Sunday, March 11, 2007

Menyambut Panggilan

Begitu ramainya suasana tasyakuran di rumah pak Syarif. Para tetangga dan keluarganya, hari minggu itu datang semua untuk ikut memberikan do'a restu kepadanya.

Pak Syarif adalah salah satu penduduk sebuah kampung yang tergolong istimewa. Kesehariannya sangat sederhana. Ia bekerja sebagai tukang parkir sepeda motor di areal pasar dekat rumahku. Istrinya tidak bekerja alias sebagai ibu rumah tangga bagi empat orang anaknya.

Yang menjadikan ia istimewa dalam pandangan para tetangganya adalah, bahwa ia bisa berangkat menunaikan ibadah haji bersama istrinya. Sementara, banyak tetangganya yang meskipun kehidupannya serba cukup bahkan ada yang disebut sebagai keluarga muslim yang kaya, ternyata belum juga bisa berangkat menunaikan ibadah haji.

Ketika aku tanyakan, berapa lama kira-kira mengumpulkan uang untuk menabung sehingga bisa pergi haji, katanya sekitar dua puluh tahun...! Sungguh hebat, dua puluh tahun niatnya sudah terpasang dengan kuat, meskipun jenis pekerjaannya seperti tidak memungkinkan untuk bisa pergi haji. Tetapi tekat yang kuat, dengan disertai panjatan do'a yang kusyu' dan rasa optimis akan pertolonganNya, menjadikan Allah memberikan jalan yang, sangat mudah baginya. Dia-lah yang melipat gandakan rezki pak Syarif.

Minggu pagi itu pak Syarif bersama istrinya nampak begitu bahagia. Tasyakuran sederhana pun digelar dalam rangka pemberangkatan mereka ke tanah suci. Sungguh, pagi yang cerah itu, membuat rumah sederhana di ujung kampung itu betul-betul meriah, karena dipadati oleh para tetangga dan keluarganya.

QS. At-Thalaq (65) : 4-5
perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa pada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Di tengah hiruk pikuknya para tamu yang nampak bahagia itu, kelihatan seorang setengah baya, yaitu pak Widi yang sedang berbincang-bincang dengan para tetangga dan teman-temannya. Kedengaran lamat-lamat olehku salah seorang temannya bertanya kepada pak Widi.
"Kapan pak Widi berangkat ke tanah suci, seperti halnya pak Syarif ?"
Yang lain nyeletuk: "iya pak, kan pak Widi sudah siap, baik tentang ONH maupun tentang kesehatan, kan nggak ada masalah...! Apakah tahun depan pak...?
"...wah, kalau pak Widi yang berangkat, tentu lebih ramai sekali kampung ini...apalagi pak Widi adalah sosok tokoh masyarakat di lingkungan kampung ini.." sahut yang lain.

Mendengar beberapa pertanyaan dari tetangga dan teman-temannya, sambil makan kue yang ada di hadapannya, pak Widi menjawab tanpa ekspresi apa-apa : "...ah sudahlah, kan saya belum dipanggil. Nanti aja kalau saya sudah dipanggil, pasti saya akan berangkat haji."

Pak Abdullah, yang sejak tadi diam saja mendengarkan pembicaraan mereka, tiba-tiba ikut bertanya pada pak Widi: "lho, pak Widi...siapa yang memanggil? menunggu panggilan dari siapa bapak akan berangkat haji...? " Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, pak Widi juga bingung. Pandangan matanya kosong. Ia tidak tahu jawabnya. Maka ia hanya bisa menjawab sembarangan saja.
"...saya juga bingung koq. Tapi kata orang-orang, kalau belum terpanggil, kan kita tidak bisa berangkat ke sana.... ?"

Para tetangga dan teman-teman pak Widi yang kebetulan mendengarkan dialog kecil itu, juga bingung. Ada sesuatu yang dirasa agak aneh dalam pembicaraan itu.
Siapakah yang memanggil manusia untuk pergi ibadah haji?
Siapa pula yang dipanggil untuk pergi melakukannya?
Benarkah pak Widi, termasuk juga kita semua, belum dipanggil?
Mengapa pak Syarif, dengan pekerjaan yang begitu sederhana sudah merasa terpanggil, sehingga ia bertekat untuk mengumpulkan uang, dan akhirnya bisa berangkat?
Mengapa pak Widi, dengan kekayaannya merasa belum dipanggil?
Bukankah, dengan menghayati rukun Islam yang lima itu, sebenarnya seluruh muslimin dan muslimat sudah dipanggil untuk berngkat ke tanah suci...?


PANGGILAN ALLAH

Allah Swt sebagai tuhannya alam semesta. Dialah Dzat Yang Maha Pengasih, dan Yang Maha Penyayang. Sebenarnya dengan kasih sayangNya itu, sudah sejak lama Allah memanggil para hambaNya untuk datang menuju dan mendekat kepadaNya. Untuk apa? Mengapa? Agar manusia tidak tersesat dalam melakukan perjalanan hidupnya.

Allah Yang Maha Rahim itu begitu sayangnya kepada makhluk ciptaanNya yang disebut manusia. Terutama manusia-manusia yang mempunyai komitmen untuk selalu beribadah kepadaNya.

Siapa saja yang datang memenuhi panggilan itu, khususnya orang-orang yang beriman, insya Allah dialah orang yang bahagia. Seorang hamba yang beriman, apabila dengan segala kemampuannya ia mau mengabdikan dirinya karena Allah semata, insya Allah dia akan mendapatkan kemuliaan dariNya. Di dunia ini, maupun di akhirat nanti.

Kehormatan yang sangat mahal nilainya itu insya Allah akan diberikan sendiri oleh Allah Sang Pencipta, yang hanya Dialah Yang Maha Kaya. Dialah yang akan memberikan penghargaan atas jerih payah dan 'prestasi' manusia yang berhasil mengalahkan musuh utamanya.

Sehingga..., tinggallah kepekaan seseorang. Apakah ia akan menghiraukan panggilan itu, atau sebaliknya ia justru acuh tak acuh, dan tidak mengindahkan sama sekali. Sungguh, setiap saat dan waktu, Allah selalu memanggil hamba-hambaNya!

Ada panggilan untuk berbuat kebajikan. Ada panggilan untuk meningkatkan iman.

Ada panggilan agar meninggalkan kemungkaran. Ada panggilan untuk meningkatkan ketaqwaan.

Ada panggilan untuk berpuasa. Ada pula panggilan agar manusia datang bertamu di Baitullah Mekah Al-Mukaromah.

Sungguh berbahagialah manusia yang mau menggunakan ilmunya untuk memenuhi semua panggilan itu. Sebab Allah akan mengangkat martabat dan derajatnya. Suatu martabat yang sangat dirindukan oleh setiap manusia.

Inilah beberapa panggilan Allah yang tertera dalam Al-Qur'anul Kariim.

QS. Al-Mujaadilah (58) : 11
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. Ali Imran (3) : 102
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

QS. Al-Baqarah (2) : 183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Sungguh, apabila kita renungkan, sangatlah indah cara-cara Allah memanggil manusia yang rindu dan peduli akan kasih sayangNya.
Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah saw bersabda : Allah Ta'ala berfirman
“Aku menurut sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku akan bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu di dalam kelompoknya, maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik. Jika ia mendekatkan diri kepadaKu sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
(HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam hadits tersebut Allah memberikan semacam persyaratan, kepada siapa saja yang ingin datang menuju Allah. Dan Allah akan menyambutnya dengan penuh kasih dan penuh sayang. Syaratnya cukup sederhana. Hanya satu. Harus aktif!

Siapa saja yang aktif menuju Allah, berarti dialah orang yang mempunyai kesungguhan untuk bertemu dengan Allah. Maka Allah akan menerimanya dengan mesra, dengan segala keridhaanNya.

Jika ada seorang hamba yang ingat kepada Allah, maka Allah akan mengingatnya dengan lebih baik. Jika ada seorang hamba yang bersikap aktif datang kepada Allah, maka Allah akan datang dengan lebih cepat kepadanya.

Demikian pula jika ada seorang hamba yang ingin datang ke Baitullah di tanah haram, insya Allah, Dia akan dengan penuh suka menyambut kedatangannya. Dan sungguh Allah Swt akan mempermudah prosesnya untuk sampai di Baitullah.

QS. Al-Baqarah (2) : 125
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang ruku' dan yang sujud".

Hadits Qudsi (R. Ad Dailami)
"Barang siapa yang menjenguk-Ku dalam rumah-Ku (masjidil Haram) atau masjid Rasulullah saw, atau Baitul Maqdis, lantas ia meninggal, maka ia meninggal dalam keadaan sahid."

QS. Al-Hajj (22) : 26
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memper-serikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.


PANGGILAN IBRAHIM

QS. Al-Hajj (22) : 26-27
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memper-serikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku dan sujud.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Siapakah yang tidak terpanggil dengan kisah Ibrahim? Sebuah kisah dari seorang yang lurus, seorang yang santun, seorang yang cintanya kepada Allah mampu mengalahkan cintanya kepada anak sendiri. Bahkan mengalahkan cintanya kepada diri sendiri...

Dialah sang tauladan. Yang kisah drama kehidupannya perlu kita teladani. Dan akhirnya diikuti oleh semua manusia sebagai tata cara dalam ibadah haji. Dialah sang tauladan. Yang dengan do'anya mengajarkan kepada kita agar memegang teguh tentang tauhid.

Dialah sang pemberani. Yang dengan kemantapan tauhidnya, ia berani dibakar demi menegakkan kebenaran sejati. Dan Allah pun menjawab dengan spontan. Bahwa Ibrahim adalah orang yang benar. Sehingga dengan izin Allah api yang panas itu pun menjadi dingin...dan selamatlah Ibrahim.

QS. AI-Anbiya (21) : 69
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim".

Ajaran Ibrahim adalah mentauhidkan Allah. Yang hanya kepada Allah sajalah manusia pantas dan patut menyembah. Selain Allah, adalah berhala yang harus disingkirkan dan harus dihancurkan. Agar hidup ini tetap lurus, dan tetap istiqomah hanya untuk menuju Allah semata.

QS. Ibrahim(14) : 35
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala.

Dalam beragama, Ibrahim tidak sekedar menuruti emosinya, tetapi ia menggunakan akal fikirannya. Karena akal fikiran adalah anugerah dari Allah yang luar biasa hebatnya. Dengan kemampuannya menggunakan akal fikirannya, Ibrahim mampu memberikan bukti bahwa hanya Allah-lah yang berhak dijadikan sebagai tuhannya manusia. Tuhan seluruh alam semesta. Karena memang Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia.

Maka seorang modern yang mengaku selalu menggunakan pikirannya dalam beraktifitas, sungguh sangat tepat menganut dan mempelajari Islam sebagai agamanya.

QS. Al-Anbiya (21) : 56
Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".

Apabila seseorang telah lurus jalannya, dan hanya kepada Allah semata kecintaannya diberikan, maka ia akan mendapatkan hikmah dari mana saja. Dari setiap persoalan yang dihadapinya maupun dari setiap benda yang dilihatnya. Itulah ciri dari orang-orang yang shalih.

QS. Asy-Syu'araa' (26) : 83
(Ibrahim berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih.


PANGGILAN RASULULLAH

Rasulullah saw begitu mencintai umatnya. Maka salah satu anjuran beliau adalah agar manusia datang menuju Baitullah. Bahkan beliau mewajibkannya bagi orang yang mampu untuk melakukannya.

Mengapa Rasulullah sampai mengundang dan memanggil agar manusia pergi ke Baitullah? Karena begitu hebatnya penghargaan Allah bagi orang yang menunaikan ibadah haji.

Maka demi cintanya kepada manusia, khususnya orang-orang yang beriman, Rasulullah pun memanggil manusia agar pergi menunaikan ibadah hajinya ke tanah Haram.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda :
Hai semua manusia, Allah mewajibkan atasmu haji. Maka berhajilah kalian. Dan siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata dan berbuat keji dan fasiq, ia akan keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan pada saat dilahirkan oleh ibunya. Dan melakukan umrah hingga umrah di tahun depan, menjadi penebus dosa yang terjadi antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga
(HR. Bukhari, Muslim)

Siapa yang pergi berhaji, benar-benar ikhlas karena Allah, maka diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, dan dia diberi hak syafaat pada semua yang dido'akannya
(HR. Abu Naiem, dari Abdullah bin Mas'ud)

Siapa yang menyelesaikan ibadat hajinya, dan semua muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya, maka akan diampunkannya dosa dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
(HR. Ahmad, Abu Ya'la, dari Jabir ra)

Berhajilah kamu, karena ibadat haji itu dapat mencuci dosa-dosa sebagaimana air dapat membersihkan kotoran.
(HR.Atthabarani)

Siapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat menyampai-kannya berhaji ke Baitullah, kemudian ia tidak berhaji, maka tidak ada halangan baginya untuk mati dalam keadaan yahudi atau nasrani.
(HR. Attirmidzi dan Al-Baihaqi, dari Ali ra)


PANGGILAN NURANI

Selain panggilan Allah, dan panggilan Ibrahim, sebenarnya nurani manusia setiap saat dan waktu juga telah memanggilnya untuk selalu berbuat baik. Karena pada hakekatnya nurani adalah cahaya Ilahiah, yang selalu mengajak kepada kebaikan semata. Tetapi jika seseorang sering berbuat salah, selalu berbuat jahat, sering dusta, iri, dengki, hasut, dan buruk sangka,...maka sebenarnya itulah penyakit hati yang akan menutupi nuraninya.

Jika hati seseorang sudah tertutupi, maka semua panca inderanya tidak berfungsi sebagaimana mestinya lagi.

QS. Al A'raf (7) : 179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanan kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Orang yang sudah tidak mempunyai nurani lagi, dikarenakan hati mereka tidak sensitif terhadap panggilan kebenaran, maka oleh Allah hati mereka bahkan dikunci mati. Sebab hati mereka telah berpenyakit yang sulit diobati.

QS. Al-Baqarah (2) : 7
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

QS. Al-Baqarah (2) : 10
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.


PANGGILAN BILAL

Lima kali dalam sehari, Bilal mengumandangkan seruannya. Sebuah seruan yang indah untuk hamba yang taat mengerjakan shalat. Sebuah panggilan yang lantang untuk menjanjikan kemenangan. Inilah sebuah panggilan yang menjanjikan kebahagiaan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Asyhaduallaa ilaaha illallaah,
Asyhaduallaa ilaaha illallaah,
Asyhaduanna muhammadarrasulullaah,
Asyhaduanna muhammadarrasulullaah,
Hayya 'alash shallaah,
Hayya 'alash shallaah,
Hayya 'alal falaakh,
Hayya falaakh,
Allaahu akbar, allaahu akbar,
Laa ilaha ilallaah.....

Tentu semua manusia dalam hidupnya menginginkan kemenangan dan juga menginginkan kebahagiaan. Seseorang yang menginginkan sebuah kemenangan, dalam hal apa saja, tentu ia sangat perlu dan rela menyiapkan segala sesuatunya agar ia menjadi menang.

Demikian pula seseorang yang ingin hidupnya bahagia. Ia akan rela berkorban apa saja. Sampai kadang-kadang kita lihat ada orang yang tersesat kemana-mana untuk sebuah kebahagiaan yang didambakannya. Mengapa banyak orang yang tersesat dalam mencari sebuah kemenangan? Karena banyak orang yang tidak tahu apa syarat kemenangan itu. Dan apa syarat untuk mencapai kebahagiaan itu.

Lihatlah! begitu indahnya seruan Bilal. Sangat perlu kiranya kita lakukan perenungan terhadap seruan itu. Agar manusia hidupnya menang dan bahagia.

Apa syarat untuk mencapai kemenangan? Menurut 'ilmu' nya Bilal, syaratnya hanya satu! Yaitu: kerjakan shalat.
Dirikan shalat dengan sebaik-baiknya.
Fahami maknanya.
Renungi nilainya.
Sadari manfaatnya.
Insya Allah akan kita dapatkan kemenangan itu. Jika kemenangan telah kita capai, maka kebahagiaan pun akan kita dapatkan.
Bahagia di dalam hidup ini!
juga yang lebih penting lagi, bahagia di hari akhir nanti..!

"...Hayya 'alash shallaah, Hayya 'alal falaakh,..." (...mari kita shalat, mari kita menuju kemenangan...)

QS. Al-Jumu'ah (62) : 9
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.