Sunday, March 4, 2007

Kesadaran Inderawi

Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa yang kita maksud 'Kesadaran' bukan sekadar melek atau terjaga, tetapi kemampuan 'memahami dan merasakan' suatu interaksi.

Kesadaran inderawi adalah tingkat kesadaran terendah dalam diri seseorang yang berfungsi ketika ia melakukan interaksi tertentu dengan lingkungannya. Karena kesadaran mewakili fungsi Jiwa, maka tingkatan kesadaran inderawi juga menggambarkan kualitas Jiwa yang terendah.

Seseorang dikatakan berada dalam kesadaran inderawinya jika ia menyadari dan bisa memahami diri dan lingkungan sekitarnya dengan bertumpu pada fungsi panca inderanya.

Ia bisa memahami apa yang dilihatnya. Ia bisa mengerti segala yang didengarnya. la bisa menikmati apa-apa yang dibau oleh indera penciumannya, dikecap oleh lidahnya, dan dirasakan oleh kulitnya.

Ketika seseorang berada pada kesadaran inderawinya, maka ia memperoleh nuansa pemahaman terhadap segala yang terjadi sangat 'riil'. Dan cenderung materialistik. Seringkali, di antara kita bertumpu kepada kemampuan inderawi secara berlebihan.

Kadang kita hanya percaya kepada sesuatu jika sesuatu itu bisa dijangkau oleh indera. Kita hanya bisa memahami jika telah melihat dengan mata kepala sendiri, atau telah mendengarnya, mencium dan merasakannya. Sesuatu yang tidak terdeteksi oleh panca indera, bakal tidak kita akui sebagai keberadaan. Atau setidak-tidaknya, kita tidak merasa perlu untuk memikirkannya, dan kemudian mengacuhkannya.

Orang yang demikian sebenarnya telah terjebak pada pola pikir materialistik dan terbelakang. Kenapa demikian? Sebab, ternyata sistem kerja inderawi kita sangatlah terbatas. Sehingga, lucu juga, kalau kita bergantung kepada yang sangat terbatas itu untuk memahami realitas. Pasti hasilnya juga akan begitu terbatas dan menipu. Semakin rendah kualitas inderawi kita, maka semakin jelek juga hasil pemahaman kita.

Sebagai contoh, apa yang terjadi pada orang yang buta warna. Kalau seorang penderita buta warna bersikeras bahwa realitas warna yang ada di sekitarnya adalah seperti kefahamannya, maka Anda pasti akan menertawakannya. Sebab orang yang buta warna memang tidak faham bahwa alam sekitarnya berwarna-warni.

Pada orang yang mengalami buta warna total, ia hanya bisa memahami dunia dalam warna hitam-putih atau abu-abu saja. Gradasi warna merah, jingga, kuning, sampai putih, baginya hanya terlihat sebagai warna abu-abu tua sampai abu-abu muda, dan paling ekstrim adalah putih. Atau sama sekali tidak berwarna, alias hitam.

Padahal bagi kita yang tidak buta warna kita melihat bahwa dunia ini berwarna warni demikian indah. Tidak seperti yang dia fahami lewat keterbatasan penglihatannya. Ia telah terjebak pada keterbatasannya sendiri. Dan bersikeras bahwa alam sekitar adalah seperti yang dia fahami.

Kalau kita mau introspeksi, sebenarnya penglihatan kita pun demikian terbatasnya. Bahkan, pada orang yang memiliki penglihatan paling 'sempurna' sekalipun. Karena, sistem kerja penglihatan kita ternyata demikian menipu. Tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi. Apa yang kita lihat sebenarnya bukan realitas.

Sesungguhnya antara kenyataan dan apa yang kita lihat atau kita pahami adalah 2 hal yang berbeda. Kita bukan melihat benda yang sesungguhnya, kecuali sekadar bayang-bayang yang tertangkap oleh lensa mata kita, diteruskan ke retina, dan kemudian ke otak sebagai pulsa-pulsa listrik belaka.

Sehingga, pusat penglihatan di otak kita itu pun sebenarnya tidak pernah berinteraksi langsung dengan benda yang kita lihat. Sel penglihatan di otak hanya berinteraksi dengan pulsa-pulsa listrik yang berasal dari retina. Jadi kalau pulsa-pulsa listrik itu mengalami distorsi, maka pusat penglihatan itu bakal salah dalam memahami penglihatan tersebut.

Jadi, kefahaman yang disimpulkan oleh sel penglihatan itu sangat bergantung kepada kualitas jalur penglihatan mulai dari lensa mata, retina, saraf-saraf penglihatan sampai kepada sel-sel otak yang terkait dengan proses melihat itu.

Padahal, saya kira kita tahu, bahwa ketajaman lensa mata kita tidaklah terlalu tinggi. Misalnya, lensa mata kita tidak mampu melihat benda-benda yang terlalu kecil. Seperti pori-pori benda, bakteri, virus, sel, molekul, atom, dan apalagi partikel-partikel sub atomik seperti proton, neutron, dan elektron.

Lensa mata manusia juga hanya bisa menangkap benda-benda yang cukup besar. Namun, tidak terlalu besar. Jika terlalu besar, juga tidak bisa terlihat. Gajah di pelupuk mata misalnya, pasti malah tidak kelihatan. Jadi, yang sedang-sedang saja.

Belum lagi, melihat dalam kegelapan. Pasti juga tidak mampu. Atau sebaliknya, melihat di tempat yang terlalu terang, malah silau. Singkat kata, penglihatan kita begitu terbatasnya sehingga banyak hal yang tidak bisa kita pahami dengan hanya sekedar melihat.

Di kali lain, justru penglihatan kita itu telah menipu, dan tidak 'menceritakan' yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, kita melihat gunung berwarna biru, padahal kalau didekati ia berwarna hijau dedaunan. Bintang di langit terlihat kecil-kecil dan berkelap-kelip, padahal ia adalah benda raksasa yang berpijar seperti matahari. Kita melihat fatamorgana di padang pasir, padahal ia hanyalah uap air yang terbentuk karena panas yang begitu tinggi di permukaan pasir itu. Dan seterusnya. Mata kita sungguh tidak bisa kita andalkan untuk memahami kenyataan. Karena ia sering sekali ‘menipu’ kefahaman kita.

Demikian pula, indera yang lain seperti penciuman, pendengaran, pengecap dan peraba. Mereka tidak kalah sering menipu kita.

Jika suatu saat, kita ke rumah sakit, kita bakal membau aroma obat-obatan yang menyengat. Tapi jika kita berada di sana dalam waktu yang cukup lama, tiba-tiba kita tidak merasa membau aroma yang menyengat lagi. Kenapa demikian? Karena hidung kita telah beradaptasi. Jadi ia telah menipu kefahaman kita. Seakan-akan sudah tidak ada aroma obat lagi, padahal sebenarnya sensitivitas penciuman kita yang menurun karena sudah beradaptasi alias berkompromi.

Kulit sebagai indera perasa juga tidak kalah 'pembohongnya'. Kalau kita berkali-kali meraba benda kasar, maka ketika kita meraba benda halus kepekaannya juga menjadi berkurang. Atau, kita mencelupkan tangan kita ke dalam air dingin beberapa waktu, kemudian ganti mencelupkannya ke air hangat. Maka, kita seperti merasakan mencelupkan tangan ke air panas.

Kenapa demikian? Karena, kulit kita juga melakukan adaptasi dan 'kompromi' terhadap lingkunganya. Jadi, ia 'plin-plan' dan suka menipu. Karena itu, percaya yang terlalu berlebihan kepada panca indera kita juga bisa menyebabkan kekeliruan dalam memahami suatu kenyataan.

Itulah sebabnya, kesadaran alias kefahaman yang dibentuk hanya berdasarkan panca indera bakal menjebak kita dalam kekeliruan yang sangat mendasar. Panca indera tidak cukup digunakan untuk memahami kenyataan. Karena ternyata, kenyataan yang terhampar di sekitar kita berbeda dengan yang tertangkap oleh mata, telinga dan seluruh panca indera.

Ya, Kesadaran Inderawi adalah kesadaran yang paling rendah tingkatannya. Hanya anak-anak yang masih kecil saja yang bertumpu sepenuhnya kepada pemahaman panca inderanya untuk membangun kefahaman terhadap realitas di sekitarnya. Orang yang lebih dewasa pasti akan bertumpu pada kesadaran yang lebih tinggi dari sekadar Kesadaran Inderawi.