Sunday, May 20, 2007

Gus Mus dan Inul

Masih soal Inul Daratista. Tampaknya, saat ini, di berbagai penjuru kota di tanah air ini, goyang Inul tidak hanya menciptakan Inulmania. Mahasiswa pun tak segan membahasnya. Dan hasilnya, Inul kini sudah jadi kiblat penyanyi dangdut di Indonesia.

Kontroversi Inul tidak hanya sekadar jadi kiblat dangdut saat ini. Tapi juga telah melahirkan sebuah mahakarya seorang ulama besar di negeri ini, KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Gus Mus yang terkenal sebagai kiai dan budayawan, seniman serba bisa, telah mendapatkan ilham besar dengan menggoreskan lukisan Inul di atas kanvas. Saya jadi agak tersedak, bukan karena lukisan yang dianggap kontroversial, lebih dari kontroversi Inul. Tetapi saya ingat tulisan saya beberapa saat lalu, "Inul dan Kekasih Allah." Siapa tahu, kelak Inul justru yang menjadi kekasih Allah.

Dalam maha karya Gus Mus, Inul sedang menari, meliuk-liuk, sementara dalam goyangan itu, ia dikelilingi para kiai yang sedang berdzikir. Sungguh luar biasa, bagaimana kritik Gus Mus terhadap dunia ulama mutakhir Indonesia. Khususnya pada MUI yang paling punya hobi berteriak; haram! haram! haram! Layaknya seorang pesilat yang baru saja belajar beberapa jurus, sudah petentang petenteng kayak ayam jago yang menantang siapa saja dengan kokoknya.

Justru kalau kita menyimak karya Gus Mus itu, mestinya para ulama menangisi dirinya sendiri. Bagaimana seharusnya mereka tafakkur dan tadzakkur, taqarrub dan mujahadah di hadapan Allah, memohon ampun, dan ridho-Nya. Malah yang terjadi sebaliknya. Mereka lebih banyak mengumbar arogansi dan retorika seperti taman kanak-kanak di DPR.

Kalau toh nama Allah sering disebut, dzikir digelar, mereka tak lebih dari dzikir syahwat, taqarrub nafsu dengan bibir dan fakir menyebut nama Allah, tetapi hatinya mabuk dalam syahwat duniawi, mengikuti goyang pantat syaithani, serta setumpuk proposal yang disodorkan kepada Tuhan. Seakan-akan mereka paling berhak mendapatkan prioritas "sowan" kepada-Nya. Sungguh ironis!

Maka benarlah Gus Mus dengan goresan ke-Inulannya. Ternyata, dengan mudahnya, Allah menyeleksi kualitas ulama kita melalui goyang Inul. Dan yang paling rendah kualitasnya justru yang paling protes terhadap Inulisme. Jangan-jangan ini ibarat kotoran ayam yang semakin dibungkus-bungkus malah semakin merebak. Semakin menandingi goyang Inul lewat protesnya, semakin menunjukkan kerendahan kualitas spiritualnya di depan Allah. Jangan-jangan begitu.

Lalu apa bedanya Inul dengan Gus Mus? Sama. Artinya sama-sama kontroversial, sama-sama NU-nya, sama-sama seniman, sama-sama memiliki kemampuan menggoyang, sama-sama hobi berdzikir. (Ah, Anda kan tidak tahu bagaimana gemuruh hati Inul dalam taqarrub di hadapan Allah? Yang Anda tahu hanya pantatnya bukan?)

Perbedaannya? Bedanya hanya tipis antara Gus Mus dengan Inul. Gus Mus adalah sosok yang datang mewakili gugusan cahaya keindahan dan keagungan Ilahi untuk merobek kemunafikan budaya keagamaan, sementara Inul datang juga membeberkan sebuah lanskap budaya yang menunjukkan betapa munafiknya mereka yang sok mengharamkan Inul. Jika Inul bisa bergandeng tangan dengan Gus Mus, orang-orang yang arif justru akan memandang dengan mata sejuk dan bibir tersenyum: "Teater Ilahiyah, memang dahsyat!"

Gus Mus menggoyang budaya melalui ketajaman penanya, kuas-kuasnya, dan mutiara katanya. Sedangkan Inul menggoyang budaya melalui pantatnya untuk menunjukkan betapa para pemimpin dan tokoh-tokoh kita seringkali menggunakan pantat dan sekitarnya dalam menyelesaikan perjuangan bangsa ini.
Seperti Joko Tingkir dengan Kebo Ndanunya yang mengamuk itu. Kerbau Joko Tingkir adalah lambang betapa para raja, para pemimpin ketika itu tak lebih bodoh dari kerbau, dan hal demikian hari ini bisa kita lihat.

Apa bedanya sekitar pantat Inul dengan wajah pemimpin kita, bahkan sebagian tokoh agama kita? Nah sekali lagi, jangan-jangan Inul diciptakan Tuhan untuk membuka mata kita karena mungkin dia sudah jadi kekasih Tuhan.