Tuesday, March 6, 2007

Keseimbangan

Bagian akhir dari bab 'tentang keselarasan' ini adalah 'Keseimbangan'. Kita telah tahu bahwa alam semesta adalah pusaran energi tiada henti. Kita juga telah tahu bahwa seluruhnya berpusat di Arsy Allah. Kita pun semakin tahu, bahwa kita hanyalah bagian dari pusaran energi yang luar biasa besar dan dahsyat itu.

Karena itu kita menjadi paham, bahwa sebaiknya kita tidak melawan pusaran. Tapi, justru mencoba merasakan gerak berpusar tersebut, dan kemudian menjadi bagian tak terpisahkan darinya. Bahkan, kita mesti bertujuan untuk masuk ke dalam pusaran, untuk bersatu dengan pusat pusaran. Karena di sanalah kita akan memperoleh segala-galanya. Maka, selain memohon pertolongan dan berserah diri kepadaNya, ada tips yang harus dijalankan dengan baik, yaitu: kita lakukan semua proses itu dalam keseimbangan.

Kenapa mesti dalam keseimbangan? Karena sistem berputar itu ternyata dibangun dalam sebuah keseimbangan sempurna. Siapa saja yang tidak bergerak dalam keseimbangan, ia akan jatuh terpelanting.

QS. Al Mulk (67) : 3
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

QS. Al Infithaar (82) : 7
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang,

Coba kita cermati, Allah mengatakan bahwa seluruh eksistensi ini telah diciptakan dalam keseimbangan. Baik alam semesta - langit dan bumi. Maupun diri kita sendiri. Tidak ada yang tidak seimbang, kecuali telah dirusak oleh ulah tangan manusia. Tapi, kerusakan itu berangsur-angsur akan menuju pada keseimbangannya kembali. Biasa nya setelah meminta 'korban'.

Ambil contoh berbagai bencana, seperti banjir dan tanah tongsor yang banyak terjadi di sekeliling kita. Semua itu terjadi karena rusaknya keseimbangan alam akibat utah tangan manusia.

Ketika alam dalam keadaan seimbang, bencana seperti ini tidak terjadi. Sebab alam memang memiliki mekanisme untuk saling mendukung dan memperbaiki. Ketika oksigen di alam berkurang, maka pepohonan akan memproses kandungan karbon dioksida menjadi oksigen kembali.

Ketika suhu memanas, maka sistem sirkulasi udara akan meniupkan angin ke tekanan yang lebih rendah. Ketika, kelembaban berkurang, maka muncul mekanisme untuk mengembalikan kelembaban tersebut. Tapi, itu semua bisa terjadi jika kondisi alam masih seimbang.
Jika tidak, maka alam tidak akan menempuh cara itu. Yang muncul adalah mekanisme 'batas dendam'. Karena alam sudah dirusak mekanisme keseimbangannya, alam akan ganti merusak. Inilah hukum aksi-reaksi.

Kalau manusia menggunduli hutan, maka alam akan membatas dengan banjir dan tanah tongsor. Suhu udara jadi lebih panas. Kelembaban jadi menurun. Gersang. Sebenarnya ini adalah upaya alam untuk memperoleh keseimbangannya kembali. Tetapi efeknya menghancurkan manusia.

Jika manusia tidak membantu alam untuk seimbang seperti sediakala, alam akan terus melakukan reaksinya, untuk memperoleh keseimbangan yang seharusnya. Manusia 'dipaksa' untuk menghijaukan hutan dan tingkungan hidupnya kembali. Begitulah cara alam.

Dalam diri manusia pun terdapat keseimbangan sistem yang dikenal sebagai homeostasis. Manusia akan sehat, jika badannya dalam keadaan seimbang. Sebaliknya akan sakit jika tidak seimbang. Mulai dari yang ringan, seperti pusing-pusing, sampai pada munculnya kanker atau pun kerusakan organ tubuh. Semuanya akan kembali baik dan sehat, jika kita mengembalikan dalam keseimbangannya

Jadi, keseimbangan adalah kunci keberhasilan. Kunci kesuksesan. Dalam arti sesungguhnya. Siapa pun yang bisa mencapai keseimbangan akan memperoleh kebahagiaan. Sebaliknya, yang menabrak keseimbangan bakal menuai masalah.

Kalau kita amati, seluruh proses di sekitar kita sedang menuju keseimbangan. Cuma, ada yang berjalan cepat. Ada yang berjalan lambat.

Air mengalir dari tempat tinggi di pegunungan menuju tempat rendah di lautan, adalah sebuah proses mencapai keseimbangan. Angin berhembus dari tempat yang bertekanan tinggi menuju ternpat bertekan rendah adalah proses keseimbangan.

Suhu benda yang tinggi, menjadi berangsur-angsur mendingin sampai mencapai suhu kamar, juga proses keseimbangan.

Bumi berputar mengelilingi matahari selama miliaran tahun pun proses keseimbangan. Seluruh benda alam sedang bergerak berpusar-pusar juga sebuah proses keseimbangan.

Jadi, secara umum kita bisa mengatakan apa pun yang terjadi disekitar kita maupun pada diri sendiri, sebenarnya adalah sebuah proses menuju keseimbangan. Bahkan, sebuah bencana sebenarnya adalah proses menuju keseimbangan, akibat kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia.

Tsunami dan gempa bumi, misalnya, adalah sebuah proses menuju pada keseimbangan putaran bumi. Begitu juga banjir, badai, tanah longsor, dan sebagainya. Lebih jauh tentang hal ini akan saya bahas dalam Diskusi yang terpisah, yang insya Allah berjudul: 'KENAPA TERJADI BENCANA'

QS. Ruum (30) : 41
Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada keseimbangan alam).

Jadi, keseimbangan adalah salah satu kunci tercapainya kondisi sukses, selamat dan nikmat. Sayangnya, banyak di antara kita yang tanpa sadar telah merusak keseimbangan. Tapi, akibatnya sama saja. Sadar atau tidak, jika kita merusak keseimbangan hasilnya akan menyakitkan kita semua.

QS. Al Baqarah (2) : 12
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar

QS. Al A'raaf (7) : 56
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Jadi, Allah selalu memperbaiki ketidakseimbangan yang terjadi. Itu memang telah ditetapkan lewat sunnatullah. Lewat mekanisme alam. Bahwa yang tidak seimbang, bakal mengalami proses penyeimbangan. Akan tetapi, manusia tidak mau menyadarinya, sehingga selalu berbuat kerusakan, yang merugikan dirinya sendiri.

Maka, Allah mengingatkan secara berulang-ulang agar kita tidak membuat kerusakan di muka bumi. Karena semua itu bakal menjadikan alam tidak seimbang, dan ujung-ujungnya membuat kita sendiri menderita.

QS. Ay Syu'araa' (26) : 183
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan

QS. Al Anfaal (8) : 73
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain (untuk membuat kerusakan). Jika kamu (kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.