Sunday, May 20, 2007

Di Sini Bunuh Diri, Di Sana Iblis Berpesta

Bunuh diri marak kembali di negeri ini. Tanda-tanda zaman kita telah mencapai nucleus gelapnya ketika iblis dengan bermilyar-milyar setannya menggerakkan pesta ritual melalui gebyar peradaban liar. Lalu limbah-limbahnya adalah keputusasaan, kekecewaan, frustrasi, lalu bunuh diri.

Saya tidak bisa membayangkan ketika Michael Jackson menyihir jutaan penonton, kemudian histeria itu telah mencapai orgasmeus ekstasenya. Kemudian dengan tiba-tiba ia berteriak; "Mari kita lakukan bunuh diri masal!" Apa ya, yang bakal terjadi?

Di Amerika Serikat, bunuh diri masal pernah dilakukan aliran sesat Kristiani dan begitu juga di beberapa negeri Afrika. Bahkan Asia juga pernah terjadi. Tapi bunuh diri individual, rupanya tak kalah pentingnya untuk disimak dengan segala kekecewaan kita. Kenapa mereka lakukan bunuh diri? Apa yang menjadi tujuan mereka yang bunuh diri?

Iblis memang mencekam. Pada hari-hari terakhir ini, dunia kita seakan mengerikan. Manusia puas ketika membunuh sesama manusia dan rasa puas itulah gema dari pesta-pora iblis dan setan-setannya. Puncak pesta itu justru datang ketika manusia membunuh dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sebab, satu orang bunuh diri bisa memberikan energi besar yang luar biasa bagi milyaran setan.

Orang bunuh diri menganggap sebagai jalan terakhir atas keputusasaan pada kehidupan. Jalan terakhir yang semakin gelap yang diyakini sebagai cara mudah menyelesaikan masalah. Tetapi itulah jalan terakhir memasuki gerbang raksasa keputusasaan, sumber dari segala sumber masalah kehidupan itu sendiri.

Saat bunuh diri, manusia kehilangan Tuhan. Saat bunuh diri manusia telah menuhankan dirinya sendiri, lalu ia "membunuh" Tuhan yang bersemayam dalam kalbunya. Seketika kegelapan paling hitam mencekik rasa Ilahiyahnya sampai batas di mana berhala kegelapan adalah persembanhan atas kekecewaannya. Mereka yang bunuh diri menjadi kafir. Dia telah menciptakan berhala yang tentu saja anti-Tuhan. Bunuh diri ini berbeda dengan sebuah perlawanan terhadap diri sendiri atau membunuh ikon nafsunya.

Nabi pernah bersabda; "Matilah engkau sebelum engkau mati." Hadits ini bukan hadits untuk bunuh diri. Tapi hadits untuk hidup yang hakiki. Matikan nafsumu, sebelum nyawamu mati. Matikan egoismemu sebelum engkau kembali pada Aku yang hakiki. Agar dirimu bisa menikmati hayatul qalbi (hidupnya hati).

Orang yang mematikan hawa nafsunya berarti telah mampu mengendalikan nafsu itu sendiri. Juga mampu mengendalikan sekaligus jiwanya untuk hidup bersama Allah. Mereka yang bersama Allah senantiasa jauh dari imajinasi tentang bunuh diri, apalagi kekecewaan sampai pada batas; "Ingin mati saja!"

Bersama Allah berarti bersama cahaya Ilahi. Cahaya yang mengusir kegelapan, bahkan kegelapan paling mengerikan, bunuh diri!.