Sunday, March 11, 2007

Arafah

ARAFAH…

Inilah sebuah padang yang lengang dan sepi
Bukit-bukitnya tanpa penghuni

Saat delapan Dzulhijjah,
Datang manusia dari berbagai pelosok negeri
Talbiyah mulai bergema,
Takbir membahana,
Langit dunia pun terbelah sudah!

Istighfarku mulai merintih

Ya Allah, ya Rabbi,
Tiada terhiraukan lelahnya badan
Lelahnya kaki,
Semua kini telah datang

Sungguh gemetar badan ini, ya Allah
Tapi lebih gemetar lagi hati kami

Takutku, rinduku,
Menyatu dalam dada kecil ini

Tuhan,
Kini tangan-tangan kami yang kotor
Telah terangkat di depan dada
Tuk mohonkan ampun
Atas dosa yang tiada pernah terhitung lagi

Ya Allah, malam ini
Berjuta manusia tertidur lelap dibuai mimpi
Sementara, air mata kami habis
Mengiringi dzikir dan istighfar kami.

Ya Allah,
Kami datang menyaksikan keagunganMu
Kami datang karena panggilanMu,
Kami datang ya Allah…
Ampuni kami,
…Astaghfirullahal adziim…



HAJI BUKAN REKREASI


Perjalanan Haji bukanlah rekreasi. Ungkapan tersebut tentu saja sangat menarik. Apalagi di zaman yang umat Islam semakin kehilangan substansi ibadahnya seperti sekarang.

Sebagian besar ibadah kita tidak menyentuh esensi dan substansi yang seharusnya. Kebanyakan kita justru terjebak pada ritual dan ceremonial belaka. Rajin beribadah, namun tidak memperoleh dampak dan manfaatnya.

Coba kita perhatikan, Allah mengatakan bahwa barangsiapa berdzikir kepadaNya, maka hatinya akan tenteram dan damai. QS. 13:28. Akan tetapi, sudahkah kita merasakan nikmat dan tenteramnya dzikir? Begitu banyaknya umat Islam melakukan dzikir, tapi hati yang gelisah tetap saja gelisah. Hati yang kacau tetap saja tak mau damai. Kenapa? Karena kebanyakan kita tidak melakukan dzikrullah dengan sebenarnya, kecuali sekadar ‘mengucapkan’ kalimat dzikir.

Hati kita tidak bergetar saat berdzikir. Bahkan kita juga tidak ingat kepada Allah saat berdzikir. Maka jangan heran ribuan kali kita berdzikir, tidak pernah mengubah kualitas hati kita. Umat Islam tetap saja dalam kegelisahan hidupnya. Bahkan semakin tidak menentu. Terjebak dalam pesona dunia yang semu.

Nasib ibadah shalat kita pun tak jauh berbeda. Setiap hari kita shalat minimal 5 kali. Akan tetapi coba cermati, apa dampaknya dalam kehidupan kita. Sudahkah shalat kita mampu mencegah perbuatan keji dan munkar dalam keseharian? Rasanya belum!

Shalat kita tak lebih hanya menggugurkan kewajiban belaka. "Yuk, segera shalat, biar nggak ada lagi tanggungan...!"Begitulah seringkali kita mendengar ungkapan orang di sekitar kita.

Karena itu jangan heran setiap hari umat Islam shalat berkali-kali, tetapi banyak di antara kita masih melakukan perbuatan maksiat. STMJ kata kawan saya. Bukan 'Susu Telor Madu Jahe, tetapi 'Shalat Terus, Maksiat tetap Jalan'.

Kenapa bisa demikian? Karena kita tidak menjiwai ibadah shalat kita. Dalam istilah Al-Qur’an orang yang demikian ini disebut beragama secara bohong-bohongan. Pura-pura. Tidak sungguh-sungguh. Mengaku Islam tetapi shalatnya tidak berdampak dalam tingkah lakunya. QS.107 : 4-5.

Bukan cuma dzikir dan shalat, puasa dan zakat kita pun seringkali tidak memberikan dampak bagi kualitas jiwa kita. Rasulullah mengingatkan, bahwa banyak di antara umat Islam yang berpuasa tetapi tidak memperoleh manfaat puasanya. Mereka cuma memperoleh lapar dan dahaga.

Kenapa? Karena mereka tidak menjalankan puasa secara seharusnya. Dikiranya puasa itu sekadar tidak makan dan tidak minum saja. Padahal puasa adalah latihan untuk mengontrol dan memperbaiki akhlak. Yang akan berdampak pada kualitas lahiriah maupun batiniah. Kesehatan badan maupun jiwa.

Tapi coba lihat, setiap tahun umat Islam beramai-ramai melakukan puasa Ramadhan selama sebulan penuh, apa dampaknya bagi umat ini? Apakah kita bertambah sehat? Apakah akhlak kita bertambah baik? Atau bangsa ini bertambah sejahtera dalam ketakwaan dan RidhaNya..?

Zakat pun tak berbeda keadaannya. Islam mengajarkan zakat agar secara pribadi kita menjadi orang yang berjiwa sosial. Tidak materialistik. Memiliki empati pada orang lain. Sekaligus meratakan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada umat. Akan tetapi bukannya kita menjadi dermawan, melainkan bertambah egois. Tiap zakat dan shadaqah yang kita keluarkan, kita selalu menghitung-hitung: "berapa banyak ya Allah bakal membalas zakat atau sedekah yang kita keluarkan...? Kata Al-Qur’an sih 700 kali. wow, betapa banyaknya..."begitu pikiran kita.
Dan, Ibadah haji kita. Hati-hati, jangan-jangan juga tidak memberikan dampak bagi peningkatan kualitas jiwa kita. Yang ada di benak kita bukan berusaha memperoleh pelajaran dari makna haji, tetapi sekadar untuk memperoleh predikat 'H' atau lebih parah lagi, kalau lantas hanya sekadar rekreasi...

Kenapa saya mensinyalir demikian? Karena kita melihat demikian banyak orang Indonesia berhaji, tetapi coba perhatikan apa dampaknya bagi bangsa ini? Tidak kurang dari 200 ribu orang Indonesia berangkat ke tanah suci setiap tahun, apakah anda melihat dampaknya?

Apakah bangsa ini semakin baik akhlaknya? Apakah bangsa ini semakin bertakwa dan berserah diri kepada Allah? Apakah bangsa ini semakin rendah hati dan tawadhu' dalam menjalani hidup? Atau apakah bangsa ini menjadi pekerja keras yang tawakkal kepada Allah sang Rabbul 'alamin...?

Kita perlu banyak bercermin. Kemana pun. Kepada siapa pun. Kapan pun dan dimana pun. Diskusi yang sedang Anda baca ini adalah salah satu cara kita bercermin terhadap kualitas beragama kita. Khususnya ibadah haji kita. Mengajak kita untuk berdialog sekaligus bercermin kepada cerita-cerita hikmah

Diskusi ini mengajak Anda merasakan betapa nikmatnya menjadi tamu Allah. Betapa haru biru perasaan kita dibuatnya. Dan betapa bahagia selalu berdekatan dengan Dzat yang Maha Agung, penuh Kasih dan penuh Sayang itu...

Mudah-mudahan Anda memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari Diskusi ini. Syukur, bagi anda yang belum berhaji, lantas mendorong anda menjadi ingin berhaji. Dan bagi yang sudah berhaji, anda memperoleh kembali suasana penuh hikmah, yang penuh haru dan menggetarkan hati...

Insya Allah,
saat ini Allah sedang bersama Anda



Dari Penulis Untuk Pembaca

Inilah sebuah perjalanan yang penuh dengan linangan air mata. Perjalanan yang sarat dengan perasaan suka, tanpa duka. Khususnya bagi yang berbekal iman dan taqwa.

Apa yang saya tulis dalam diskusi ini adalah sebuah pengalaman dan kisah nyata dari berbagai insan. Ada pengalaman ruhani yang saya alami sendiri. Tetapi juga banyak yang saya ambil dari pengalaman teman-teman dan handai taulan. Semua menunjukkan suasana batin ketika bertamu di 'rumah Allah'. Selama 40 hari di tanah Haram. Baik di kota Madinah Al Munawarah, maupun di kota Mekkah Al-Mukaramah.

Dengan diskusi ini, saya ingin mengajak para pembaca agar bisa menghayati bagaimana suasana hati para jama'ah haji, ketika bertamu kepada Allah itu. Dan saya berharap kawan-kawan yang belum berkesempatan pergi ibadah haji, akan mempunyai motivasi yang lebih tinggi untuk bisa secepatnya datang ke tanah suci.

Beberapa bagian diskusi ini saya tulis dalam bentuk cerita dan dialog, untuk memudahkan menangkap arti dan makna yang tersembunyi. Sebenarnyalah, keindahan setiap peristiwa yang dialami oleh jama'ah haji, tak akan dapat diwakili oleh indahnya kata-kata. Karena itu saya berharap, semoga setiap muslim mempunyai keinginan yang kuat untuk datang sendiri ke tanah haram agar bisa merasakan bagaimana keindahan yang sesungguhnya.

Sementara, bagi saudaraku yang sudah pernah melaksanakan-nya, mudah-mudahan menambah semangat kita dalam menjalankan ibadah kita sehari-hari. Yakinlah, bahwa dengan semangat ibadah yang sudah kita ikrarkan di tanah haram itu, di tanah air pun kita akan bisa melaksanakan pengabdian diri kepada Ilahi rabbi. Sehingga, insya Allah akan tetap terjagalah kemabruran haji.

Terima kasih tiada terhingga kepada seluruh jama'ah haji, yang dengan rela mengizinkan pengalamannya untuk saya tulis dalam diskusi ini. Semoga pengalaman yang tampak sederhana itu mempunyai andil besar dalam membuka cakrawala hati para pembaca.

Semoga karya kecil ini, mempunyai manfaat yang besar. Semoga pula berbagai cerita dan pengalaman nyata dari para jama'ah ini membawa manfaat nyata dalam kehidupan kita di hari ini, dan juga dalam kehidupan kita di kemudian hari...

Amien ya rabbal `alamiin.