Thursday, March 8, 2007

Masih Perlukah Kita Mendekat

Kalau benar, kita sudah demikian dekatnya kepada Allah, apakah masih perlu mendekatkan diri kepada Nya? Untuk apa? Bukankah Dia sudah menegaskan bahwa Dia begitu dekat dengan hamba-hambaNya. Dan akan mengabulkan setiap permohonan yang disampaikan kepadaNya?

QS. Al Baqarah (2) : 186
Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus terlebih dahulu sepakat tentang makna kata 'dekat' Bahwa dekat yang dimaksud di sini adalah kedekatan kualitas, sebagaimana telah kita bahas di bagian depan. Bukan sekadar kedekatan fisik, karena sesungguhnya Dia telah begitu dekatNya dengan hamba-hambaNya.

Maka, kalau kita baca ayat-ayat Qur'an, Allah menggunakan beberapa istilah yang hampir sama maknanya untuk menggambarkan kedekatan makhluk kepada Tuhannya. Setidak-tidaknya ada 5 tingkat kedekatan.

1. Meliputi
Dalam banyak ayat Allah mengatakan bahwa Dzat, Ilmu, Rahmat dan KekuasaanNya meliputi segala sesuatu. Kita sudah membahas di depan, bahwa karena Allah tidak terbagi-bagi dalam penyusun yang lebih kecil, maka Dzat, Ilmu, Rahmat dan KekuasaanNya itu sebenarnya menunjuk kepada Eksistensi Tunggal.
Ketika Allah mengatakan salah satu sifatNya meliputi makhlukNya, maka sebenarnya seluruh sifat-sifat yang lain juga meliputi makhlukNya. Dengan kata lain, Dzat TunggalNya meliputi segala yang ada.

QS. An Nisaa' (4) : 126
Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

QS. Al Baqarah (2) : 19
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir

Dan sejumlah ayat-ayat lagi yang menceritakan bahwa Allah meliputi segala makhlukNya. Setidak-tidaknya ada 2 kata yang digunakan. Kadang menggunakan kata mukhith, kadang wasi’a. Tapi intinya, Allah sedang memberikan gambaran betapa Allah itu sedang meliputi makhlukNya, dan sangat dekat dengan mereka.

Kata meliputi ini juga memberi makna 'luas' atau 'besar'. Artinya, ketika dikatakan bahwa Allah meliputi segala sesuatu, maka Dia itu sebenarnya adalah Dzat Yang Amat Sangat Besar Sekali. Sehingga bisa meliputi segala sesuatu, termasuk alam semesta keseluruhannya.

Namun, disamping itu, kata-kata kulli syai in (tiap-tiap sesuatu) di ayat tersebut menggambarkan betapa Allah begitu dekat, karena meliputi tiap-tiap makhlukNya, termasuk setiap diri manusia. Bahkan setiap bagian terkecil tubuh manusia.
Jadi, makna kata 'meliputi' memberikan persepsi sebagai kedekatan makhluk dengan Tuhannya atau sebaliknya. Tapi kedekatan yang bersifat universal.

Materi, energi, ruang, waktu, dan informasi, semuanya terangkum dalam kata ‘meliputi’. Bahkan termasuk orang-orang yang kafir pun diliputi oleh Allah. DzatNya dekat dengan apa saja dan siapa saja!

2. Bersama
Kata 'dekat' yang memiliki makna lebih khusus adalah 'bersama'. Kata yang digunakan adalah ma'ash shabirin (bersama orang-orang yang sabar), ma'akum, ma’ana, ma’ahum (bersamamu, bersama-Ku, bersama mereka). Dan sebagainya.

Kata 'bersama' menunjukkan kedekatan secara khusus. Lebih khusus dibandingkan dengan 'meliputi'. Karena itu, penggunaan kata 'bersama' ini langsung dikaitkan dengan objeknya: bersamamu, bersama-nya, bersamaku.

Ada semacam perhatian khusus, ketika Allah mengatakan: ‘Aku bersama dengan orang-orang yang sabar’ Seakan-akan Dia ingin menegaskan bahwa Allah akan memberikan pembelaan dan melindungi orang-orang yang sabar.

QS. Al Baqarah (2) : 153
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

QS. Al Hadiid (57) : 4
Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa, yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

QS. Al Anfal (8) : 46
Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar

Dan banyak lagi ayat lainnya tentang makna 'kebersamaan' itu. Tapi sangat jelas, bahwa ketika Allah menggunakan kata ‘bersama’, maka Dia sedang menunjukkan kedekatan yang lebih dekat dibandingkan dengan 'meliputi'.

3. Dekat.
Tingkat yang berikutnya lagi adalah ‘dekat’ alias Qarib. Ini adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kedekatan secara lebih emosional. Di banyak ayat Allah menggambarkan kedekatanNya dengan kata qarib. Di antaranya adalah berikut ini.

QS. Al Baqarah (2) : 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

QS. Al A'raaf (7) : 56
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik

QS. Qaaf (50) : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya

QS. Huud (11) : 61
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."

Ayat-ayat di atas memberikan penegasan kepada kita bahwa Allah menggunakan kata 'qariib' untuk menggambarkan kedekatan secara emosional (ingat istilah 'sahabat karib'). Misalnya: bertobatlah kepada Nya. Sesungguhya tuhanku amat dekat, lagi memperkenankan do'a.

Demikian pula pada ayat-ayat sebelumnya. Dia menggunakan kata qariib untuk memancing kita lebih dekat lagi secara emosional. Bahwa Allah sangat menyayangi kita. Bahwa Allah sangat pemurah dan pemaaf. Bahwa Allah pasti memperkenankan do'a kita. Sehingga, ketika seseorang telah dikatakan dekat dengan Allah, dia adalah orang yang beruntung, karena rahmat dan kasih sayangNya selalu menaunginya di dunia dan akhirat..

QS. Ali Imran (3) : 45
Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),

QS. Al Waqi’ah (56) : 11
Mereka itulah orang yang didekatkan kepada Allah

QS. Al Muthaffifin (83) : 21
Yang disaksikan, oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).

QS. Al Muthaffiffin (83): 28
(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

4. Di sisiNya
Istilah lain untuk menggambarkan kedekatan makhluk dengan Allah adalah 'indallah' alias di sisi Allah. Kata indallah yang dikaitkan dengan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya, biasanya menggambarkan posisi yang tinggi. Diantaranya adalah ayat-ayat berikut ini.

QS. Ali Imran (3) : 169
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki

Di antara hamba-hamba yang didekatkan di sisi Allah itu adalah para pejuang yang mati syahid. Yang mengorbankan hidupnya untuk mengabdi di jalan Allah. Melakukan syi'ar agama untuk kemajuan umat.

Ada beberapa tingkat kualitas seiring dengan kualitas pengabdian dan amalannya. Sehingga Allah mengatakan bahwa kedudukan mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah. Allah mengampuni dosa dan kesalahan mereka. Dan mereka memperoleh balasan yang baik di sisiNya. Bahkan di bagian terakhir dari urutan ayat di bawah ini, saya kutipkan firman Allah yang menegaskan bahwa itulah orang-orang yang imannya benar. Karena itu, mereka memperoleh ampunan dan rezeki dari Allah. Mereka diberi derajat yang tinggi di sisiNya.

QS. Ali Imran (3) : 163
(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

QS. Shaad (38) : 25
Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

QS. Shaad (38) : 40
Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

QS. Al Anfal (8) : 4
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni'mat) yang mulia.

5. Berserah Diri
Dan, tingkat kedekatan yang paling tinggi adalah 'berserah diri' kepada Allah. Muslimuun. Inilah suatu tingkatan, dimana ego soseorang sudah sedemikian rendahnya. Dan, yang muncul hanya Ego Allah saja.

Dirinya telah lebur ke dalam Diri Allah. Sifat-sifatnya juga lebur ke dalam Sifat-Sifat Allah. Kehendaknya telah luluh ke dalam Kehendak Allah. Itulah yang di dalam hadits Qudsi dikatakan bahwa orang-orang demikian itu 'melihat dengan penglihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, dan seluruh langkah perbuatannya dilambari oleh ilmu-ilmu Allah.'

Di dalam Al Qur’an salah satu hamba yang diceritakan memiliki tingkat kedekatan seperti itu adalah nabi Khidir. Sehingga ia digambarkan sebagai nabi yang misterius, dan sulit dipahami jalan pikiran dan perbuatannya. Jangankan oleh manusia pada umumnya, setingkat nabi Musa pun sulit mengikuti jalan pikiran nabi Khidir. Hal itu diceritakan Allah dalam QS. Al Kahfi ayat 60 - 82.

QS. Al Kahfi (18) : 65

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami

Cerita itu sangat panjang, silakan dibaca sendiri dari Al Qur’an. Tapi sebagai gambaran umum, Allah menyuruh nabi Musa untuk berguru kepada nabi Khidir, seorang nabi yang tidak terkenal dan misterius di pinggiran pantai, pertemuan dua lautan.

Ketika mengikuti perjalanan nabi Khidir itulah, nabi Musa sempat beberapa kali dibuat heran dan marah, karena nabi Khidir melakukan hal-hal yang tidak masuk akalnya.

Yang pertama, Khidir merusak perahu nelayan miskin. Yang kedua, dia membunuh seorang anak kecil. Dan yang ketiga, dia mengajak Musa untuk membangun sebuah rumah tua yang sudah roboh, tanpa upah.

Maka, kata Khidhr, Inilah saat kita berpisah, karena engkau tidak sabar mengikutiku, sekarang aku tunjukkan alasan seluruh perbuatanku itu. Kemudian, Khidir membeberkan semuanya. Bahwa, semua perbuatannya itu bukan karena hawa nafsunya, melainkan untuk kepentingan yang lebih besar, yang tidak diketahui oleh Musa.

Bahwa merusakkan perahu itu, justru untuk menyelamatkan perahu milik nelayan tersebut agar tidak dirampas oleh seorang raja lalim. Membunuh anak kecil, dimaksudkan untuk menyelamatkan anak itu sendiri dari dosa dan juga orang tuanya yang saleh. Karena anak itu akan menjadi anak yang jahat.

Sedangkan, membangun rumah yang roboh dimaksudkan untuk menyiapkan harta peninggalan bagi anak-anak yatim yang tinggal di rumah tersebut. Hartanya ditinggalkan di bawah rumah oleh orang tuanya yang telah meninggal dunia.

Dan yang menarik, di akhir cerita itu, Khidir mengungkapkan bahwa semua itu bukanlah atas kehendaknya, melainkan Kehendak Allah. Sebagaimana diinformasikan Allah dalam potongan ayat-ayat berikut ini.

QS. Al Kahfi (18) : 82
“…dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri…”

Ini sungguh merupakan tingkat kedekatan yang tiada taranya. Bahwa nabi Khidir telah bisa menyatukan kehendaknya dengan Kehendak yang Maha Tinggi, Kehendak Allah, Sang Maha Tahu..

Namun, kedekatan semacam ini tidak bisa ditiru begitu saja oleh orang lain. Tidak bisa, kita melakukan kesewenang-wenangan, kemudian mengatakan bahwa semua itu atas kehendak Allah, seperti nabi Khidir! Bisa sangat berbahaya. Seperti sebagian murid-murid Siti Jenar yang dikabarkan berbuat semaunya, dengan alasan telah bersatu dengan Allah. Manunggaling kawula kelawan Gusti.

Untuk mencapai tataran itu ada suatu proses panjang yang mesti dijalani. Menghilangkan ego diri sendiri dan memunculkan Ego Allah. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada bagian berikutnya...