Monday, March 5, 2007

Bertemu Allah di Setiap Pelajaran

Bisakah anak-anak bertemu dengan Allah ketika sedang belajar di dalam kelas? Bagaimana bisa bertemu Allah ketika belajar Matematika, Ilmu Bahasa, IPS atau IPA? Bagaimana pula bisa bertemu Allah ketika sedang ber Olah Raga?

Saat itu sedang berlangsung penerimaan raport. Saya terlibat dalam perbincangan di seputar pendidikan dengan beberapa wali murid . Berbagai pendapat muncul, untuk sekedar urun rembuk. Yang hal tersebut sangat berkaitan dengan masa depan anak-anak kita.

Diam-diam pasti kita pernah berfikir, bagaimana kira-kira zaman mereka nanti. Tentu lebih 'seru' lagi situasi dan kondisinya. Baik dari sisi ekonomi, pendidikan, moral bangsa, dunia perpolitikan, dunia informasi, teknologi,... dsb. Wah, pasti kita tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi bangsa ini tiga puluh atau empat puluh tahun mendatang.

Tetapi kami masih sepakat, andaikata hati manusia tetap memiliki Allah Swt, sebagai Tuhannya, insyaAllah kondisi yang kita inginkan bersama itu masih akan tetap terjaga. Dari bincang-bincang seadanya itu, ada sesuatu yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut, dan perlu kiranya untuk diketahui oleh orang lain.

Tiba-tiba saja saya berfikir. Bisakah diupayakan agar setiap saat anak-anak kita merasa dekat terus dengan Tuhannya? Sehingga perilakunya masih tetap seperti yang diinginkan orang tuanya? Jika itu mungkin dilakukan, insyaAllah nilai-nilai yang diharapkan akan tetap terjaga.

Kalau dilihat dari sisi pelajaran yang diterima siswa, setiap harinya anak-anak kita akan 'bertemu' dengan Tuhannya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Mungkin hanya satu jam atau dua jam pelajaran, yaitu ketika mereka sedang belajar agama saja.

Ketika mereka belajar ilmu yang lain misalnya matematika, IPS, IPA, PPKn, olah raga, kertakes, atau yang lainnya... mereka sama sekali tidak ketemu dengan Tuhannya. Padahal, perbandingan lamanya waktu belajar antara pelajaran umum dengan pelajaran agama sungguh sangat besar.

Akhirnya saya berandai-andai. Andaikata di setiap pelajaran umum itu, setiap guru mau dan mampu memaparkan kebesaran Tuhan lewat disiplin ilmunya masing-masing, wah..betapa hebatnya...!

Niscaya, keberadaan Tuhan Yang Maha Halus itu, akan mewarnai kehalusan budi pekerti anak-anak kita. Rahman dan Rahim Tuhan Yang Maha Pengasih itu, niscaya akan mengubah kebiasaan dan perilaku yang salah. Tetapi apakah hal itu memungkinkan?

Inilah sebuah konsep keilahian, yang kalau dilaksanakan tentu akan membuahkan hasil yang hebat. Tetapi tentu kendalanya adalah masalah kemampuan dan kemauan dari semua fihak.

Sebenarnya secara teoritis hal itu sangat mungkin dilakukan. Karena setiap cabang ilmu apa pun asalnya bersumber dari Allah Swt. Pada setiap cabang ilmu, selalu ada celah yang sangat besar untuk setiap orang bisa bertemu dengan Allah dalam rangka untuk bisa melihat dan menghayati kebesaranNYa.

Dengan adanya konsep ke Ilahian pada mata pelajaran umum, yang sementara ini belum pernah atau sangat sedikit sekali disinggung dalam proses belajar mengajar di kelas, tentu akan memberikan kontribusi yang besar bagi kehidupan anak-anak bangsa.

Konsep yang ada sampai dengan hari ini, ialah bahwa budi pekerti, perilaku ahlak mulia, dan nilai ketuhanan didapatkan oleh para siswa pada pelajaran terpisah dari pelajaran umum. Sehingga terdapat kesan bahwa melakukan akhlak mulia dan berbudi pekerti luhur itu hanya pada 'wilayah' agama saja. Selebihnya seolah-olah setiap orang boleh tidak berakhlak mulia dan boleh tidak jujur dalam kehidupan ini.

Insya Allah ini merupakan sebuah konsep baru, dimana dalam kita berperilaku akan diwarnai konsep ketuhanan dan kehalusan budi pekerti di setiap bidang ilmu yang dipelajari. Mereka akan 'bertemu' dengan Tuhan di setiap bidang ilmu yang digelutinya setiap hari. Bukan hanya pada pelajaran agama saja yang notabene diterima oleh anak-anak tidak sesering mata pelajaran umum.

Mampukah kiranya? Bahwa pemikiran anak-anak kita akan bisa melihat kebesaran Tuhan melalui pelajaran umum? Jawabnya tentu sangat mampu. Sebab Allahlah yang mendesain otak manusia, maka jika desainNya tersebut dipakai untuk melihat kebesaranNYa, maka tentu Tuhan akan 'dengan senang hati' mengabulkan keinginan itu.

Setelah setiap siswa dapat secara terus menerus melakukan 'hubungan' dengan Tuhannya melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya setiap hari di bangku sekolah, maka janji Tuhan pasti akan terbukti bahwa manusia akan bahagia, beruntung, dan akan terangkat derajatnya di dunia maupun di akhirat nanti. Seperti halnya beberapa informasi yang diberikan dan diabadikan oleh Tuhan di dalam kitabNya berikut ini.

QS. Al Mujadilah : 11
"... Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan di antaramu beberapa derajat... "

Inilah informasi dari Allah Swt, bahwa orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, akan diangkat derajatnya dengan beberapa derajat, dunia dan akhirat.

Info ini menguatkan `konsep keilahian' yang saya maksud. Apabila seseorang menggunakan ilmu pengetahuannya untuk melihat kebesaran Tuhannya, maka sekaligus ia sebagai orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

QS. Al Anfaal : 2
"Adapun orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah akan bergetar hatinya, dan bila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, akan bertambah kuat imannya, dan mereka selalu bertawakal kepadaNya"

Mengapa seorang yang beriman sampai bergetar hatinya bila disebut asma Allah? Salah satu alasannya adalah karena mereka mencintai Allah Swt.

Mengapa bisa mencintaiNya? Karena telah begitu dekatnya dengan Allah Swt.

Mengapa bisa merasa begitu dekat? Karena sering bertemu denganNya.

Mengapa bisa sering bertemu? Karena setiap, saat dan waktu bisa merasakan kehadiranNya.

'Kebiasaan‘ bertemu Allah itu akan terus terawat dan terjalani, apabila mulai sejak kecil seorang siswa sudah biasa memikirkan dan merasakan kehadiran Tuhan di dekatnya (konsep keilahian).

Di dalam 'bahasa shalat' orang yang bisa konsentrasi bertemu dan merasakan kehadiran Tuhannya, disebut orang yang khusyu'. Baik hal itu terjadi di dalam shalatnya maupun terjadi di luar shalatnya saat hidup bermasyarakat.

QS. Al Mukminuun : 1- 2
"Sungguh sangat beruntung, orang-orang beriman yang khusyuk dalam menjalankan shalatnya"

Bagaimana penerapan konsep keiLahian itu? Sebagai sekedar contoh dalam uraian ini, kita bisa mengambil beberapa materi dasar yang ada pada masing-masing mata pelajaran. Hal itu tentu bisa berkembang kepada konsep pelajaran di sekolah-sekolah yang lebih tinggi.

1.Matematika,
Dalam ilmu matematika atau ilmu hitung, setiap bilangan dapat dipakai untuk melihat kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta. Misalnya: bilangan Satu, Bilangan Sembilan, bilangan Sembilan belas, bahkan nilai Tak Terhingga juga bisa dipakai untuk melihat kekuasaan Allah yang Tiada Batas alias Tak Terhingga.

Demikian pula, banyak sekali rumus-rumus dasar dalam ilmu matematika yang bisa dipakai sebagai alat teropong untuk melihat Kebesaran Allah Swt sebagai TuhanNya seluruh alam.
Misalnya :
n x 1 = n
n x 0 = 0
n : n =1
n x =y
( +) x ( - ) = -

Operasi dari rumus–rumus tersebut, jika diperhatikan dengan seksama, sungguh sangat bisa dipakai untuk melihat kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Awal, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Mengasihi, Tuhan Yang Maha Menyayangi, Tuhan Yang Maha Tak Terhingga

2. Ilmu Bahasa,
Dari ilmu bahasa, betapa leluasanya seorang guru akan bisa memberikan nilai-nilai ketuhanan Yang Maha Kuasa.
Berapa jumlah bahasa yang ada di negara kita saja?
Dari mana datangnya bahasa yang kita pakai sekarang ini?
Mengapa ada semacam kesamaan dari berbagai macam bahasa yang ada di dunia?
Dengan mencoba bertanya tentang beberapa hal tersebut, insya Allah kita akan bertemu dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

3. Ilmu Pengetahuan Alam,
Dari ilmu ini jelas sekali, betapa 'setiap kata' dalam ilmu pengetahuan Alam, akan mempertemukan manusia dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya,
1). tentang alam benda (padat, cair, gas)
dari mana datangnya?
kapan mulai ada?
siapa yang menciptakannya?
apa substansi dari alam benda?

2). tentang tubuh manusia
bagaimana kehebatan fungsi setiap organ manusia?
bagaimana keseimbangan yang terjadi dalam tubuh manusia?
bagaimana cara setiap sel mempertahankan tubuh dari penyakit?
bagaimana kehebatan otak manusia?
siapa penciptanya?

3). tentang alam raya, makrokosmos
berapa luasnya?
mengapa bisa teratur sedemikian rupa? padahal semua bergerak!
mengapa tidak terjadi benturan?
siapa yang mengendalikannya?

4). tentang alam kecil, mikrokosmos
seberapa kecilnya ?
seberapa rumitnya ?
siapa yang menciptakannya ?

5. Ilmu Pengetahuan Sosial,
Berapa jumlah orang yang dalam lingkungan kita?
Bagaimana mereka dapat memenuhi rezekinya masing-masing?
Siapakah yang mengatur rezeki masing-masing orang, sehingga mereka bisa bertahan untuk seterusnya?
Setiap orang mempunyai perbedaan dalam pemikiran, mengapa mereka bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing, sehingga dunia menjadi lestari karenanya
Siapa yang mengaturnya?

5. Ilmu kesehatan / berolah raga
tahukah setiap siswa berapa harga mahalnya tubuh kita?
jika tidak berolah raga tubuh menjadi lemah. Mengapa?
siapa yang ada di balik kesehatan tubuh setiap manusia?

6. PPKn, Pendidikan Kewargaan Negara
bagaimana seharusnya manusia bernegara?
mengapa ada negara?
mengapa di dunia ada berbagai macam negara?
bagaimana Tuhan mewajibkan pada setiap warga negara?

7. Kertakes
Bagaimana setiap orang bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk berbuat sesuatu?
Untuk apa seseorang diberi perasaan halus sehingga peka terhadap lingkungannya?
Sejauh mana penghargaanTuhan terhadap orangorang yang berprestasi?

Ini semua hanyalah sekedar contoh sederhana, betapa setiap bab dalam setiap ilmu pengetahuan apa pun, di sana kita akan bisa bertemu dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya saja kedalaman menganalisis setiap orang mungkin tidak sama. Maka perlu adanya semacam pelatihan pada guru-guru Sekolah Dasar oleh para pakar di bidangnya masing-masing.

Dengan adanya konsep tersebut, lebih-lebih jika hal itu bisa juga diterapkan di sekolah lanjutan sampai dengan Pendidikan Tinggi di bidangnya masing-masing, tentu luar biasa hasilnya.

Dengan terbiasanya seorang murid atau mahasiswa merenungkan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita semua berharap bahwa masyarakat kita cara berfikirnya menjadi lebih `religius' dalam menyikapi sesuatu. Sehingga diharapkan terjadi proses internalisasi ketuhanan dalam setiap warga negara. Yang akhirnya perilaku akhlak mulia pun akan mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Insya Allah...