Sunday, March 11, 2007

Mengambil Senjata di Malam Hari

Senjata apa yang diambil di malam hari...?
Mengapa harus waktu malam...?


Ketika guru SMAku yang mengajar ilmu bumi antariksa kami tanya tentang hakekat alam raya, beliau menjawab :
"Sebenarnya alam kita ini sedang berada pada waktu malam...."
"Tapi mengapa sekarang ini lagi siang pak?" Tanya temanku.
"Oh, sekarang ini tampak siang, karena kebetulan kita sedang berada pada bagian bumi yang menghadap matahari. Nanti malam, kita akan berada pada posisi balik dari keberadaan matahari." "Tetapi kalau kita perhatikan, seluruh alam ini, sebagian besar berada pada keadaan gelap. Matahari kita hanyalah sebuah titik kecil. Ia adalah bintang kecil, seperti yang dinyanyikan oleh anak-anak TK." Kata beliau.

"Karena itulah, kita harus selalu berbakti kepada Tuhan. Sebenarnya manusia ini berada dalam kegelapan, kecuali yang diberi cahaya oleh Tuhan." Jawab beliau berfilsafat.

Aku merenung, dengan apa yang disampaikan guruku. "Malam adalah hakekat kehidupan". Ah, menarik juga kata-kata beliau itu.
Alasan dan jawaban beliau agak aneh kedengarannya. Tetapi sangat masuk diakal. Mengapa? Sebab yang disebut siang di alam raya ini, ternyata begitu sedikitnya, dan begitu kecilnya. Semua gelap gulita kecuali bagian yang diterangi oleh bintang yang 'sangat kecil' itu.

Padahal bintang-bintang itu adalah benda raksasa. Tetapi menjadi kecil dibandingkan dengan besarnya alam raya. Ruang yang begitu luasnya di alam raya ini gelap semuanya. Sekali lagi yang terang hanyalah seujung jarum saja. Bagian lainnya malam, dan gelap gulita.

Kalaulah di galaxy ini ada seratus milyar bintang, maka seluruh space antar bintang itu gelap dan malam. Kalaulah di alam raya ini ada seratus milyar galaxy atau bahkan lebih, maka seluruh ruangan alam raya ini juga gelap dan malam, kecuali sedikit yang diterangi oleh matahari atau bintang.

Sehingga sebenarnya secara menyeluruh, di dunia ini tak ada waktu siang. Jika hari ini kita sedang berada pada giliran siang hari, sebenarnya sembilan puluh sembilan persen atau bahkan lebih, seluruh alam ini sedang dalam keadaan gelap gulita atau dengan kata lain sedang berada pada peristiwa malam.

Sehingga kalau Al-Qur'an mengatakan ada peristiwa yang terjadi di waktu malam hari, sebenarnya bagi orang yang berakal, Allah telah memberikan sebuah informasi yang bersamaan, yaitu secara parsial dan secara universal.

Secara parsial, yang terjadi pada daerah atau bagian bumi yang sedang berada pada waktu malam. Tetapi juga bisa berarti secara universal. Bahwa setiap saat dan watu, kita semua sedang berada pada saat universal yaitu sedang berada pada waktu malam. Kita disuruh berfikir dan merenung, bahwa semua sedang terjadi ‘saat ini’. Kalau-lah bagi kita sekarang ini sedang siang, boleh jadi di bagian belahan bumi yang lain atau langit yang lain, yang persentasenya jauh lebih besar, sedang terjadi waktu malam, alias gelap gulita.

QS. Al-Furqan (25) : 64
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

QS. Qaaf (50) : 40
Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.

QS. Adz-Dzariyyat (51) : 17-18
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).

QS. Al-Muzzamil (73) : 6
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

QS. Al-Qadr (97) : 1
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.

Kalau kita lihat, di dalam Al-Qur'an tidak kurang ada sebanyak 114 buah kata 'malam', dengan berbagai macam informasinya. Antara lain bahwa malam hari, adalah :
1. Waktu yang paling tepat untuk bersujud (Ali-Imran:113)
2. Waktu yang paling tepat untuk bertasbih (Al-Anbiyaa:20; Thaha:130)
3. Waktu yang paling tepat shalat sehingga bisa khusyu' (Al-Muzzamil:6)
4. Waktu untuk shalat tahajud (Al-Isra':79)
Waktu yang paling tepat untuk mencari hikmah ( Adh-Dhukhaan:4)
5. Waktu yang paling tepat untuk mohon ampun (Adz-Dzariyaat:18)
6. Waktu yang diperbolehkan makan & minum bagi yang berpuasa
(Al-Baqarah:187)
7. Waktu untuk beristirahat (An-Naml:86, Yunus:67, Al-Mu'min:61)
8. Waktu untuk tidur (Al-Furqan:47, Al-An'am:60)
9. Waktu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan mensyukuri nikmat Allah (Al-Furqan:62)
10. Waktu untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (Al-Isra':12)
11. Waktu untuk melihat / merenungi tanda-tanda kebesaran Allah (Al-Isra':1)
12. Waktu untuk mendirikan shalat (Huud:114)
13. Waktu yang dipilih Allah untuk diturunkannya Al-Qur'an (Al-Qadr:1)
14. Waktu yang dipakai malaikat untuk mengatur segala urusan (Al-Qadr:4)
Dari berbagai informasi tersebut, tampaklah bahwa waktu malam adalah waktu yang istimewa. Waktu yang tepat dan waktu yang hebat untuk mencari 'senjata' guna dipakai untuk melawan perbuatan setan.

Dengan memanfaatkan waktu malam, insya Allah kita akan bertambah dekat dan bertambah cinta kepada Allah Swt. Jika seorang hamba bertambah dekat kepada Sang Penciptanya, insya Allah akan lebih mudah untuk mengalahkan sifat dan perbuatan setan yang selalu merugikan manusia.

Maka dari itulah dipilihnya waktu malam oleh nabi Ibrahim untuk mengambil senjata di malam hari di musdzalifah, sebanyak tujuh buah batu kerikil.

Tetapi apabila, kita berorientasi secara universal, bahwa sebenarnya kehidupan kita ini sepanjang waktu adalah malam hari, berarti di sepanjang waktu itu pula manusia disuruh untuk menyembah Allah, disuruh untuk berbakti kepadaNya. Disuruh untuk tahajud kepadaNya. Sehingga tak ada 'waktu luang' sedikit pun bagi manusia untuk tidak menyembah Allah.

Kalaulah malaikat mengatur urusannya menurut Al-Qur'an pada waktu malam, artinya sepanjang waktu dan setiap saat, malaikat sedang 'sibuk' mengatur segala urusan yang diperintahkan Allah kepadanya.
Bahkan Allah-pun selalu 'sibuk' memberi rahmat dan memberi perhatian kepada para hambaNya. Sebagai tanda kasih sayangNya.

QS. Ar-Rahmaan (55) : 29
Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

Mengapa senjata yang diambilnya tujuh buah?
Angka tujuh memang merupakan angka yang penuh dengan makna filosofis yang tinggi, yang sering dipergunakan oleh Al-Qur'an untuk memberi pelajaran bagi manusia.

Di dalam Al-Qur'an jumlah kata 'tujuh' tidak kurang dari tiga puluh buah. Beberapa hal mengenai bilangan tujuh dalam Al-Qur'an :
1. Langit dicipta terdiri dari tujuh lapis (Al-Baqarah:29; Al-Mukminuun:17,86; Fushilat: 12; Ath-Tholaq:12; Al-Mulk:3; Nuh:15; AnNaba':12 )
2. Puasa tujuh hari setelah pulang haji (Al-Baqarah:196)
3. Akan mendapatkan pahala tujuh kali lipat, bagi orang yang menafkakan hartanya di jalan Allah (Al-Baqarah:261)
4. Neraka Jahanam mempunyai tujuh pintu (Al-Hijr:44)
5. Tentang diturunkannya tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang
(Al-Hijr:87)
6. Langit yang tujuh bertasbih kepada Allah (Al-Isra':44)
7. Perumpamaan tujuh laut untuk dijadikan tinta (Luqman:27)
8. Badai angin selama tujuh malam, bagi kaum Aad (Al-Haqqah:7)

Selain beberapa kata tujuh yang terdapat dalam Al-Qur'an tersebut, kata atau bilangan tujuh juga sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya:
1. Jumlah hari dalam kalender Islam atau dalam kalender masehi ada tujuh (minggu, senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu)
2. Jumlah anggota badan / tubuh ketika bersujud dalam shalat, ada tujuh (dahi/ muka, dua telapak tangan, dua lutut, dua ujung jari kaki)
3. Jumlah spektrum / sebaran warna dalam cahaya ada tujuh (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu)
4. Putaran thawaf, juga sebanyak tujuh kali
5. Perjalanan sa'i juga tujuh kali
6. Bahkan Rasulullah saw, memberikan informasi tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan syafa'at ketika di hari kiamat nanti Mereka adalah : Pemimpin yang adil, Pemuda yang taat beribadah, Orang yang hatinya tergantung di masjid, Dua orang yang bersaudara karena Allah, Orang yang tengah malam menangis menyesali dosa-dosanya karena Allah, Laki-laki yang dipanggil wanita cantik tidak mau karena takut Allah, Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui ketika tangan kanannya memberi.
7. Manusia dalam hidupnya berada pada ruang besar, yang disediakan Allah baginya, yaitu tujuh lapis langit.

Manusia di dalam kehidupannya tidak pernah bisa keluar dari waktu yang disebut hari. Keluar dari hari senin, akan bertemu dengan -selasa dan seterusnya. Yang akhirnya akan kembali bertemu dengan hari senin pula. Manusia selalu berada pada bagian hari-hari yang jumlahnya tujuh.

Setiap saat bergerak dan berubah, selalu dipengaruhi dan selalu dalam lingkup dimensi tujuh warna. Kemana saja mata memandang selalu akan bertemu dengan warna kehidupan yang beraneka ragam, yang semuanya berasal dari 7 warna dasar.

Waktu sujud adalah bagian terpenting ketika seseorang menyembah kepada Tuhannya. Saat itulah seorang hamba merasa betapa lemahnya ia. Betapa rendahnya ia. Yang tinggi dan Yang Perkasa hanyalah Allah Swt.

Rasulullah memberikan sebuah signal, bahwa hanya tujuh golongan itulah yang insya Allah akan mendapatkan pertolonganNya. Karena itu sebisa mungkin, manusia haruslah bisa merebut ‘posisi’ itu. Apakah ia akan menjadi seorang pemimpin, apakah sebagai seorang pemuda. Apakah sebagai seorang hamba biasa, apakah dalam kaitannya kita bersaudara. Apakah sebagai seorang yang sering berbuat salah, apakah sebagai seorang lelaki yang sering tergoda oleh nafsunya. Apakah sebagai seorang yang sedang melakukan sodaqah... Rebutlah posisi itu, agar Allah mencintai kita, dan Dia memberi payung syafa'at untuk menolong kita.

Sehingga dengan senjata yang sebanyak tujuh butir batu kerikil itu, seolah kita selalu diingatkan Allah, bahwa di dalam kehidupan kita, dimana manusia sering lupa dan sering tergoda oleh nafsunya, ambillah senjata untuk menangkal itu semua. Ambil senjata itu di waktu malam hari, dengan cara melakukan shalat malam. Ingat ketika sujud ada tujuh anggota tubuh kita yang kita pasrahkan ke hadirat Allah Swt. Untuk mohon perlindunganNya. Dan mohon ridhaNya, dalam mengarungi hari-hari yang tujuh di dalam kehidupan ini. Juga agar tidak tergoda dengan warna-warni kehidupan yang penuh dengan tipu daya.... insyaAllah.