Monday, March 5, 2007

Bertemu Allah di Setiap Pelajaran

Bisakah anak-anak bertemu dengan Allah ketika sedang belajar di dalam kelas? Bagaimana bisa bertemu Allah ketika belajar Matematika, Ilmu Bahasa, IPS atau IPA? Bagaimana pula bisa bertemu Allah ketika sedang ber Olah Raga?

Saat itu sedang berlangsung penerimaan raport. Saya terlibat dalam perbincangan di seputar pendidikan dengan beberapa wali murid . Berbagai pendapat muncul, untuk sekedar urun rembuk. Yang hal tersebut sangat berkaitan dengan masa depan anak-anak kita.

Diam-diam pasti kita pernah berfikir, bagaimana kira-kira zaman mereka nanti. Tentu lebih 'seru' lagi situasi dan kondisinya. Baik dari sisi ekonomi, pendidikan, moral bangsa, dunia perpolitikan, dunia informasi, teknologi,... dsb. Wah, pasti kita tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi bangsa ini tiga puluh atau empat puluh tahun mendatang.

Tetapi kami masih sepakat, andaikata hati manusia tetap memiliki Allah Swt, sebagai Tuhannya, insyaAllah kondisi yang kita inginkan bersama itu masih akan tetap terjaga. Dari bincang-bincang seadanya itu, ada sesuatu yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut, dan perlu kiranya untuk diketahui oleh orang lain.

Tiba-tiba saja saya berfikir. Bisakah diupayakan agar setiap saat anak-anak kita merasa dekat terus dengan Tuhannya? Sehingga perilakunya masih tetap seperti yang diinginkan orang tuanya? Jika itu mungkin dilakukan, insyaAllah nilai-nilai yang diharapkan akan tetap terjaga.

Kalau dilihat dari sisi pelajaran yang diterima siswa, setiap harinya anak-anak kita akan 'bertemu' dengan Tuhannya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Mungkin hanya satu jam atau dua jam pelajaran, yaitu ketika mereka sedang belajar agama saja.

Ketika mereka belajar ilmu yang lain misalnya matematika, IPS, IPA, PPKn, olah raga, kertakes, atau yang lainnya... mereka sama sekali tidak ketemu dengan Tuhannya. Padahal, perbandingan lamanya waktu belajar antara pelajaran umum dengan pelajaran agama sungguh sangat besar.

Akhirnya saya berandai-andai. Andaikata di setiap pelajaran umum itu, setiap guru mau dan mampu memaparkan kebesaran Tuhan lewat disiplin ilmunya masing-masing, wah..betapa hebatnya...!

Niscaya, keberadaan Tuhan Yang Maha Halus itu, akan mewarnai kehalusan budi pekerti anak-anak kita. Rahman dan Rahim Tuhan Yang Maha Pengasih itu, niscaya akan mengubah kebiasaan dan perilaku yang salah. Tetapi apakah hal itu memungkinkan?

Inilah sebuah konsep keilahian, yang kalau dilaksanakan tentu akan membuahkan hasil yang hebat. Tetapi tentu kendalanya adalah masalah kemampuan dan kemauan dari semua fihak.

Sebenarnya secara teoritis hal itu sangat mungkin dilakukan. Karena setiap cabang ilmu apa pun asalnya bersumber dari Allah Swt. Pada setiap cabang ilmu, selalu ada celah yang sangat besar untuk setiap orang bisa bertemu dengan Allah dalam rangka untuk bisa melihat dan menghayati kebesaranNYa.

Dengan adanya konsep ke Ilahian pada mata pelajaran umum, yang sementara ini belum pernah atau sangat sedikit sekali disinggung dalam proses belajar mengajar di kelas, tentu akan memberikan kontribusi yang besar bagi kehidupan anak-anak bangsa.

Konsep yang ada sampai dengan hari ini, ialah bahwa budi pekerti, perilaku ahlak mulia, dan nilai ketuhanan didapatkan oleh para siswa pada pelajaran terpisah dari pelajaran umum. Sehingga terdapat kesan bahwa melakukan akhlak mulia dan berbudi pekerti luhur itu hanya pada 'wilayah' agama saja. Selebihnya seolah-olah setiap orang boleh tidak berakhlak mulia dan boleh tidak jujur dalam kehidupan ini.

Insya Allah ini merupakan sebuah konsep baru, dimana dalam kita berperilaku akan diwarnai konsep ketuhanan dan kehalusan budi pekerti di setiap bidang ilmu yang dipelajari. Mereka akan 'bertemu' dengan Tuhan di setiap bidang ilmu yang digelutinya setiap hari. Bukan hanya pada pelajaran agama saja yang notabene diterima oleh anak-anak tidak sesering mata pelajaran umum.

Mampukah kiranya? Bahwa pemikiran anak-anak kita akan bisa melihat kebesaran Tuhan melalui pelajaran umum? Jawabnya tentu sangat mampu. Sebab Allahlah yang mendesain otak manusia, maka jika desainNya tersebut dipakai untuk melihat kebesaranNYa, maka tentu Tuhan akan 'dengan senang hati' mengabulkan keinginan itu.

Setelah setiap siswa dapat secara terus menerus melakukan 'hubungan' dengan Tuhannya melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya setiap hari di bangku sekolah, maka janji Tuhan pasti akan terbukti bahwa manusia akan bahagia, beruntung, dan akan terangkat derajatnya di dunia maupun di akhirat nanti. Seperti halnya beberapa informasi yang diberikan dan diabadikan oleh Tuhan di dalam kitabNya berikut ini.

QS. Al Mujadilah : 11
"... Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan di antaramu beberapa derajat... "

Inilah informasi dari Allah Swt, bahwa orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, akan diangkat derajatnya dengan beberapa derajat, dunia dan akhirat.

Info ini menguatkan `konsep keilahian' yang saya maksud. Apabila seseorang menggunakan ilmu pengetahuannya untuk melihat kebesaran Tuhannya, maka sekaligus ia sebagai orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

QS. Al Anfaal : 2
"Adapun orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah akan bergetar hatinya, dan bila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, akan bertambah kuat imannya, dan mereka selalu bertawakal kepadaNya"

Mengapa seorang yang beriman sampai bergetar hatinya bila disebut asma Allah? Salah satu alasannya adalah karena mereka mencintai Allah Swt.

Mengapa bisa mencintaiNya? Karena telah begitu dekatnya dengan Allah Swt.

Mengapa bisa merasa begitu dekat? Karena sering bertemu denganNya.

Mengapa bisa sering bertemu? Karena setiap, saat dan waktu bisa merasakan kehadiranNya.

'Kebiasaan‘ bertemu Allah itu akan terus terawat dan terjalani, apabila mulai sejak kecil seorang siswa sudah biasa memikirkan dan merasakan kehadiran Tuhan di dekatnya (konsep keilahian).

Di dalam 'bahasa shalat' orang yang bisa konsentrasi bertemu dan merasakan kehadiran Tuhannya, disebut orang yang khusyu'. Baik hal itu terjadi di dalam shalatnya maupun terjadi di luar shalatnya saat hidup bermasyarakat.

QS. Al Mukminuun : 1- 2
"Sungguh sangat beruntung, orang-orang beriman yang khusyuk dalam menjalankan shalatnya"

Bagaimana penerapan konsep keiLahian itu? Sebagai sekedar contoh dalam uraian ini, kita bisa mengambil beberapa materi dasar yang ada pada masing-masing mata pelajaran. Hal itu tentu bisa berkembang kepada konsep pelajaran di sekolah-sekolah yang lebih tinggi.

1.Matematika,
Dalam ilmu matematika atau ilmu hitung, setiap bilangan dapat dipakai untuk melihat kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta. Misalnya: bilangan Satu, Bilangan Sembilan, bilangan Sembilan belas, bahkan nilai Tak Terhingga juga bisa dipakai untuk melihat kekuasaan Allah yang Tiada Batas alias Tak Terhingga.

Demikian pula, banyak sekali rumus-rumus dasar dalam ilmu matematika yang bisa dipakai sebagai alat teropong untuk melihat Kebesaran Allah Swt sebagai TuhanNya seluruh alam.
Misalnya :
n x 1 = n
n x 0 = 0
n : n =1
n x =y
( +) x ( - ) = -

Operasi dari rumus–rumus tersebut, jika diperhatikan dengan seksama, sungguh sangat bisa dipakai untuk melihat kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Awal, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Mengasihi, Tuhan Yang Maha Menyayangi, Tuhan Yang Maha Tak Terhingga

2. Ilmu Bahasa,
Dari ilmu bahasa, betapa leluasanya seorang guru akan bisa memberikan nilai-nilai ketuhanan Yang Maha Kuasa.
Berapa jumlah bahasa yang ada di negara kita saja?
Dari mana datangnya bahasa yang kita pakai sekarang ini?
Mengapa ada semacam kesamaan dari berbagai macam bahasa yang ada di dunia?
Dengan mencoba bertanya tentang beberapa hal tersebut, insya Allah kita akan bertemu dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

3. Ilmu Pengetahuan Alam,
Dari ilmu ini jelas sekali, betapa 'setiap kata' dalam ilmu pengetahuan Alam, akan mempertemukan manusia dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya,
1). tentang alam benda (padat, cair, gas)
dari mana datangnya?
kapan mulai ada?
siapa yang menciptakannya?
apa substansi dari alam benda?

2). tentang tubuh manusia
bagaimana kehebatan fungsi setiap organ manusia?
bagaimana keseimbangan yang terjadi dalam tubuh manusia?
bagaimana cara setiap sel mempertahankan tubuh dari penyakit?
bagaimana kehebatan otak manusia?
siapa penciptanya?

3). tentang alam raya, makrokosmos
berapa luasnya?
mengapa bisa teratur sedemikian rupa? padahal semua bergerak!
mengapa tidak terjadi benturan?
siapa yang mengendalikannya?

4). tentang alam kecil, mikrokosmos
seberapa kecilnya ?
seberapa rumitnya ?
siapa yang menciptakannya ?

5. Ilmu Pengetahuan Sosial,
Berapa jumlah orang yang dalam lingkungan kita?
Bagaimana mereka dapat memenuhi rezekinya masing-masing?
Siapakah yang mengatur rezeki masing-masing orang, sehingga mereka bisa bertahan untuk seterusnya?
Setiap orang mempunyai perbedaan dalam pemikiran, mengapa mereka bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing, sehingga dunia menjadi lestari karenanya
Siapa yang mengaturnya?

5. Ilmu kesehatan / berolah raga
tahukah setiap siswa berapa harga mahalnya tubuh kita?
jika tidak berolah raga tubuh menjadi lemah. Mengapa?
siapa yang ada di balik kesehatan tubuh setiap manusia?

6. PPKn, Pendidikan Kewargaan Negara
bagaimana seharusnya manusia bernegara?
mengapa ada negara?
mengapa di dunia ada berbagai macam negara?
bagaimana Tuhan mewajibkan pada setiap warga negara?

7. Kertakes
Bagaimana setiap orang bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk berbuat sesuatu?
Untuk apa seseorang diberi perasaan halus sehingga peka terhadap lingkungannya?
Sejauh mana penghargaanTuhan terhadap orangorang yang berprestasi?

Ini semua hanyalah sekedar contoh sederhana, betapa setiap bab dalam setiap ilmu pengetahuan apa pun, di sana kita akan bisa bertemu dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya saja kedalaman menganalisis setiap orang mungkin tidak sama. Maka perlu adanya semacam pelatihan pada guru-guru Sekolah Dasar oleh para pakar di bidangnya masing-masing.

Dengan adanya konsep tersebut, lebih-lebih jika hal itu bisa juga diterapkan di sekolah lanjutan sampai dengan Pendidikan Tinggi di bidangnya masing-masing, tentu luar biasa hasilnya.

Dengan terbiasanya seorang murid atau mahasiswa merenungkan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita semua berharap bahwa masyarakat kita cara berfikirnya menjadi lebih `religius' dalam menyikapi sesuatu. Sehingga diharapkan terjadi proses internalisasi ketuhanan dalam setiap warga negara. Yang akhirnya perilaku akhlak mulia pun akan mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Insya Allah...

Buruk Sangka & Tidak Sabar

Sebuah drama satu babak telah terjadi di satu rumah sederhana di pinggiran desa. Pemerannya adalah seekor kucing setia dan seorang bapak muda yang barusan ditinggal mati oleh istri tercintanya..."

Cerita ini saya sampaikan kepada anak-anak di suatu Sekolah Dasar Negeri, ketika mereka sedang melaksanakan shalat tarawih berjamaah di sekolahnya. Setelah kami semua selesai shalat tarawih berjama'ah, saya memberi ceramah sekitar sepuluh menit tentang drama tersebut.

Pada zaman dahulu kala tersebutlah sebuah kisah teladan yang terjadi pada sebuah keluarga. Tempat tinggal mereka berada di pinggiran sebuah desa. Mereka tinggal bertiga dalam sebuah rumah. Yaitu sang suami, sang istri dan seekor kucing kesayangan mereka yang sudah dipeliharanya sejak kecil.

Sudah cukup lama keluarga tersebut belum dikaruniai seorang anak. Setelah dengan berbagai upaya dan do'a, akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan mereka, maka sang istri pun mengandung.

Setelah waktunya sampai, maka sang istri pun melahirkan seorang anak bayi yang sehat dan mungil. Tetapi kebahagian itu tidak berlangsung lama, karena sang istri tercinta meninggal dunia setelah melahirkan putra yang didambakannya. Kini mereka kembali hidup bertiga. Yaitu sang ayah, sang bayi, dan sang kucing kesayangannya.

Tiga bulan berselang dari kejadian itu, suatu pagi yang cerah, sang ayah akan pergi kepasar untuk membeli bahan makanan sebagai bekal hidup mereka selama satu minggu kedepan.

Sebelum berangkat, ia memanggil kucingnya. Disuruhnya kucing setia itu untuk menjaga anaknya sementara ia pergi ke pasar. Setelah sang ayah menaruh bayinya yang berumur tiga bulan itu di dalam kamarnya, maka berangkatlah ia.

Sang ayah berulang kali mengingatkan pada kucingnya agar hati-hati dalam menjaga bayinya. Setelah keperluan belanjanya terpenuhi, sang ayah bergegas pulang. Sesampainya di muka rumah, ia membuka pintu pagar bambu yang ada di halaman rumahnya. Dan terkejutlah ia. Apa yang dilihatnya?

Ternyata kucing peliharaannya, yang disuruh menjaga bayi tersebut, sudah berada di muka pintu rumahnya. Mulutnya ternganga. Tampak giginya yang tajam berlepotan darah segar.

Sang ayah menjerit histeris. Diambilnya tongkat kayu pengunci pagar yang cukup besar, dan dipukulinya kucing tersebut dengan membabi buta. Sang kucing mengerang kesakitan. Tidak diperdulikannya. Yang terpikir di benak sang ayah adalah bahwa kucing kesayangannya telah mencabik anaknya yang baru berumur tiga bulan itu.

Maklumlah, makanan di rumah sudah habis. Kemungkinan sang kucing begitu laparnya. Sehingga untuk mengisi perutnya ia makan bayi kecil mungil itu. Demikian perasaan yang berkecamuk di hati sang ayah sambil terus ia memukuli sang kucing. Sang kucing bermandi darah, dan tidak berdaya. Kepalanya penuh dengan luka akibat pukulan sang ayah. Maka bergegaslah sang ayah masuk ke dalam rumah untuk melihat anaknya...!

Apa yang dilihatnya? Sang ayah terbelalak matanya. Ia terhenti di depan pintu kamar. Dilihatnya sang anak tercintanya masih sehat, dan masih utuh badannya. Di dekat pembaringan sederhana itu, terkulai seekor ular yang cukup besar yang lemas penuh dengan luka oleh gigitan sang kucing....

Ooh, rupanya sepeninggal sang ayah, sang kucing yang setia itu telah berkelahi mati-matian dengan seekor ular besar, yang mau menggigit sang anak. Dan rupanya sang kucing telah memenangkan perkelahian hidup mati itu...

Apa yang diperbuat sang ayah? Dia bergegas mengambil anaknya yang ada di pembaringan, lalu digendongnya dan dibawanya lari keluar menuju kepada sang kucing yang sedang meregang nyawa akibat pukulan bertubi-tubi dari sang ayah.

Sambil menggendong bayinya, orang tua ini menangis dan menjerit di hadapan kucing setianya yang sudah lemas kehabisan darah. Ia minta maaf, ia menyesal tiada tara. Ia merasa melakukan dosa yang sangat besar. Telah menganiaya kucing peliharaannya, yang sangat setia. Yang rela berkorban demi anaknya. Karena patuhnya terhadap pesan majikannya. Tetapi sesal kemudian tiada berguna...

Setelah saya mengakhiri cerita tersebut, banyak anak-anak yang mengusap air matanya....

"Ah, betapa malang nasib sang kucing, mau menunjukkan jasa dikira telah melakukan perbuatan jahat. Demikian pula, betapa menyesalnya hati sang ayah, mestinya ia mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada kucing kesayangannya, tetapi sebaliknya justru ia telah menyiksanya...."

Saya menutup cerita tersebut dengan memberikan pertanyaan kepada anak-anak. Mengapa peristiwa itu sampai terjadi? Anak-anak saya beri penjelasan, bahwa ada dua hal yang menyebabkannya.

  1. Bahwa sang ayah (sang majikan), telah berburuk sangka kepada sang kucing yang setia. Ia tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu, tetapi langsung mengambil tindakan.

  2. Bahwa sang kucing yang telah merasa berjasa besar, ia tidak sabar menunggu sang ayah sampai tiba di kamarnya. Ia langsung keluar ingin bercerita tentang jasanya.

Andaikata sang ayah tidak berburuk sangka. Andaikata sang kucing bisa bersabar hati untuk beberapa saat saja. Sungguh tidak akan terjadi tragedi memilukan itu.

QS. Al-Jatsiyah (45) : 21
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.

QS.Ath-Thur (52) : 48
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri

Cerita ini secara eksplisit adalah untuk anak-anak kita. Tetapi nilai yang terkandung di dalamnya sungguh untuk kita semuanya. Apakah kita sebagai orang tua, sebagai seorang remaja, atau sebagai pemimpin sebuah lembaga.

Tragedi itu terjadi karena 'kecerobohan' sang ayah yang berburuk sangka, dan juga 'kecerobohan' sang kucing yang tidak sabar untuk selekasnya mendapat pujian dari sang majikan.

Kalaulah kita sebagai pembaca, tidak inginkan kejadian yang memilukan hati itu terjadi di lingkungan kita, maka harus kita perhatikan kedua hal tersebut.
  1. Jika kita kebetulan sebagai seorang penguasa atau berkedudukan sebagai seorang yang punya kekuasaan, baik sebagai pemimpin di rumah tangga, pemimpin di suatu lembaga, penguasa di suatu komunitas, atau pejabat di suatu pemerintahan, maka janganlah selalu berburuk sangka kepada bawahan kita. Seperti halnya sang majikan terhadap kucingnya.
  2. Jika kita sebagai seorang bawahan, atau sebagai pihak lemah, yang berada pada sebuah organisasi atau sebuah institusi, maka selalulah bersabar atas hasil dari jerih payah yang kita kerjakan.

Rasulullah mengajarkan kepada kita semua, bahwa perilaku sabar tidak ada batasnya. Pernah suatu saat ketika rasulullah saw berdakwah di kota Thaif, beliau meyampaikan penjelasan dengan tutur kata yang sejuk dan santun, dengan hati ikhlas penuh kasih sayang. Tetapi penduduk Thaif menyambutnya dengan cemohan dan caci makian. Bahkan pada akhirnya mereka beramai-ramai melempari rasul dengan batu dan benda keras lainnya, sampai tubuh dan muka rasulullah penuh dengan luka dan berdarah.

Diceritakan oleh sebuah riwayat, bahwa malaikat penjaga bukit Uhud tidak tahan menyaksikan kekasih Allah mengalami penghinaan ini. Maka Sang Malaikat minta izin untuk menghancurkan seluruh pendudukThaif dengan jalan menimpakan bukit Uhud kepada mereka...

Tetapi apa jawab rasul tercinta? Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya yang penuh luka, dan beliau berdo'a dengan ikhlas: Ya Allah, jangan Engkau timpakan terhadap mereka suatu bencana. Ampunilah dosa dan kesalahan mereka, mereka belum tahu tentang kebenaran, mereka belum tahu bahwa aku adalah rasulMu...

Inilah sebuah kesabaran, yang begitu luar biasa tiada tara. Betapa jauhnya dengan perilaku kita sehari-hari. Sabar hanya kita pahami sebatas pengetahuan, bukan dalam pengetrapan kehidupan kita.

Satu hal lagi, pada kesempatan lain pernah rasul memberi pelajaran tentang sabar kepada para sahabatnya, kata rasulullah: kalau tidak mungkin kita mengajak para kafir Quraisy untuk masuk Islam saat ini, janganlah putus asa, do'akan agar Allah memberi hidayah pada mereka, sehingga mereka mau masuk Islam di waktu mendatang..."

Tiba-tiba seorang sahabat bertanya: ya rasulullah, jika sampai mati mereka juga tidak mau masuk Islam? Jawab rasul, do'a kan agar anak cucunya nanti masuk Islam...."

Para sahabat terperangah mendengar jawaban rasul tersebut. Inilah sebuah pelajaran tentang kesabaran yang tidak saja tak terbatas pada saat dan waktu tertentu, tapi sekaligus memberi pelajaran bahwa seorang mukmin harus selalu bersikap optimis dalam kehidupannya.

Waktu bukanlah kendala bagi seorang yang bertaqwa, Allah akan mencoba kesabaran seseorang pada tingkatannya masing-masing. Dan Allah akan memberikan pahalaNya dengan kelipatan yang tiada terhingga.

QS. An-Nahl 16 : 96
Apa yang ada di sisimu itu akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah itu akan tetap kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan pada orang-orang yang sabar itu dengan pahala yang lebih baik dan apa yang telah mereka kerjakan.

QS. Az-Zumar 39 : 10
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Berapa KM2 Luasnya Surga

Seorang kawan bermain ketika kami masih kecil bertanya: kalau kita nanti berada di surga, apakah kita bisa membangun istana yang besar? Rumah yang indah? Yang didalamnya ada kolam renangnya. dsb.

Begitulah pertanyaan anak-anak sewaktu saya masih kecil. Suatu saat saya membuka-buka kitab al-Qur'an, dan bertemu dengan ayat-ayat yang menceritakan tentang keberadaan surga, saja jadi teringat kembali pada masa-masa itu.

Surga dan Neraka, adalah dua buah tempat yang merupakan 'hadiah' dari Allah Swt. Surga itu diberikan kepada manusia atas prestasi yang telah dikerjakannya ketika mereka hidup di dunia.

Surga diberikan kepada mereka yang sukses dalam hidupnya. Sebab mereka telah berhasil menjalankan tugas kemanusiaannya sesuai dengan konsep keilahian yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Sementara Neraka ditimpakan kepada mereka yang gagal dalam menjalankan tugas sebagai manusia. Orang-orang ini tidak mau menuruti kehendak Sang Maha Pencipta. Mereka disuruh mengabdi tetapi mereka ingkar. Mereka disuruh berbakti tetapi mereka tak mau mengerjakannya. Mereka disuruh berbuat baik kepada sesama manusia, tetapi mereka justru mencelakakan saudaranya. Mereka disuruh saling mencintai, tetapi mereka saling membenci. Maka nerakalah ‘hadiah’ baginya. Yaitu tempat penyiksaan yang sangat menggiriskan akibat dari dosa-dosa yang mereka lakukan.

Sekedar untuk ilustrasi, kiranya perlu manusia untuk mengetahui. Sebenarnya seberapa indah surga yang telah dijanjikan kepada mereka yang berbuat kebajikan, dan seberapa mengerikan neraka yang akan ditimpakan kepada mereka yang ingkar.

Berapakah kira-kira luas surga? Tentu ilmu pengetahuan amat sangat terbatas untuk dapat mengukurnya. Tetapi ada ayat yang sangat menarik berkaitan dengan hal ini, yaitu Firman Allah Swt pada Surat Ali 'Imran ayat : 133 dan surat Al-Hadiid ayat : 21.

QS. Ali Imran: 133
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu, dan kepada Syurga yang luasnya SELUAS LANGIT dan BUMI, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.

QS. Al-Hadiid : 21
Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu dan syurga yang luasnya SELUAS LANGIT dan BUMI yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya

Subhaanallah, Surga itu luasnya seluas langit dan bumi? Berapakah luasnya langit dan bumi itu? Bisakah ilmu pengetahuan mengukurnya? Surga begitu luasnya, sementara penduduk bumi kita hanya lima milyar orang. Andaikata semua orang yang ada di bumi ini masuk surga, maka sungguh surga masih 'sepi' dan `kosong' dari penghuninya.

Baiklah, sekedar untuk berhitung dan yang penting adalah untuk menambah keimanan kita akan kebesaran Allah Swt, mari kita mencoba mengukurnya. Berdasarkan informasi dari Al-qur'an. Bahwa langit ini dicipta oleh Allah Swt sebanyak TUJUH lapis.

Pernyataan ini didukung paling tidak oleh delapan buah ayat al-qur'an yaitu
1. Al-Isra' : 44
2. Al-Mukminuun : 17
3. Al-Mukminuun : 86
4. Al-Mulk : 3
5. Al-Baqarah : 29
6. At-Thalaq : 12
7. Nuh : 15
8. An-Naba' : 12

QS. Al-Isra' : 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Langit diciptakan oleh Sang Pencipta sebanyak tujuh lapis, sementara untuk langit terdekat saja manusia sudah 'takluk' tidak dapat membayangkan. Maka bumi sungguh menjadi debu jika dibandingkan dengan luasnya surga. Demikian pula keindahan bumi beserta isinya, sungguh amat sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengan keindahan Surga.

Benarlah kata sebuah hadits Qudsi yang menyatakan bahwa, keindahan surga yang diberikan Allah kepada para hambaNya, belum pernah didengar telinga, belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terlintas di dalam hati....

Sekedar sebagai ilustrasi matematis, mari kita bayangkan berapa luasnya jagad raya l langit pertama itu. Garis tengah untuk langit pertama atau jagad raya ini diperkirakan sebesar 30 MilyarTahun Cahaya.

Berarti garis tengah jagad raya kita ini sepanjang : 30.000.000.000 X 360 X 24 X 60 X 60 X 300.000 km = 279.936.000.000.000.000.000.000 km. Ini bukan luasnya langit, tetapi hanya garis tengahnya saja.

Yang perlu diingat pula bahwa yang kita hitung ini masih luasnya langit terdekat saja. Belum lagi langit lapis ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam, dan yang ke tujuh. Yang kesemuanya itu jauh lebih besar dibanding langit pertama.

Lalu bisakah kita membayangkan luas surga? Bagaimana dengan keindahannya? Subhaanallah. Logika ilmu pengetahuan mungkin bakal terhenti, tinggal logika iman yang bisa mengukurnya.

Oh iya, satu lagi bahwa menurut ilmu pengetahuan, ternyata jagad raya ini tidak tetap, tetapi terus mengembang bertambah lama bertambah besar dan tentu juga bertambah luas. Menurut penelitian Stephen Hawking setiap satu milyar tahun jagad raya mengembang sekitar sepuluh sampai dengan lima belas persen.

Memang dengan ilmu pengetahuan kita tidak dapat menghitung secara matematis luasnya jagad raya ciptaan Allah, tetapi dengan ilmu pengetahuan kita bisa membayangkan bahwa betapa kecilnya diri manusia dihadapan Allah Swt. Sehingga, dengan ilmu pengetahuan kita bisa membayangkan, betapa ternyata keindahan surga tidak bisa dibayangkan."

Kita hanya bisa geleng kepala atau bahkan hanya bisa tertunduk dan bergidik giris membayangkan dahsyatnya langit pertama saja.

Surga memang luar biasa hebatnya. Luar biasa indahnya. Bahkan kita tidak bisa membayangkannya. Tetapi yang lebih menarik adalah ‘pernyatan sikap’ para sufi dan para wali Allah, yang mengatakan bahwa mereka tidak terpesona dengan surga yang tidak terbayangkan keindahannya itu. Sebab mereka lebih terpesona dan lebih cinta kepada Pencipta dan Pemilik Surga, yaitu Allah Swt.

Artinya keindahan Allah Swt, Kebesaran, dan kehebatannya, sungguh melebihi surga itu sendiri. Subhaanallah. Cuma kadang-kadang manusia 'terperangkap' dengan keindahan hadiahnya dan lupa kepada Dzat Yang Maha Pemberi hadiah.

Setelah kita berusaha menghitung luasnya 'areal' surga yang ternyata tidak bisa terhitung, mari kita mencoba menghitung kedalaman neraka. Berapa dalamnya neraka? Sekedar untuk ilustrasi, ada sebuah informasi yang menarik dari rasulullah saw, tentang kadalaman neraka. Suatu saat Abu Hurairah ra, mengatakan, ketika kami bersama rasulullah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, seperti benda yang jatuh menggelegar.
Nabi yang mulia mengatakan:
Tahukah kamu sekalian, suara apa itu? Kami menjawab: hanya Allah dan rasulNya sajalah yang lebih mengetahuinya. Nabi menjawab: itu tadi adalah suara dari sebuah batu yang dijatuhkan ke dalam jurang neraka, sejak tujuh puluh tahun yang lalu, baru sampai ke dasarnya ini tadi...
( HR. Muslim, dari Abu Hurairah )

Uih, sungguh luar biasa! Batu yang jatuh ke dalam jurang neraka lamanya sampai tujuh puluh tahun? Tentu dengan informasi kuantitaif dari rasul itu, meskipun sekedar ilustrasi, kita menjadi bisa menghitungnya. Berapakah kira-kira kedalaman jurang neraka.

Benda yang jatuh, secara ilmu fisika bisa dihitung jaraknya. Berdasarkan gravitasi yang berlaku. Jika gravitasi bumi kita ini adalah 9,8 m l detik, maka dengan mudah kita bisa menghitung jarak tempuh batu yang jatuh mengikuti rums 1/2 gt2. Jika jatuhnya ke bumi kita sbb:
Jarak tempuh batu selama 70 tahun adalah, 0,5 x [70X360X24X60X60] x [70X360X24X60X60] x 9,8 m = 23.228.686.172.160.000 m
= 23.228.686.172.160 km,
Bandingkan garis tengah bumi kita hanya: 12.756 km. Ini berarti, bahwa neraka memiliki kedalaman: 23.228.686.172.160 km /12.756 km
= 1.821.000.797.441,2 X Diameter Bumi Ini jika dipakai gravitasi 'bumi kita'.

Artinya bahwa, jika jurang neraka itu diukur berdasarkan gravitasi bumi kita, maka neraka memiliki kedalaman = 1.821.000.797.441,2 kali garis tengahnya bumi.
Atau jika kita menggali sebuah sumur, maka sumur itu akan mencapai kedalaman seperti yang kita hitung di atas. Apabila sumur itu menembus bumi berulang kali, sampai sebanyak 1.821.000.797.441,2 kali.

Dari sini saja kita sudah sulit membayangkan betapa dalamnya jurang neraka seperti yang diinformasikan oleh rasulullah saw tadi. Jadi jurang neraka itu sedalam: 1.821.000.797.441,2 kali 'tebal'nya bumi. Ah, betapa menggiriskan...!

Tetapi kedalaman itu, 'belum seberapa, sebab nanti di yaumil akhir, bumi kita ini akan diganti oleh bumi yang lain. Sehingga gravitasi yang dimaksud tentu bukan gaya gravitasi bumi kita ini. Tetapi gravitasi bumi baru, yang jauh lebih hebat dan lebih dahsyat kekuatan daya tariknya.
QS. Ibrahim 14 : 48
Ketika bumi ini diganti dengan bumi yang lain, begitu pula dengan langitnya, Mereka bermunculan dari kuburnya masing-masing menghadap kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa.
Jangankan dipakai ukuran bumi baru yang kita belum tahu gravitasinya. Andaikata dipakai ukuran gaya tariknya Black Hole 'saja, yg mempunyai perbandingan 1 : 100 Trilyun ( perbandingan ini telah dianalisis pada diskusi "Menikmati Keindahan Allah melalui logika dan tanda-tanda), maka kedalaman neraka menjadi sangat sangat menggiriskan

Secara matematis kedalaman itu menjadi : 23.228.686.172.160 km X 100.000.000.000.000 = 232.286.861.721.600.000.000.000.000 km

Nilai ini pun, belum bisa mewakili seberapa dalam neraka yang dipakai untuk menghukum manusia-manusia yang ingkar itu. Na'udzubillaahi min dzalik. Jadi berapa km dalamnya neraka?

Kita tidak tahu jawabnya, logika matematis kita tidak nyampe', kecuali hanya bisa beristighfar Astaghfirullaahal 'adziim...

Yang jelas, jika kita menggunakan konsep keseimbangan, dimana Allah memang selalu menggunakan ‘konsep seimbang' dalam mencipta makhlukNya. Maka kedalaman neraka juga seperti luasnya surga yang tidak bisa terdeteksi dengan ilmu pengetahuan. Sehingga kalau seseorang dimasukkan ke dalam neraka, jangan harap bisa bertemu dan 'beramai-ramai' dengan manusia lainnya.

Katakanlah lima milyar manusia masuk kedalam neraka, naudzubillahi mindzalik, maka setiap orang akan mengalami siksaan yang amat pedih dalam keadaan sendirian. Mengingat luasnya dan kedalamannya yang begitu tak terukur...

Jangankan manusia, bumi atau matahari, Bahkan galaksipun hanyalah sebutir debu. Maka benarlah kata rasulullah saw, andaikata dari dalam neraka yang dahsyat itu menerobos keluar apinya meskipun hanya sebesar lubang jarum saja, maka hancur binasalah bumi kita

Setelah kita membayangkan keindahan surga yang ternyata tidak bisa dibayangkan saking dahsyatnya, dan setelah kita berhitung matematis tentang kedalaman neraka, yang ternyata juga tidak bisa kita bayangkan betapa mengerikan kedalaman neraka itu,...
masihkah kita menjadi manusia yang tidak berbakti kepadaNya? Kalau belum, kapan kita akan berbakti?
kalau belum, kapan kita akan mengabdi secara total kepadaNya?
mulai kapan kita akan mohon ampunanNya? sudahkah kita siap, jika sewaktu-waktu harus menghadap kepadaNya?

Itulah serentetan pertanyaan untuk menggugah diri kita, dan sekaligus mengingatkan diri kita yang sering lupa. Sungguh menarik, pertanyaan sebuah syair, yang dibawakan oleh penyanyi kondang Crisye. “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyembah padaNya. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud padaNya...?”

Ya Allah, berilah kami kebaikan di atas dunia ini, dan berilah kami kebaikan di akhirat nanti, hindarkanlah kami dari siksaMu yang amat pedih...

54 Ribu Kali Mengikuti Pelatihan

Pelatihan sedang marak dimana-mana! Leadership, manajerial, perpajakan, statistik, akuntasi, public relation, ....dsb

Baik secara individu maupun secara institusi, pelatihan saat ini menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat luas sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Tetapi sebetulnya ada semacam pelatihan yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai bagian dari masyarakat luas. Yang dengan pelatihan tersebut insya Allah manusia akan meningkat derajatnya baik di dunia ini, maupun di akhirat nanti.

Pelatihan tentang apa? Yaitu tentang kejujuran. Sebab masalah kejujuran sekarang ini menjadi sangat langka. Semua orang kepingin jujur, tetapi ketika terbentur pada sesuatu, mereka lebih baik memilih sikap tidak jujur. Padahal semua orang mengerti bahwa tidak jujur atau dusta, atau bohong adalah salah satu dari sifat yang dibenci oleh Allah.
Kata Rasulullah saw ;
Empat macam sifat, siapa yang ada padanya keempat macam sifat itu, maka ia betul-betul munafik tolen. Siapa yang ada padanya salah satu sifat itu, ia mempunya sifat nifaq, sampai ia meninggalkannya. Keempat macam sifat itu ialah Jika berkata ia bohong atau dusta, jika berjanji ia menyalahi janji, jika akad ia cidera, dan jika berdebat ia curang.
(HR. Bukhari, Muslim)

Berkatalah yang benar, karena benar itu akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke dalam surga. Berhati-hatilah terhadap dusta, karena dusta itu menuntun kepada curang, dan curang itu akan menuntun ke dalam neraka....
(HR. Bukhari, Muslim)

Tentu yang dimaksud dengan perkataan benar tersebut adalah perkataan yang bukan dusta, yang bukan bohong. Artinya seseorang haruslah berlaku jujur. Bagaimana seseorang agar terus terpelihara kejujurannya?

Marilah kita lihat perilaku shalat kita. Shalat yang dicontohkan dan diajarkan oleh junjungan kita rasulullah saw, adalah begitu indahnya, begitu bermaknanya. Mulai dari gerakan-gerakannya, sampai dengan do'a-do'a yang diucapkan sungguh sangat sesuai.

Shalat memiliki sembilan gerakan. Terdiri dari delapan gerakan fisik dan satu gerakan metafisik. Gerakan-gerakan itu ialah :
1. Takbiratul ihram ( fisik )
2. Menundukkan kepala ( fisik )
3. Tangan bersedakap ( fisik )
4. Harmonisasi indera dan hati ( meta fisik )
5. I'tidal ( fisik )
6. Rukuk ( fisik )
7. Sujud ( fisik )
8. Duduk bersimpuh ( fisik )
9. Salam ( fisik )

Dalam gerakan yang ke empat, terjadi harmonisasi gerakan yang sangat halus dan indah. Di sini terjadi perpaduan antara panca indera dan qalbu yang menyatu membentuk perilaku khusyu'

Setelah melakukan gerakan ke satu, dua dan tiga, maka bersamaan dengan memulainya shalat, panca indra seseorang yang sedang khusyu' juga bergerak dengan halus dan lembut agar tercapai suatu keadaan yang tenang, damai dan teduh dalam audensinya dengan Allah Swt.

Dalam gerakan yang sangat lembut ini semua panca indra dan qalbu berpadu meyakini do'a yang diucapkan oleh bisikan bibir, mulai dari takbiratul ihram, do'a iftitah, bacaan umul kitab, ayat-ayat al-qur'an, sampai kepada salam di akhir shalat.

Disinilah terjadi perpaduan yang sangat harmonis dan sangat indah, yang menimbulkan kekuatan luar biasa, bagaikan manusia yang bisa bergerak laksana cahaya untuk menuju Allah. Sehingga jarak yang jauh antara seorang hamba dengan Khaliqnya bisa ditempuh dengan begitu cepatnya. Jarak yang semula dianggap jauh oleh manusia, dengan kekhusyu'an shalat, manusia bisa " bertemu" dengan Allah dengan cepat karena jarak antara seorang hamba dengan sang Khaliq menjadi begitu dekatnya.

QS. Al – Baqarah : 186
Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan seseorang bila ia memohon kepadaKu. Karena itu hendaklah ia mentaati segala perintahKu dan beriman kepadaKu, semoga la selalu dalam kebenaran.

QS. Al- Waqi'ah : 85
Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.

QS. Qaf : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.
Mari kita renungkan, manfaat apa yang dapat kita ambil dari gerakan harmoni tersebut? Tiada lain adalah tentang nilai KEJUJURAN.

Seorang yang khusyu' dalam shalatnya, ialah yang bisa memadukan gerakan bathinnya dan gerakan panca inderanya yang menyatu dan dipersembahkan hanya untuk Allah Swt.

Dan apabila dalam kehidupan sehari-hari "pelatihan kejujuran" ini diterapkan dengan sebaik-baiknya, tentulah sangat indah kehidupan seeorang. Apa yang diucapkan selalu sama dengan hatinya, apa yang dilihatnya selalu sama dengan apa yang didengarnya, sehingga dalam kehidupannya seseorang akan memegang nilai kejujuran dengan sepenuh hatinya.

Perhatikanlah gerakan–gerakan dalam shalat yang khusyu'. Ketika bibir berbisik memanjatkan do'a-do'a dalam shalat, maka :
Hati nurani mendengarkan dan sekaligus membenarkan setiap ucapannya. Bersamaan itu telinga mendengarkan dengan seksama. Pada saat itu pula mata tunduk tawadhu' takut akan siksaNya. Dan pada saat itu pula nafas bergetar halus mengikuti ritme pujian do'a yang sangat agung dan indah. Dan pada saat itu pula seluruh perasaannya tenteram, teduh dan tenang, sebuah gambaran jiwa yang muthmai'nah.

Pelajaran yang sangat berharga dari gerakan ini ialah, bahwa setiap apa yang diucapkan oleh mulut, akan dibenarkan oleh hati. Dan kemudian disaksikan oleh mata, pendengaran maupun hirupan setiap nafasnya.

Artinya, seorang muslim setiap ia melakukan shalat diajari dan dilatih oleh shalatnya untuk melakukan kejujuran. Apa saja yang disaksikan oleh mata dan telinganya pastilah akan sama dengan apa yang diucapkan bibirnya, yang sekaligus akan dibenarkan pula oleh qalbunya.

Agar lebih terasa dan lebih bermakna pelajaran tersebut, marilah kita berhitung. Misalnya, seorang muslim yang sudah berusia 40 tahun, apabila ia melakukan shalat secara rutin sejak umur 10 tahun, maka untuk shalat wajib saja dapat dihitung sebagai berikut :
Pada saat ia berusia 40 tahun, berarti ia telah melakukan shalat selama 30 tahun. Jika dihitung maka ia telah melakukan shalat wajib sebanyak,
30 X 360 hari X 5 waktu = 54.000 kali.
Artinya ketika ia sudah berumur 40 tahun, ia telah diberi pelajaran dan dilatih oleh shalatnya tentang KEJUJURAN sebanyak 54.000 kali, selama 30 tahun, subhaanallah ......

Ironisnya, banyak sekali orang yang berusia 40 tahun bahkan lebih tua lagi, ia masih bisa mengatakan putih, padahal mata dan pendengarannya menyaksikan bahwa itu sebenarnya hitam. Kadang mulut mengatakan "tidak ada", padahal pandangannya baru saja menyaksikan "ada"

Rasanya kita sudah cukup fantastis mengikuti "PELATIHAN" sebanyak 54. 000 kali dalam waktu 30 tahun,...subhaanallah..

Pembaca..., semoga dengan menyadari akan hal ini kita semua akan kembali pada fitrah kita sebagai manusia yang tawadhu' dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kata Rasulullah saw : " ...berkatalah yang benar, jika tidak bisa maka diamlah, karena ltulah yang akan lebih menyelamatkan kamu..."

ONH Rp.45 Milyar

Kita semua mengetahui bahwa ibadah yang dilakukan oleh seseorang di Masjidil Haram, Mekah, nilainya sama dengan seratus ribu kalinya ibadah yang dilakukan di tempat yang lain. Sedangkan ibadah yang dilakukan di masjid Nabawi, Madinah alMunawarah, nilainya sama dengan seribu kalinya ibadah di tempat lain.

Dengan memahami nilai ibadah yang luar biasa itu, maka saya berfikir tentu orang-orang yang mengeluarkan Ongkos Naik Haji (ONH) untuk pergi kesana itu tidak akan rugi kalau dibandingkan dengan pahala yang didapatkannya.

Karena itulah saya langsung mengambil kalkulator kecil saya, untuk mencoba mengotak-atik angka pahala itu.

Dengan mengambil 'angka' tersebut sebagai pedoman, maka dapat kita hitung sbb: beribadah terus menerus di Mekah selama 1 hari, sama dengan beribadah di Indonesia selama 100.000 X 1 hari = 100.000 hari. Beribadah di Madinah selama 1 hari, berarti sama dengan beribadah di tanah air selama : 1.000 X 1 hari = 1.000 hari.

Maka dalam waktu musim haji selama empat puluh hari di tanah suci (30 hari di Mekah, 10 hari di Madinah ), pahala yang didapat oleh para jamaah haji kalau dibandingkan dengan pahala jika ia berada di Indonesia, ia harus hidup selama : 3.010.000 hari. Atau harus bisa hidup dalam waktu : 8.361 tahun, 1 bulan, 9 hari, 14 jam

Sekarang pertanyaannya, untuk bisa hidup selama itu, berapakah biaya hidup yang harus dikeluarkannya? Sekedar untuk ilustrasi agar kita semakin ‘berkeinginan’ untuk pergi melakukan ibadah haji, kita hitung berapa besarnya biaya hidup untuk mencapai pahala tanah suci.

Misal, untuk biaya hidup di Indonesia kita ambil biaya rata-rata perhari : Rp. 15.000,-( lima betas ribu rupiah ). Dengan rincian : untuk keperluan makan pagi, makan siang dan makan malam, plus lain-lain : @ Rp.5000,- Maka untuk mendapatkan pahala seperti di tanah Haram selama 40 hari, besarnya biaya yang harus dikeluarkan, adalah :
3.010.000 hari X Rp. 15.000,- =
Rp 45.150.000.000,- ( 45,15 Milyar )

Sungguh luar biasa! Andaikata saat ini pengeluaran untuk ONH, dan lain-lain, mencapai tiga puluh juta rupiah, sungguh nilai itu amat sangat kecil jika dibandingkan dengan pahala yang akan dicapainya. Sebab seolah-olah ia mendapatkan uang sebesar empat puluh lima milyar rupiah lebih. Itu adalah nilai minimal, dengan anggapan bahwa biaya per hari sebesar lima belas ribu rupiah.

Kalaulah ada seseorang yang punya uang sebesar empat puluh lima milyar rupiah, iapun tidak akan bisa mencapai pahala seperti di tanah suci. Sebab pahala shalat tidak bisa dirangkap. Shalat subuh tidak mungkin bisa dirangkap dengan waktu subuh berikutnya. dst. Artinya seseorang harus mampu hidup selama 3.010.000 hari atau sekitar 8.361 (delapan ribu tiga ratus enampuluh satu tahun). Dan tentu hal itu mustahil dilakukannya.

Itu semua kalau ibadah haji dikaitkan dengan pahala. Padahal yang lebih besar dari ‘sekedar pahala adalah thajjan mabruura' yaitu haji yang diterima oleh Allah Swt. Karena tak ada balasan bagi haji yang diterima, kecuali surga, yang keindahannya tak pernah terbayangkan sebelumnya...

Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang shalih, sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati...
(Hadits Qudsi, Bukhan; Muslim)

Mudah-mudahan dengan mengetahuinya perhitungan sederhana tentang pahala haji tersebut, banyak di antara pembaca yang semakin rindu untuk pergi ke tanah suci....bukan sekedar karena pahalanya,...tetapi karena kerinduannya ingin `bertemu' dengan Allah Swt, Pemilik Alam Raya

Cara Allah Mengobati Stroke

Ah, saya bisa mendengar...!?Alhamdulillah, ....! Sudah lima tahun ini pendengaran saya terganggu akibat penyakit stroke yang sudah lama saya derita...., ya Allah terima kasih...!"

Demikian rintihan pak Spr kepada saya begitu saya turun dari mimbar memberi materi tentang haji. Pak Spr, adalah mantan kepala Sekolah Menengah Umum di salah satu kota di Jawa Tengah. Beliau sudah pensiun sebelum waktunya, sebab dua tahun sebelum masa pensiun terkena penyakit stroke. Kemudian oleh anaknya beliau di ajak ke Surabaya untuk menjalani pengobatan rutin.

Hari itu pengobatan yang dijalani pak Spr sudah berjalan selama lima tahun. Keadaan pak Spr sudah membaik. Tetapi pendengarannya tidak bisa normal seperti sedia kala.

Hari itu, Saya diundang oleh seorang warga untuk mengisi syukuran. Pak Spr duduk di kursi paling depan. Ia begitu antusias mendengarkan materi yang saya sampaikan. Setelah kurang lebih satu setengah jam saya berdiri untuk menyampaikan materi, saya duduk kembali di kursi depan. Saat itulah pak Spr mendatangi saya, dia menangis. Tentu saja saya menjadi bingung setengah mati

Ada apa pak ?" tanya saya. Sambil masih menangis pak Spr bercerita. Ternyata ia bukan penduduk daerah situ, tetapi ia seorang pendatang, yang sudah lima tahun ini menjalani pengobatan setelah oleh dokter dinyatakan menderita stroke.

Hari itu, saya memberi penjelasan tentang berbagai keistimewaan jamaah haji dalam pandangan Allah Swt. Suasana memang sangat tenang dan teduh. Rupanya pak Spr secara tidak sadar bisa menikmati apa yang saya sampaikan dengan begitu jelasnya. Ia lupa kalau sebenarnya sudah lima tahun tidak bisa mendengar dengan baik. Maka begitu ia bisa menikmati apa yang saya sampaikan, ia baru sadar, dan terkejut setengah mati

Ya Allah, saya bisa mendengar..?" Berulang kali ia bertanya pada dirinya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sebuah, keanehan besar telah terjadi pada diri pak Spr.

Beliau bercerita, :"mungkin yang menyebabkan saya menderita penyakit stroke seperti disamping saya memang secara fisik ada penyakit, saya telah menyalahi janji pada diri sendiri..." katanya di sela-sela isak tangisnya.

Apa janji bapak? tanya saya. Begini, saya dahulu sudah mengumpulkan uang untuk pergi ibadah haji. Tetapi setelah uang terkumpul saya tidak jadi pergi haji. Bahkan uang itu sudah habis, untuk pengobatan penyakit saya ini. Lima tahun saya menyesalinya. Saya ingin dan rindu sekali untuk bisa pergi haji. Yang membuat saya lebih tersiksa adalah pendengaran saya yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya..." pak spr masih terisak.

Saya tercengang, mendengar cerita pak Spr ini. Begitu 'khusyu'nya ia menikmati ceramah, sampai-sampai ia lupa, bahwa pendengarannya yang sedang terganggu itu, kini bisa mendengar lagi dengan begitu jelasnya. subhaanallah...,

Bulu kuduk saya berdiri. Sungguh luar biasa kejadian itu. Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, hari itu menunjukkan kebesaranNya. Sesuatu yang tidak mungkin, telah terjadi di hadapan saya. Saya sendiripun menangis tak kuasa menahan haru menyaksikan cara Allah mengobati penyakit pak Spr ini. Sungguh, Allah telah mengganti penyesalan yang selama lima tahun itu, menjadi kebahagiaan...

Ya, penyesalan itulah obatnya, dan Allah yang menyembuhkannya. Sebelum kami berpisah, lamat-lamat saya masih mendengar janji pak Spr pada dirinya sendiri dengan suara masih mengandung isak, bahwa ia akan pergi ke tanah suci...
Subhaanallah...
Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Tinggi...

Cara Allah Memberi Rizki

Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

Suatu hari yang "naas" ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- ( Empat puluh ribu rupiah ). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai "historis" tinggi.

Setelah sampai dirumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah "mengijinkan" peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi....?"

Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

Apa yang dilakukan hari-hari berlkutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara "mengijinkan" seseorang untuk mengambil dompetnya...

Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah "meminjam" 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari "naas" itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi....wallahu'alam.

Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang...