawab :
"...saya sih sudah slap. Tapi saya tidak bawa uang secara pribadi kecuali yang telah diberikan oleh pemerintah... untuk biaya hidup di sana." Teman saya yang lain nyeletuk :
"...untung saja saya sudah menabung sejak dulu, sehingga saat berangkat ini saya sudah siap dengan perbekalan uang yang cukup...! Ya maklumlah saudara banyak, teman banyak dan tetangga pun cukup banyak. Sehingga saya nanti bisa bawa oleh-oleh yang banyak pula untuk mereka..." Tiba-tiba Pak Joni mendekati kami yang sedang berbincang-bincang.
Katanya :
"...Wah, alhamdulillah, saya masih memiliki simpanan uang dollar cukup banyak, sehingga nanti bisa saya tukarkan di sana untuk keperluan membeli barang-barang berharga..."

Aku tepekur sendiri mendengar berbagai macam kata hati mereka tentang perbekalan uang. Dalam hati aku hanya bisa bertanya, apakah sampai seperti itu persiapan ibadah haji ini? Perjalanan haji adalah perjalanan menuju Allah. Sementara harta adalah sekedar perhiasan belaka. Tentu bekal uang bukanlah sesuatu yang utama Pikirku.

QS. Al-Kahfi (18) : 46
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh, adalah lebih baik pahalanya, di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

B. Bekal makanan.

Dalam kondisi tertentu, ketika lidah sulit nnenyesuaikan diri dengan makanan asing, maka bekal makanan seolah-olah menjadi sesuatu yang sangat penting artinya. Apalagi saat-saat tahun sembilan puluhan atau bahkan sebelum itu. Keberadaan makanan yang tersedia di Mekah atau pun di Madinah belum seperti sekarang ini. Sekarang, hampir semua jenis makanan di tanah air sudah tersedia dijual di sana.

Sambil menunggu pemberangkatan, aku memperhatikan beberapa jamaah ibu-ibu yang bercanda sambil sesekali terdengar ketawa lirihnya.

Mereka saling menujukkan makanan yang dibawanya. Bahkan makanan itu mereka sembunyikan di dalam tas pakaian mereka. Ada yang membawa bumbu masakan tertentu, ada yang membawa sambal kering, ada yang membawa ikan asin kesukaannya.... Wah rame sekali pembicaraan mereka. Terdengar salah satu dari mereka berkata : "...saya kalau makan tidak ada sambalnya, wah, rasanya kok kurang lengkap ya.."
Yang lainnya nyeletuk :
"...iya bu, saya pun demikian. Kalau tidak ada ikan asin, wah, bisa-bisa makan saya hanya sedikit. Padahal kan katanya kalau makan haruslah yang banyak, agar badan kita selalu sehat...hi hi hi.."

Mereka terus melanjutkan canda-tawanya berbincang tentang makanan kesukaannya masing-masing. Akupun semakin tepekur dibuatnya...

C. Bekal Pakaian

Bekal lain yang sering diperbincangkan untuk disiapkan oleh jamaah haji adalah pakaian. Berikut ini Allah berfirman.

QS. Al-A'raaf (7) : 26
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Menurut ayat tersebut, ada tiga macam pakaian :

1. Pakaian penutup aurat
Adalah pakaian untuk menutupi tubuh. Karena pada tubuh manusia ada aurat yang harus ditutupi agar tidak terlihat oleh manusia lain yang tidak ada hak baginya. Pakaian penutup aurat ini sudah berlangsung secara kodrati sejak manusia pertama dicipta oleh Allah Swt. Maka dengan pakaian penutup aurat ini manusia pertama itu terjaga dari dosa. Tetapi setelah terjadinya proses godaan setan kepada manusia, terbukalah penutup ini. Sehingga Allah menyuruh manusia pertama itu 'turun' mendiami bumi.

QS.Al-A'raaf (7) : 27
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

2. Pakaian untuk perhiasan
Pakaian berfungsi sebagai perhiasan bagi manusia. Begitulah salah satu fungsinya. Dalam kaitan dengan hal tersebut Allah berfirman sbb.

QS. An-Nur (24) : 31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Berbicara tentang perjalanan haji, maka yang termasuk dalam pakaian perhiasan ini tentu segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keperluan dalam perjalanan itu. misalnya saja : Baju, celana, jaket, sandal japit, sepatu, kaca mata, topi....dll yang sering kita lihat sebagai perlengkapan dan perhiasan setiap manusia. Itu semua sangat penting selama dibutuhkan dan diperlukan demi kenyamanan dalam perjalanan.

3. Pakaian Taqwa
Pakaian taqwa adalah pakaian yang terbaik menurut ayat Al-qur'an Surat Al-A'raaf : 26.

Mengapa pakaian taqwa dikatakan sebagai pakaian yang terbaik? Karena taqwa memiliki variable yang sangat lengkap sebagai pelindung diri manusia. Tentang variable taqwa, dapat kita lihat pada Surat:
QS. Al-Baqarah (2) : 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Jadi, orang yang taqwa adalah orang yang benar imannya.
Yaitu mereka yang :
1. Beriman kepada Allah
2. Beriman kepada hari kemudian
3. Beriman kepada malaikat
4. Beriman kepada kitab-kitab Allah
5. Beriman kepada nabi-nabi
6. Memberikan harta yang dicintainya
7. Memerdekakan hamba sahaya
8. Mendirikan shalat
9. Menunaikan zakat
10. Menepati janji
11. Sabar dalam kesempitan dan penderitaan

Di ayat lain, yaitu di surat Ali 'Imran: 17, disebutkan bahwa identitas orang taqwa adalah: orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Jadi menurut ayat tersebut, ada lima ciri bagi orang yang bertaqwa.
Yaitu :
1. Sabar
2. Benar / jujur
3. Taat / patuh
4. Menafkahkan harta di jalan Allah / Peduli pada orang lain
5. Selalu mohon ampun di larut malam

D. Bekal Obat-obatan.

Lain lagi dengan Pak Yanto. Memang Pak Yanto ini kebetulan dalam kesehariannya mempunyai fisik yang lemah. Setiap hari ia selalu mengkonsumsi obat-obatan untuk urusan kesehatannya. Ketika waktu pemberangkatan telah tiba maka masalah obat tidak pernah ketinggalan dalam pikirannya. Bahkan setiap orang yang dijumpainya, ia tanyakan apakah obat pribadinya sudah dibawa atau belum.

Setiap jama'ah menjadi hafal akan kebiasaan pak Yanto yang selalu bertanya pada orang lain tentang bekal obat. Bahkan ada kecenderungan para jama'ah, yaitu teman-temannya pak Yanto, mereka menjadi bosan dan jemu akan pertanyaan itu. Seolah-olah tak ada masalah lain selain obat. Istrinya pun sampai kesal kalau sudah berurusan tentang obat. Sebab pak Yanto ini kecenderungan mempunyai kekhawatiran yang terlalu berlebihan akan kesehatannya.
"...Padahal penyakitnya bukanlah penyakit yang berat, tetapi sekedar pusing dan masuk angin belaka..." kata istrinya.

E. Bekal Fisik.

Kekuatan hanyalah kepunyaan Allah. Fisik manusia lemah tanpa kekuatan dariNya. Karena itu bekal kekuatan fisik tanpa mendapatkan ridha dari Allah adalah sia-sia belaka. Sehingga kesimpulannya, jika ingin mendapatkan kekuatan, maka bekalnya adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt, agar diberi kekuatan.

Mengapa harus demikian? sebab semua Kekuatan adalah milik Allah!

QS. Al-Baqarah (2) : 165
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

QS. An-Nisa (4) : 139
(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

QS. Al-A'raf (7) : 69
Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada Kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Seperti halnya Ibrahim ketika mencari tuhan yang wajib disembah. Ia ke mana-mana mencari tuhan yang sesungguhnya. Dan ternyata tidak langsung bisa ditemukannya. Dikiranya matahari adalah tuhan yang patut disembah, ternyata bukan! Dikiranya bulan adalah tuhan, dikiranya bintang gemintang itulah tuhan.

Dan Setelah berulang kali ia tersesat dan keliru, maka akhirnya bertemulah Ibrahim dengan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai tuhannya alam semesta raya.

Demikian pula dengan perbekalan yang dibutuhkan oleh para jama'ah haji. Ketika para jamaah banyak yang menyangka bahwa bekal utamanya adalah uang, bekal utamanya adalah pakaian, bekal utamanya adalah makanan, bekal utamanya adalah fisik yang sehat,...atau yang lainnya, maka Allah pun memberi tahu dengan perantaraan Al-Qur'an.

Ternyata bekal utama untuk sebuah perjalanan haji bukanlah itu semua. Bukan uang, bukan pakaian, bukan makanan, bukan obat-obatan, bukan juga fisik yang prima. Meskipun itu semua juga penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bekal taqwa.
Karena itu Allah Swt menyatakan dalam Al-Qur’an :
"fainna kahirazzaadittaqwa" (sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah bekal taqwa).

Apabila Sang Pemilik rumah sudah menyataka demikian, maka tentulah para tamunya harus tahu diri. Carilah bekal taqwa sebanyak-banyaknya da sebaik-baiknya...

InsyaAllah semuanya akan menjadi mudah..

Bersama Allah di Kota Madinah

Pelajaran apa yang didapat pertama kali di tanah Haram...

Sesungguhnyalah, 'sabar' adalah sebuah kata yang gampang sekali diucapkan. Ia hanya terdiri dari lima huruf. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kata ini begitu akrabnya dengan setiap persoalan.

Seorang guru memberi nasehat kepada muridnya. Seorang ibu atau ayah memberi nasehat kepada anak-anaknya. Seorang teman memberi nasehat kepada teman lainnya. Seorang pemimpin memberi nasehat kepada anak buahnya. Bahkan seorang da'i memberi nasehat kepada khalayak atau para audiens yang mendengarkan petuahnya. Dan mungkin masih banyak lagi....!

Tetapi begitu seseorang terkena permasalahan sendiri, maka 'nglakoni' sabar itu begitu beratnya. Tidak semudah seperti ucapan yang sering muncul dari seseorang untuk orang lain. Begitu ringannya, begitu enaknya, begitu gampangnya seseorang meluncurkan kalimat sabar. Tetapi memang perilaku sabar itu sesuatu yang sangat manusiawi.

Setiap orang akan diuji dengan 'kata-kata' itu. Setiap orang akan pernah merasakan suatu persoalan yang akan melibatkan perilaku sabar. Allah memberlakukan semua orang terkena permasalahan. Yang dengan permasalahan itu, Dia justru akan menguji siapa orang-orang yang menjadi hamba yang tulus dan akan lulus. Atau, siapa pula yang gagal dalam drama kehidupan di panggung dunia ini. Tak ada satu pun manusia yang tidak bertemu dengan persoalan, yang akan mengakibatkan seseorang harus berperilaku sabar. Terpaksa atau tidak.!

Seorang yang kaya, akan terkena persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan kekayaannya.
Seorang yang tinggi ilmunya akan terkena persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan ketinggian ilmunya.
Seorang yang sehat dan kuat akan terkena persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan tubuhnya.
Seorang pejabat yang mempunyai pengaruh yang besar sekali pun, ia akan terkena persoalan pada titik kelemahannya. Kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya tidak akan bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalannya.

Semua orang akan mengalami suatu kondisi dimana pada saat itu ia harus menggunakan kesabarannya untuk bisa keluar dari permasalahan.

Apakah dia seorang pemimpin, rakyat biasa, orang pandai atau orang miskin. Bahkan nabi dan rasul pun telah 'diberi' oleh Allah dengan suatu persoalan hidup yang sangat berat dan rumit, justru untuk menunjukkan kepada manusia, bahwa ujian dan cobaan berlaku bagi siapa saja...

Begitu juga dengan para jamaah haji. Di kota Madinah, setelah semua jamaah turun dari bus yang mengangkut dari Bandara King Abdul Azis, dan berhenti di maktab yang telah disediakan bagi rombongan, maka 'keakuan' para ketua rombongan muncul.

Mereka berebut tempat di Maktab demi rombongannya masing-masing. Ketua rombongan saling bertengkar memperebutkan kamar demi anak buahnya. Akh, aku betul-betul terkejut sampai aku tertegun. Tak habis mengerti.

Ketika kami sesama 'kelompok terbang' berangkat dari tanah air, kami begitu akrabnya. Begitu mesranya. Saling tolong-menolong menomor duakan diri sendiri demi untuk kepentingan orang lain. Bayanganku, harapanku, tentu sesampai di tanah haram nanti kita semua bertambah saling setia. Saling menolong bagi yang susah.

Tetapi saat itu sungguh aku agak kecewa. Untung hal itu tidak berlangsung lama. Ada seseorang yang melerai. Ada salah satu ketua rombongan yang lebih memilih untuk mengalah dari pada harus bertengkar dengan sesama.

Subhaanallah..., rupanya inilah pelajaran pertama di tanah haram.! Tentang sabar.

Begitu banyak Al-Qur'an memberi pelajaran tentang sabar. Tidak kurang dari tujuh puluh kali, Allah memerintahkan agar manusia selalu bersabar atas ujian dan cobaan yang menimpa. Bahkan Allah Swt memberi motivasi kepada setiap orang yang bisa bersabar dengan balasan yang tiada terkira.

Dengan perilaku sabar Allah akan memberi berbagai keutamaan. Sebab memang perilaku sabar adalah sangat istimewa. Sabar menunjukkan bahwa orang tersebut bisa memanage hatinya. Padahal memanage hati bukanlah perkerjaan yang mudah. Sabar adalah pekerjaan hati.

Sebuah peribahasa menunjukkan bahwa betapa sulitnya memanage dan mengetahui keberadaan sebuah hati.
" Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Luasnya laut selalu ada pantainya, luasnya hati tiada bertepi."

Karena itu, orang yang bisa bersabar apabila ditimpa dengan persoalan, maka sungguh Allah akan mengganti dengan berbagai reward yang kadang-kadang kita tidak pernah menyangkanya. Sungguh Allah selalu bersama dengan orang yang sabar.

1. Orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang lebih baik.
QS. An-Nahl (16) : 96
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Termasuk orang-orang yang bila dianiaya, ia membalas dengan kebaikan. Maka itulah orang yang sabar. Bahkan mereka akan diberi balasan dua kali lipat berkat kesabarannya.

2. Orang yang sabar diberi pahala dua kali lipat.
QS. Al-Qashash (28) : 54
Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.

3. Orang yang sabar diberi pahala tanpa batas.
QS. Az-Zumar (39) : 10
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada. Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

4. Orang yang sabar selalu bersama Allah.
QS. Al-Anfal (8) : 46
Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

5. Orang yang sabar adalah yang khusyu'.
QS. Al-Baqarah (2) : 45
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

6. Orang yang sabar adalah yang benar imannya.
QS. Al-Baqarah (2) : 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

7. Orang yang sabar mempunyai kekuatan sepuluh kali lipat
QS. Al-Anfaal (8) : 65
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.

8. Orang yang sabar memiliki sifat yang baik
QS. Fushshilat (41) : 35
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

Rasulullah saw, bersabda:
"Sabar itu separuh dari iman"
(HR. Abu Na'im, dari Ibnu Mas'ud)

Sungguh hebat perilaku sabar itu. Sehingga Allah Swt memberikan begitu banyak reward bagi orang yang sabar. Maka pantaslah jika syarat utama bagi orang yang memiliki derajat taqwa adalah orang yang memiliki sifat sabar.

9. Sabar adalah identitas orang taqwa.
QS. Ali-Iimran (3) : 15-17
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Yaitu) orang-orang yang berdo'a: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Arti Alif Lam Mim

Tahukah anda, apa arti dan makna 'alif laam Miim'...?


Tiba-tiba saja, aku terhenti membaca lembaran pertama Al-qur'an itu. Dan akupun tak kuasa lagi untuk melanjutkannya... Mataku berkaca-kaca. Kutahan tetesan air mataku, sebisanya. Ah! tidak bisa! Bahkan ada air mata yang menetes jatuh ke bajuku.

Aku tak sanggup berucap. Tenggorokkanku terasa sakit. Lidahku kelu. Nafasku memburu. Tambah lama, air mataku semakin tak terbendung. Akhirnya berderai juga dan kubiarkan berjatuhan. Mengalir deras, entah membasahi apa saja yang ada di bawahnya.

Aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkin haru, mungkin rindu, mungkin takut, atau bahkan mungkin ada perasaan cemas. Semua bercampur menjadi satu. Tak bisa kugambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Semua rasa ada di dalam qalbu.

Semua itu terjadi ketika pandangan mataku terpaku pada ayat pertama surat Al-Baqarah yang berbunyi "alif laam miim..." Bahkan tanganku yang membawa kitab Al-Qur'an sempat bergetar menahan gejolak hati yang tak karuan rasanya.

Itulah suasana hatiku ketika untuk pertama kali aku masuk ke masjid Nabawi. Aku bersama-sama dengan banyak orang masuk ke masjid Rasulullah. Saat itu aku tak mengetahui arah. Belok kanan, belok kiri atau lurus, aku tak tahu. Aku terus maju mengikuti saja kemana arah langkah kakiku membawa.

Akhirnya aku melihat ada tempat kosong dalam sebuah shaf. Aku pun menuju ke tempat itu. Ku lakukan shalat dua rakaat. Setelah selesai aku mengambil kitab Al-qur'an untuk ku baca. Ketika aku menebarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri, betapa terkejutnya aku. Karena tanpa kusadari aku sudah berada di dekat makam Rasulullah... Dan ternyata itulah yang disebut sebagai Raudhah. Sebuah taman surga yang selalu ku idamkan sejak aku mengikuti manasik haji dahulu. Ternyata saat itu tanpa kusengaja aku sudah berada di dalamnya.

Maka, saat aku menyadari bahwa aku berada dekat sekali dengan Rasul tercinta. Aku ingin sekali membaca Al-Qur'an yang agung itu. Dan begitu aku membuka lembaran pertama dan bertemu dengan ayat pertama surat Al Baqarah, saat itulah aku tidak bisa mempertahankan keharuanku.

Begitu bibirku menyentuh kalimat pendek yang hanya terdiri dari tiga huruf saja, alif, laam, dan ketika aku berusaha mencari arti dan maknanya... Aku merasa tidak bisa dan tidak mampu. Seketika itu juga aku merasa betapa kecilnya diri ini, betapa lemahnya, dan betapa tidak berdayanya.... Maka yang bisa aku lakukan hanyalah menangis. Tidak jelas kenapa dengan diriku. Tetapi yang kurasakan dan kuharapkan saat itu, aku ingin mohon ampun, atas segala kesalahanku, kesombonganku, keangkuhanku... Yang pernah, bahkan mungkin sering singgah dalam hatiku.

Sebenarnya aku tidak tahu dan juga tidak mengerti apa makna huruf-huruf itu. Yang merupakan gabungan tiga huruf: alif, laam dan miim. Tetapi begitu aku membuka lembaran pertama Alqur'an dan bertemu dengan tiga huruf pertama dari surat Al-Baqarah itu, tiba-tiba hati bergetar, jantung berdegub lebih kencang, air mata tak tertahankan lagi...entah apa yang menyebabkannya.

QS.Al-Baqarah (2) : 1-2
"Alif Laam Miim." (hanya Allah yang mengetahui maksudnya). Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Kalau mengartikan 3 huruf saja aku tak mampu, bagaimana dengan ratusan ribu huruf yang berada di Al-Qur'an. Huruf-huruf itu tertata sedemikian indah. Membentuk kalimat dan ayat-ayat yang luar biasa. Penuh makna dan keseimbangan fantastis.

Berfikir tentang hal itu, semakin bertambahlah rasa ketidak-mampuanku sebagai seorang hamba. Berkat alif laam miim, aku semakin merasa, dan semakin mengetahui betapa kecilnya manusia. Betapa rendahnya ilmu yang dimilikinya...
Maka bertambah deraslah air mataku..

Itulah sebuah suasana hati di Raudhah. Sang taman surga..! Betapa indahnya jika hati manusia di dalam kesehariannya diwarnai oleh suasana Raudhah. Tentu hidup ini akan damai sejahtera. Semua orang akan peka dan peduli pada orang lain. Semua orang akan mengakui ketidak berdayaannya sebagai orang yang kecil, yang lemah, yang tak tahu apa-apa.

Semua merasa dalam aktivitas hidupnya selalu dekat Rasulullah. Dekat dengan ajarannya, dekat sunahnya. Dekat dengan sifat-sifatnya yang jujur, yang amanah, yang selalu menyampaikan kebenaran, yang selalu menggunakan logika imannya.

Rupanya hanya di Raudhah itulah, aku bisa bertemu dengan suasana hati yang seperti itu. Betapa seringnya aku membaca huruf-huruf alif, laam dan miim. Tetapi tidak pernah menemukan suasana hati semacam itu. Kecuali di Raudhah ini..

Rasulullah saw, bersabda
" Tempat yang terletak diantara rumahku dan mimbarku, merupakan suatu taman di antara taman-taman surga.."
(HR. Bukhari, dari Abu Hurairah)

Berpayung Dzikir

Seberapa besar energi dzikir di bawah sengatan matahari ...?


Hari itu, cuaca begitu panas. Sehingga sekitar jam sepuluh saja matahari sudah menyengat kulit tubuh. Kami yang berada di maktab sangat merasakan hal itu. Tetapi saat itu, aku tak tahu mengapa ada semacam keinginan yang kuat dalam hatiku untuk datang ke masjid.

Aku menyadari, bahwa jarak dari maktab ke masjid cukup jauh. Sekitar satu setengah kilometer. Tetapi aku tetap saja ingin pergi ke masjid. Beberapa teman yang ada di maktab menyarankan untuk tidak pergi ke masjid karena hari sedang panas-panasnya. Tetapi dengan berbagai alasan, akhirnya aku berangkat juga ke masjid?

Ada seorang teman yang juga ikut pergi ke masjid untuk shalat dhuhur. Meskipun nampaknya ia agak ragu-ragu. Tetapi entah apa alasannya, akhirnya temanku ikut juga bersamaku, pergi ke masjid Nabawi. Kami berdua masing-masing membawa sebuah payung untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. Dalam perjalanan menuju masjid itulah bagian dari cerita ini aku tuliskan.

Alhamdulillah, sebenarnya sudah sejak dahulu, bahkan jauh sebelum aku berangkat menunaikan ibadah haji, dalam hati aku sudah berniat. Aku akan memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah ke tanah haram ini dengan sebaik-baiknya. Mungkin itulah salah satu energi besar yang kumiliki. Sehingga dalam kesempatan apa pun, dan dalam kondisi bagaima pun aku tetap ingin melakukan ibadah dengan seoptimal mungkin. Demikian juga dengan kondisiku ketika berangkat ke masjid di hari yang sangat panas itu.

Saat itu sedang panas-panasnya matahari menyinari bumi Madinah. Apabila kami sedang berjalan, dan saat itu ada angin yang berhembus menerpa tubuh, wah, angin itu rasanya seperti berasal dari cerobong knalpot mobil. Begitu panas dan begitu kering.

Hal itulah yang membuat orang-orang banyak yang tidak berani keluar dari rumah atau hotel. Kondisi alam yang cukup membuat banyak orang menjadi khawatir bahkan cenderung timbul rasa takut. Namun entah kenapa, tidak demikian denganku. Dalam hatiku tak terlintas sedikit pun rasa khawatir. Justru dengan adanya cuaca yang tidak bersahabat itu, membuat hatiku bertambah ingin pergi ke masjid untuk mendekatkan diri kepada Ilahi. Bersama-sama dengan orang-orang yang rindu untuk selalu bertemu dengan Tuhannya. Dalam kondisi apapun, termasuk juga kondisi saat itu.

Aku sendiri menjadi heran. Apa yang membuatku bisa menikmati dan mempunyai ketetapan hati seperti itu. Setelah kupikir-pikir mungkin karena niat yang sudah tertanam di hati sejak mulai berangkat dari tanah air menuju tanah haram. Inilah yang mungkin saja membuatku -insya Allah- tetap punya komitmen untuk terus beribadah di sepanjang waktu. Dan aku pun teringat akan ayat Al-qur'an tentang niat dan keikhlasan hati

QS. Ali-Imran (3) : 29
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS. Al-Bayyinah (98) : 5
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Bahkan begitu jelasnya hadits yang disampaikan rasulullah saw.
Umar bin Khatab ra. Berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang teranggap bagi tiap orang adalah apa yang diniatkan....”
( HR. Bukhari, Muslim )

Menyembah kepada Allah dengan ikhlas. Itulah kunci dari semua aktivitas hidup ini. Hidup adalah mengabdi kepada Allah. Hidup adalah beribadah, kepada Allah. Hidup adalah menghamba kepada Allah dengan memanfaatkan karunia yang telah diberikan olehNya kepada kita semua. Rupanya apa yang terjadi pada saat itu membuktikan kebenaran ayat Allah Swt. Paling tidak, telah menambah keyakinanku akan hal tersebut.

Pak Hadi yang saat itu ikut pergi ke masjid, ketika akan berangkat sudah didahului perasaan ragu-ragu. Antara pergi dan tidak. Mungkin keragu-raguan inilah yang menjadikan pak Hadi mengalami perjalanan yang cukup menyulitkan dan menyusahkan dirinya. Sepanjang perjalanan dari maktab menuju masjid tiada hentinya ia mengeluh.

Katanya hari begitu panas. Nafasnya sesak. Kakinya capek. Badannya berkeringat dingin... Dan sebagainya. Payung yang digunakan seolah tidak berfungsi lagi.

Lain pak Hadi, lain pula yang kurasakan. Meski pun, tentu saja aku tidak menyampaikan kondisiku kepadanya. Waktu itu aku benar-benar mengalami kenikmatan dalam perjalanan menuju masjid. Setiap langkah kakiku kubuat dzikir kepada Allah yang menciptakan kaki ini. Setiap gerak dan lambaian tanganku aku buat dzikir kepada yang telah menciptakan tangan ini. Setiap fikiranku aku buat dzikir kepada Allah, karena Dialah yang menjadikan manusia sehingga pandai berfikir. Setiap gerak lidahku aku buat bertasbih kepadaNya.

Saat itu hatiku tidak lalai sedikit pun mengingat nikmat Allah yang telah memberikan karunia besar kepada tubuh ini. Hati dan fikiranku, lidah dan bibirku, saat itu berdzikir mengikuti ritme langkah-langkah kecilku....

Dan tidak terasa, tiba-tiba aku telah sampai di serambi masjid Nabawi. Akh! Betapa nikmat perjalanan singkat itu. Sebuah kenikmatan yang sulit terulang lagi, dan sulit diceritakan keindahannya. Payung dari kain yang aku gunakan tentu tidaklah mampu memberi kenikmatan dalam perjalanan itu. Terbukti pak Hadi yang berjalan di sebelahku yang juga menggunakan payung dari jenis yang sama, ia tetap merasa kepanasan dan kecapaian. Sementara aku saat itu menikmati sebuah suasana hati yang indah, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Ketika pak Hadi mengatakan bahwa kakinya sangat berat untuk melangkah, aku begitu heran karena kakiku begitu ringan untuk melangkah.

Ketika pak Hadi mengatakan bahwa pandangannya kabur, karena cuaca begitu panasnya, aku bertambah heran karena pandanganku begitu sejuknya.

Ketika pak Hadi mengatakan, betapa lamanya perjalanan menuju masjid tersebut, aku semakin heran kenapa aku justru ingin sekali perjalanan itu tidak cepat-cepat nyampe di masjid. Aku ingin berlama-lama menikmati suasana hati yang begitu mengasyikkan dalam perjalanan itu.

Sungguh aku semakin yakin akan pertolongan Allah. Buat siapa saja yang mempunyai niat ikhlas dalam melakukan pengabdian kepadaNya. Dan yang lebih penting lagi adalah, dalam setiap persoalan apa pun kita harus merasa bahwa sebenarnya Allah itu dekat dengan hambaNya.

Jika setiap saat seseorang selalu merasa dekat dengan Dzat Pemilik alam raya ini, insya Allah dimana saja dan dalam keadaan apa saja akan selalu dilidungiNya. Dan memang, Allah Swt tidak pernah jauh dari makhlukNya. Dialah yang mengendalikan semua persoalan hidup manusia.

QS. Al-Baqarah (2) : 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

QS. Qaaf (50) : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.
Semoga dengan semakin bertambahnya kesadaran, bahwa kita ini sesungguhnya sangat dekat dengan Sang Pencipta yaitu Allah Azza wa Jalla, hidup kita menjadi semakin terarah, dan menjadi semakin bermakna.
Insya Allah...

Sholat Bersama Rasul

Pernahkah kita shalat bersama Rasulullah... ?


“Allaahu akbar…”
Takbiratul ihramku ketika aku melakukan shalat di Raudhah masjid Nabawi. Kedua tanganku kuangkat di sisi kedua telingaku, bagaikan seorang pesakitan yang tunduk dan takut akan hukuman. Dada terasa menyesak, bibir terasa kaku, pandangan mataku seketika kabur, kepalaku tertunduk penuh rasa takut. Tubuhku sedikit berguncang menahan haru.

Nafasku memburu, menahan rasa rindu. Pandanganku tak berani sedikit pun menatap ke depan. Hanya sajadah tempat sujud itulah yang bisa kutatap penuh rasa tawadhu'. Aku terpesona oleh indahnya pertemuanku dengan Al-Khalikku. Menurut nuraniku Insya Allah saat itu keadaanku 'disaksikan' oleh junjungan termulia Rasulullah saw.

Ada semacam kekuatan hebat yang menjadikan aku bisa merasa bertemu dengan Allah saat itu. Bertemu dengan kebesaranNya, bertemu dengan Kasih sayangNya, dengan kelembutanNya, dan bertemu dengan keMaha dahsyatanNya...

Subhaanallah... Rasanya tidak sedikit pun hati berpaling. Seluruh bisikan doa dan dzikirku saat itu bisa menyatu dalam hati, jiwa dan ragaku. Mengapa bisa seperti itu ?

Karena saat itu aku merasa sangat dekat dengan junjungan Rasulullah saw. Sehingga setiap gerakanku rasanya seolah-olah dikoreksi oleh Rasul tercinta. Setiap bisikan doaku, makhraj dan tajwidku seolah diperhatikan oleh Rasulullah. Dalam setiap tarikan nafasku selalu kurasakan kehadiran Allah Sang Maha Pencipta... subhaanallah. Betapa indahnya apabila setiap shalat di tanah air juga bisa seperti itu.

Ketika di akhir shalat aku membisikkan doa tasyahud akhir, maka bertemulah aku dengan kalimat kesaksian, dua kalimat syahadat yang membuat dadaku berdegup kencang..
" ...asyhaduallaa ilaaha illallah, wa asyhaduanna muhammad rasulullah..."
"...aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa (nabi) Muhammad adalah utusan Allah..."

Ah, begitu tergetarnya bibirku mengucap nama Muhammad. Sementara beliau sedang berada di dekatku. Mataku terpejam... air mataku meleleh, ketika bibirku membisikkan nama beliau...
" Allahumma shalli'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad...."

Mungkin selama hidupku, itulah saat yang paling indah dan sangat mempesona ketika mengucap shalawat untuk beliau...

QS. Al-Fath (48) : 29Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.