Thursday, March 1, 2007

Beragama Dengan Terpaksa, Percuma!



Maukah kita beragama dengan terpaksa? Saya kira hampir setiap orang akan mengatakan tidak mau. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak di antara kita beragama dengan terpaksa. Terpaksa oleh apa? Banyak hal yang bisa membuat kita terpaksa untuk melakukan aktivitas keagamaan kita.

Ada yang terpaksa menjalankan agama Islamnya karena keluarganya dikenal orang sebagai keluarga yang agamis. Ada juga yang terpaksa shalat karena malu pada mertuanya atau atasannya. Dan ada pula yang ‘terpaksa’ menjalankan agama sebagai taktik politik, dan untuk meraih tujuan tertentu semata. ya, sangat banyak di sekitar kita orang menjalani agama dengan terpaksa atau 'dipaksa' oleh lingkungan eksternalnya.

Namun selain itu, sebenamya ada keterpaksaan yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Keterpaksaan semacam ini biasanya disebabkan oleh ketidak mengertian kita terhadap apa yang kita lakukan. Jika kita tidak mengerti tentang makna dan manfaat shalat, misalnya, tentu kita lantas melaksanakan shalat itu dengan rasa terpaksa.

Yang sering kita temui, keterpaksaan kita dalam menjalankan ibadah karena kita diancam dengan 'dosa'. Kalau kita tidak menjalankan
perintah, kita divonis akan masuk neraka. Nah, ketakutan inilah yang menyebabkan kita terpaksa menjalani agama kita.

Sehingga yang terjadi dalam proses kehidupan beragama kita sangatlah menyedihkan. Dengan memeluk agama, kita justru merasa terbelenggu! Barangkali ada yang tidak setuju dengan pemyataan ini. Tetapi marilah kita secara jujur melihat dan bertanya ke dalam hati kita sendiri. Pernahkah kita merasa terbelenggu oleh aturan agama kita? Kalau kita mau jujur, pasti kita akan mengatakan : ya, sering!

Kapan kita merasa terbelenggu? Mungkin ketika kita sedang sibuk bekerja, lantas terdengar kumandang adzan. Banyak di antara kita, yang barangkali berpikir : “Ah, nanti saja, sekarang masih sibuk ... “ Pikiran ini, sebenamya, secara tidak langsung menyatakan bahwa shalat itu bukanlah sebuah kerinduan untuk menjalaninya. Melainkan sebuah kewajiban yang ‘membelenggu’ aktifitas dan keasyikan kita. ‘Ah, shalat ini merepotkan saja’ barangkali begitu kalau dinyatakan secara vulgar.

Bukti keterbelengguan kita oleh 'agama' juga bisa dirasakan ketika kita didatangi oleh seorang peminta-minta. Ketika kita sedang asyik menikmati radio di dalam mobil, tiba-tiba ada gelandangan yang meminta uang di perempatan lampu merah. Sebenarnya Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menolongnya, tetapi barangkali yang terbetik dalam pikiran kita saat itu adalah : ‘Ah, gelandangan ini mengganggu saja’

Nah, kalau kita perluas, contoh-contoh keterpaksaan itu demikian banyak dalam keseharian kita. Mulai dari menjalankan ibadah shalat, puasa, zakat, haji, sampai kepada berbagai perbuatan amar makruf nahi munkar, serta tolong menolong dalam kehidupan. Dengan kata lain, perintah agama ini terasa membelenggu ‘keasyikan dan kenikmatan’ kehidupan kita. Lantas muncul kesimpulan bahwa agama adalah belenggu?! Lho, benarkah demikian? Tentu tidak demikian. Tetapi, kalau tidak benar, dimanakah letak kesalahan berpikir kita?

Semestinya, logika umum kita mengatakan bahwa beragama ini dimaksudkan untuk mencari kenikmatan hidup. Bukan untuk mencari persoalan hidup. Apalagi merasa terbelenggu,dan sempit kehidupannya. Kalau kita merasa agama ini sebagai belenggu, maka pasti ada yang salah dengan pemikiran dan proses beragama kita. Allah sendiri mengajarkan kepada kita untuk berdoa mohon kenikmatan, misalnya dalam surat berikut ini .
QS. Al Fatihah : 6-7
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri kenikmatan, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan jalannya orang-orang yang tersesat”

Jadi bisa kita simpulkan, agama Islam ini justru adalah sebuah jalan yang memberikan 'pembebasan' kepada kita dari berbagai belenggu dunia. Sehingga, ujung-ujungnya kita. akan memperoleh kenikmatan di sepanjang hidup kita. Bukan hanya nanti pada akhir kehidupan kita, tetapi sekarang pun dan sepanjang kita. menjalani agama ini.

Bagaimana caranya agar kita tidak merasa terbelenggu oleh Islam, tetapi justru memperoleh kenikmatan dalam beragama? Kuncinya hanya satu, yaitu jalanilah agama ini dengan keikhlasan. Bukan dengan keterpaksaan. Kalau kita menjalani agama ini dengan terpaksa, maka segala aktivitas kita itu akan sia-sia saja. Percuma! Persoalannya, keikhlasan itu kan tidak bisa dipaksa-paksakan. Karena itu, kita harus memahami secara benar tujuan kita melakukan ibadah tersebut.

Rasulullah sendiri mengatakan : betapa banyaknya orang yang menjalani puasa, tidak memperoleh makna puasanya, kecuali banyak mendapat lapar dan dahaga. Kenapa bisa demikian? Ya, karena kita tidak mengerti apa maksud kita melakukan puasa itu. Dikiranya, puasa itu hanya sekadar 'kewajiban' untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seksual, dan menahan segala yang membatalkan puasa. Tidak! Kalau hanya itu yang kita pahami, maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah tentang tidak bermanfaatnya puasa tersebut bagi kita.

Sesungguhnya, kita harus memahami makna puasa itu sendiri. Bahwa puasa adalah sebuah proses untuk mencapai jiwa yang terkendali, alias takwa. Maka, seharusnya puasa kita hayati sebagai sebuah latihan yang sungguh-sungguh dengan target-target yang jelas. Bukan sekadar menggelinding apa adanya, karena orang orang di sekitar kita juga berpuasa.

Kalau kita sudah memiliki pemahaman yang benar, maka puasa kita. Insya Allah tidak terpaksa lagi. Bukan sekadar agar tidak berdosa, atau sekadar menggugurkan kewajiban. Tetapi betul-betul kita lakukan dengan keikhlasan dan kecintaan yang tulus untuk memperoleh kualitas ketakwaan yang tinggi, yang disebut sebagai takwa yang sungguh sungguh ittaqullaaha haqqatuqaatihii ... ).

Contoh ini bisa kita perluas kepada aktivitas-aktivitas peribadatan yang lain seperti shalat, zakat, haji, dan lain sebagainya. Kalau kita amati orang shalat misalnya, barangkali sinyalemen Rasulullah tentang sia-sianya kita beribadah itu, bisa jadi juga berlaku. Kalau diucapkan barangkali menjadi demikian : “Betapa banyaknya orang shalat yang tidak inemperoleh makna shalat, kecuali hanya olahraga saja.”
Ya, barangkali kita juga bisa bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah memahami tujuan kita melakukan shalat? Jangan jangan kita masih berpikiran bahwa shalat kita itu hanya sekadar memenuhi kewajiban dari Allah saja. Seakan-akan Allah butuh untuk kita sembah. Sama sekali tidak!

Biar kita tidak shalat. Biar kita tidak puasa, tidak berhaji, tidak berzakat dan tidak mengamalkan seluruh ibadah yang 'dianjurkan' Allah, Dia sama sekali tidak terganggu KemuliaanNya dan KebesaranNya. Sebagaimana Allah mengatakan dalam kitabNya.
QS. Ibrahim (14) : 8
“Dan Musa berkata : jika kamu dan orang-orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (Allah) maka sesungguhnva Allah Maha Kaya Jagi Maha Terpuji

Allah tidak punya ‘kepentingan’ terhadap ibadah kita yang punya kepentingan adalah diri kita sendiri Allah hanya ‘menganjurkan’ kepada kita untuk menjalankan ibadah, karena itu baik buat kita. Kalau kita tidak menjalankannya Allah sama sekali tidak dirugikan. Tetapi justru kita sendirilah yang akan rugi. Kenapa demikian? Karena, sesungguhnya seting kehidupan ini telah dibuat dengan aturan main tertentu. Agar lebih jelas, saya berikan gambaran.

Kehidupan manusia dan agama ini bisa diumpamakan seperti antara sebuah mobil dan buku manualnya. Manusia diumpamakan mobil, agama diumpamakan buku petunjuk (buku manual).

Jika kita membeli mobil, maka kita selalu memperoleh buku petunjuk tentang bagaimana kita harus mengoperasikan dan merawatnya. Misalnya, kapan kita harus mengganti oli kapan harus mengganti timing belt, bagaimana mengganti filter BBM, bahkan sampai bagaimana kita harus mengoperasikan dan mengendarai mobil kita. Kalau kita tidak benar dalam melakukan tata cara tersebut, maka dijamin mobil kita akan rusak lebih cepat dari yang seharusnya!

Manusia juga demikian adanya. Al Quran adalah buku manual kehidupan manusia. Di dalam Al Quran kemudian diperjelas dengan Hadits Allah mengajarkan bagaimana caranya kita menjalani kehidupan ini. Kenapa demikian? Karena ternyata, banyak manusia hidup yang tidak tahu bagaimana caranya 'hidup'. Mereka 'awur-wuran' dalam menjalani hidup, sehingga porak porandalah kehidupan mereka.

Allah sama sekali tidak dirugikan oleh kebodohan dan kebengalan kita. Tetapi karena Allah sangat menyayangi kita, maka Allah mengingatkan dan memberi tahu agar kita tidak terperosok ke dalam persoalan-pesoalan yang membuat kita menderita hidup di dunia, dan kemudian juga di Akhirat. Dengan kata lain, jika ingin hidup selamat di dunia dan di akhirat, ikutilah petunjuk Allah yang diajarkan lewat Rasulullah Muhammad saw.

Kenapa kita harus percaya kepada petunjuk agama? Pertanyaan tersebut saya balik : kenapa kita harus percaya kepada buku manual yang disertakan ketika kita beli mobil ? Tentu Anda akan menjawab.: ya, karena pabrik itulah pembuatnya, tentu dia lebih tahu bagaimana seharusnya kita merawat mobil tersebut. Nah, jawabannya sama persis : ya, kita sepantasnya percaya kepada Al Quran dan Hadits, karena Allahlah yang menciptakan kita, maka Dia sangat memahami bagaimana seharusnya kita ini menjalani hidup.

Empat Tingkatan Kualitas Beragama



Bagaimana cara memperoleh keikhlasan? Karena, seperti kita. ketahui, bahwa keikhlasan tidak bisa dipaksa-paksakan. Memang keikhlasan harus diperoleh dengan cara yang benar. Ada beberapa tingkatan atau fase untuk memperoleh keikhlasan. Yang pertama, adalah kornitmen. Yang kedua, memperoleh keyakinan lewat pembelajaran keilmuan. Yang ketiga, mesti diamalkan dan dilatih. Barulah, kemudian kita akan memperoleh keikhlasan yang mantap dalam menjalankan agama kita.

Dalam firman di bawah ini Allah menginformasikan tingkatan tingkatan dalam menjalani agama. Yaitu, tingkatan Iman, naik menjadi tingkatan Takwa dan akhirnya mencapai tingkatan tertinggi, yaitu Islam. Sebenarnya ada tingkatan yang paling dasar yang tidak disebutkan dalam firman itu, yaitu Islam komitmen. Adalah orang yang sudah berkomitmen untuk memeluk agama islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Tingkatan kedua barulah ‘Iman’ atau ‘Yakin’ Tingkatan ketiga Takwa, alias ‘amalan’ Dan tingkatan keempat adalah Islam atau keikhlasan dan kepasrahan.

QS. Ali Imran (3): 102
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian dengan sebenar benarnya takwa, dan jangan mati kecuali dalam keadaan Islam”

Apakah yang dimaksud dengan Islam komitmen? Seseorang yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat bisa dikatakan bahwa dia sudah Islam. Tetapi baru Islam komitmen. Artinya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kepada manusia di seluruh dunia, dan juga kepada Allah, bahwa dia akan menjalani seluruh ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Bahwa dia hanya akan berTuhan kepada Allah dan berguru kepada nabi Muhammad saw saja. Tidak kepada yang lainnya. Tetapi dia belum menjalani proses peribadatan yang diajarkan dalam Islam.

Tentu berIslam secara demikian ini tidaklah cukup. Dan bukan menjadi tujuan Rasulullah mengajarkan Islam. Tujuan utama kita beragama Islam adalah untuk menundukkan hawa nafsu kita, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah, bahwa ‘belum Islam seseorang sampai dia bisa menundukkan hawa nafsunya’. Karena itu, seseorang yang sudah melakukan komitmen ini harus mengikutinya dengan tingkatan berikutnya.

Tingkatan yang kedua adalah Iman. Pada tingkat yang kedua ini, dia harus mempelajari seluruh ajaran islam secara mendetil. Mulai dari tatacara peribadatannya sampai pada makna ibadah itu sendiri. Dia harus tahu bagaimana cara shalat yang betul, puasa yang baik, dzikir yang bermanfaat, sarnpai melaksanakan ibadah haji. Tetapi tidak hanya berhenti di situ, dia juga harus memahami apa tujuan dari berbagai aktivitas ibadah itu. Jangan sampai ada seorang Islam yang tidak paham tentang apa yang dia lakukan. Allah telah mengingatkan kita dalam ayat berikut ini. QS. Israa(17): 36
“Dan janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kalian tidak memiliki i1munya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Jadi, dalam menjalankan agama ini kita memang harus benar benar memahaminya. Tidak boleh ikutt-ikutan. Pada zaman nabi Muhammad kita bisa menyandarkan pemahaman kita kepada beliau. Kita contoh dan ikuti saja beliau, sudah pasti benar. Tetapi di jaman kita kini, siapakah yang bisa kita percaya sepenuhnya bahwa apa yang diajarkan oleh seseorang itu adalah benar 100 persen? Meskipun dia orang tua kita, meskipun juga dia adalah guru kita.

Bukannya kita su'udlon, tetapi memang demikianlah seharusnya sikap kita agar pemahaman terhadap Islam ini tidak mutlak-mutlakan. Melainkan dinamis sesuai dengan fakta dan akal sehat kita semua. Tentu, ada kaidah-kaidah yang harus dikuti, tetapi semua itu memiliki kebenaran relatif karena keterbatasan manusia.

Apakah tujuan utama dari tingkatan kedua iman ini? Utamanya adalah untuk memperoleh ‘keteguhan keyakinan’. Diharapkan, orang yang telah lulus dari fase ini akan menjadi orang yang sangat yakin terhadap ajaran islam, karena ia telah betul-betul memahami tentang Islam secara detil dan menyeluruh.

Memang di dalam proses mencapai keyakinan itu ada tingkatannya juga, yaitu : ‘ilmul yaqin, ainul yaqin, dan Haqqul yaqin. Ilmul yaqin adalah keyakinan yang diperoleh seseorang berdasarkan informasi dari orang lain, sebutlah dari seorang guru. Misalnya, kita diajari oleh guru kita bahwa Allah itu Maha Besar. Kita percaya kepada guru kita itu, bahwa Allah memang Maha Besar. Kita melakukan diskusi panjang dengan sang guru untuk meyakinkan pemikiran kita lewat logika dan proses keilmuan yang berlaku. Jika akhirnya kita percaya dan yakin dengan informasi itu, maka kita telah memperoleh keyakinan secara keilmuan, atau disebut sebagai ilmul yaqin.

Selanjutnya adalah Ainul yaqin. Pada tingkatan ini keyakinan yang kita peroleh bukan lagi sekadar mendengar dari orang lain, atau diyakinkan oleh orang lain. Melainkan kita meyakininya karena kita sudah 'melihat' sendiri. 'Melihat' dalam hal ini tidak selalu dengan mata kepala tetapi juga dengan 'mata batin' dan pikiran kita.

Bedanya dengan keyakinan tingkat pertama adalah, kalau 'ilmul yaqin, keyakinan kita itu lebih didasarkan pada kajian-kajian semata. Namun, pada tingkatan ainul yaqin kita sudah mengalaminya sendiri, meskipun belum sepenuhnya berinteraksi. Sedangkan pada tingkatan Haqqul yaqin, keyakinan kita benar-benar sudah sangat mantap. Tidak mungkin lagi tergoyahkan, karena kita sudah ‘berinteraksi’ sendiri dengan hal yang kita yakini tersebut.

Katakanlah, kita yakin atau iman kepada eksistensi Allah. Untuk bisa meyakini bahwa Allah itu ada dengan segala sifat KebesaranNya, maka kita tidak bisa mendapatkan dengan tiba-tiba. Ada sebuah proses mulai dari berusaha mencari informasi tentang Allah itu siapa, kemudian kita kaji sehingga kita memperoleh kesimpulan yang kuat bahwa Allah itu memang eksis, sampai kemudian kita berusaha untuk berinteraksi denganNya lewat dzikir-dzikir, lewat shalat, lewat puasa, lewat berhaji, lewat zakat, dan lewat berbagai aktivitas keseharian kita yang meng Esakan Allah.

Disitulah kita lantas akan bertemu dengan Allah. Mungkin butuh waktu sepuluh tahun. Mungkin juga 25 tahun. Atau bahkan sepanjang kehidupan kita. Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim, dan para nabi lainnya.

Ketiga tingkatan keyakinan itu tergabung dalam fase lman. Sebuah fase kedua setelah Islam komitmen. Maka, tingkatan berikutnya adalah Takwa. Apakah esensi dari Takwa? Jika esensi iman adalah proses keilmuan untuk mendapatkan keyakinan, maka Takwa adalah proses amalan atau membiasakan diri dengan perbuatan perbuatan baik, dan mensucikan diri kita dengan cara menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Tujuan utamanya adalah untuk memperoleh kemampuan mengontrol atau mengendalikan diri sendiri.

Jadi kalau ditelusuri : Komitmen kita dalam beragama ini diperlukan untuk memberikan motivasi dalam mempelajari Islam sampai kita memperoleh keyakinan atau Iman tentang yang kita pelajari. Keyakinan tersebut akan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengamalkan dan membiasakan diri dalam proses Takwa, yang menghasilkan karakter dan sebuah kekuatan besar di alam Bawah Sadar kita.

Lantas, apakah hasil akhir dari ketiga proses itu ? Kalau seseorang sudah mencapai tingkatan Takwa, maka seluruh aktivitas kehidupannya dan gerak gerik hatinya selalu terkontrol dengan baik. Dan lebih dari itu, secara otomatis ia telah mengikuti tatacara kehidupan yang diajarkan oleh Allah lewat rasulNya.

Tidak ada lagi keterpaksaan dalam menjalankan agama Islam. Ia sangat memahami tentang visi dan misi serta manfaat agama ini bagi kehidupan manusia secara kolektif maupun perseorangan. Sikapnya menjadi tawadlu', rendah hati, sumeleh, rendah egonya, mendahulukan kepentingan umum, serta penuh kasih sayang kepada sesama dan alam sekitamya. Inilah tingkatan tertinggi di dalam agama Islam. Dan ini pula yang dikatakan Allah kepada Rasulullah dalam firman berikut ini.

QS Al Anbiyaa' (21) : 107
“Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menebarkan rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam.”

Ibrahim: Rasul Kesayangan Allah



Nabi Ibrahim adalah salah satu rasul Allah yang paling banyak disebut dan dipuji-puji Allah di dalam Al Quran. Tak kurang 121 kali nama beliau disebut di dalam kitab suci itu. Ini menunjukkan betapa Allah memberikan penghargaan yang besar kepada beliau. Semakin banyak suatu hal disebut di dalam Quran, maka berarti semakin besar pula Allah memberikan perhatian kepada hal tersebut.

Bukan hanya itu, bahkan salah satu rukun Islam ibadah haji adalah sebuah prosesi untuk napak tilas berbagai aktivitas nabi Ibrahim dan keluarganya. Sebuah penghargaan yang luar biasa dari Allah kepada nabi Ibrahim. Demikian pula, dalam setiap shalatnya, umat Islam di seluruh dunia mendoakan nabi Ibrahim dan keluarganya sebagaimana juga mendoakan nabi Muhammad dan keluarganya.

“Allahumma shalli'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kamaa shallaita 'ala ibraabim wa 'ala ali ibraahim wa baarik 'ala muhammad wa 'ala ali Muhammad kamaa baarakta 'ala ibraahim wa 'ala ali ibraabim fil 'alaamina inaaka hamiidum majid.
Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan kepada nabi Ibrahim dan keluarganya. Juga limpahkanlah barokah kepada nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan kepada nabi Ibrahim dan keluarganya, dalam keseluruhannya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Jagi Maha Pemurah”

Nabi Ibrahim juga dikenal sebagai bapaknya para nabi, karena dari nasab beliaulah lahir nabi-nabi besar di kemudian hari. Di antaranya adalah nabi Ismail, nabi Ishak, nabi ya'qub, nabi Isa, dan nabi Muhammad saw, yang dianut oleh miliaran manusia di muka bumi, hingga kini.
QS yusuf (12) : 38
“Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (Para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya).

QS Al Hadiid : 26
“Dan sesungguhnya Kami, telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik.

Agama Ibrahim yang Lurus



Nabi Ibrahim memperoleh keyakinan agamanya bukan dari warisan orang tuanya. Melainkan dari sebuah proses pencarian yang sangat panjang dan mendalam. Sepanjang usianya. Sejak beliau kecil hingga tutup usia. Allah membeberkan cerita Ibrahim itu secara ringkas di dalam berbagai surat. Salah satunya adalah berikut ini.
QS. Al An'aam (6) : 75.
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda Keagungan Kami di langit dan bumi, dan agar Ibrabim itu termasuk orang yang yakin.”

Firman tersebut menggambarkan kepada kita bahwa Ibrahim memperoleh keyakinannya tentang Allah itu setelah melakukan proses 'diskusi' panjang terhadap alam sekitamya. Allah memperlihatkan Keagungan ilmuNya di alam semesta kepada Ibrahim, sehingga beliau. akhimya memperoleh keyakinan yang sangat teguh bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Perkasa di balik semua eksistensi ini.

Namun proses untuk mencapai tataran itu tidaklah berlangsung singkat dan mulus. Beliau sempat trial and error (mencoba-coba dan salah) dalam melakukan pencarian itu. Informasi pertamanya, justru datang dari orang-orang musyrik pada waktu itu, yaitu bahwa patung patung bikinan bapaknya itu adalah Tuhan yang harus disembah.

Tetapi akal sehatnya menolak informasi tersebut. la tidak yakin dengan pendapat masyarakat umum yang ada pada waktu itu. Lantas beliau melakukan pencarian selama bertahun-tahun terhadap 'Sesuatu' yang layak disembah sebagai Tuhan.

Terlihat sekali dari kisah itu bahwa Ibrahim sempat salah dan beberapa kali keliru dalam mencari Tuhan. Namun itu tidak apa-apa. Sekali waktu ia menganggap Bintang adalah Tuhan, tetapi tidak memuaskannya karena Bintang bisa menghilang. Di waktu lain, Bulan dikira sebagai Tuhan, tapi juga tidak memuaskan, dan kemudian ia pun menganggap Matahari sebagai Tuhan, toh tidak memuaskannya juga.

Sampai akhimya ia mendapatkan suatu kesimpulan yang sangat ia yakini bahwa segala yang terlihat itu tidak layak disebut Tuhan, karena memiliki berbagai keterbatasannya. Hanya ada satu Dzat Tunggal yang ia yakini sebagai Tuhan. Dialah Dzat yang Sangat Perkasa, yang Menghidupkan dan Mematikan, yang Menciptakan dan Memusnahkan, yang Berkuasa dan Memelihara seluruh Alam Semesta. Dialah Allah Azza Wajalla.

Demikian panjang dan mendalam proses pencarian Tuhan itu, sehingga keyakinan yang diperoleh nabi Ibrahim bukanlah sekedar di kulitnya saja. Melainkan keyakinan yang berakar sangat dalam menghunjam jiwanya. Keyakinan seperti ini tidak mudah goyah, bahkan tidak akan pernah goyah lagi.

Berbeda dengan orang yang mempercayai Tuhan hanya karena, “kata orang” atau ikut-ikutan belaka. Mereka pada hakekatnya tidak pernah yakin bahwa Allah hadir dalam hidupnya. Mereka juga tidak pernah benar-benar yakin bahwa Allah selalu bersamanya, dan sewaktu waktu bisa menolongnya ketika dalam kesulitan. Mungkin, mereka juga tidak benar-benar yakin bahwa kesehatan, kekayaan, anak, istri, jabatan, dan berbagai bentuk kesenangan duniawi itu semua berasal dari Allah. Bahkan, barangkali mereka juga merasa ragu, apakah benar kehidupan akhirat itu benar-benar ada, sehingga perlu beribadah kepada Allah ...

Nabi Ibrahim telah memperoleh keyakinan yang luar biasa sebagai hasil dari pencariannya. Maka, Ibrahim telah melakukan mekanisme pencarian seperti yang digambarkan Allah bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, karena sesungguhnya sudah jelas antara yang baik dan yang buruk itu (QS. Al Baqarah 256). Antara yang benar dan yang salah itu. Bagaimana cara membedakannya? Gunakanlah akal kita, seperti Ibrahim juga telah menggunakan akal untuk mencari Tuhannya. Allah juga telah menegaskan, berikut ini.
QS. yunus (10) : 100
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Lebih jauh, bacalah ayat-ayat QS. Al An'aam:74-83. Di ayat yang ke 79, misalnya, Ibrahim menegaskan kesimpulannya bahwa dia sangat meyakini bahwa Allah adalah Dzat Sang Pencipta Alam semesta ini. Ibrahim sama sekali tidak akan mendua atau mempersekutukan Allah dengan yang lain. Apalagi, sekedar patung-patung berhala yang sangat tidak rasional untuk disembah. Dan inilah yang selalu kita baca dalam shalat kita sehari hari.
QS Al An'aam (6) : 79
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan kecenderungan kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Kalau keyakinan sudah sedemikian berakar, maka tak ada sesuatu pun yang bisa menggoyahkannya lagi. Bahkan di ayat berikutnya, ia mengatakan, tidak memiliki rasa takut sedikit pun kepada selain Allah. Ia telah memperoleh pelajaran inti agama islam, yaitu: totalitas keikhlasan dalam menjalankan agama ini, apa pun yang terjadi. Tetapi yang perlu dicatat sekali lagi, beliau memperoleh semua itu dari proses pencarian yang sangat panjang sehingga menghasilkan keyakinan yang sangat teguh.

Dan konsekuen dengan kondisi di atas, di ayat berikutnya, Allah memberikan jaminan kepada siapa pun yang telah mengikhlaskan kehidupannya kepada Allah, maka mereka akan memperoleh jaminan perlindungan dan petunjuk, serta derajat kehidupan yang lebih tinggi dari Allah, di dunia dan di akhirat.

Selain itu, inti pelajaran agama Ibrahim yang lurus itu juga disebutkan Allah di dalam. Al Quran surat An Nisaa' (4) : 125,
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, dan dia selalu berbuat kebaikan, serta mengikuti agama Ibrabim yang lurus. Dan Allah menjadikan Ibrabim sebagai kesayangannya.

Sungguh sangat eksplisit Allah menggambarkan kepasrahan nabi Ibrahim. Tidak ada yang lebih baik, kata Allah, kecuali mengikuti ‘cara cara’ nabi Ibrahim dalam menjalani agama. Cara-cara nabi Ibrahim dalam menjalani agama itulah yang ingin ditularkan Allah kepada kita semua, termasuk yang dianjurkan Allah kepada nabi Muhammad untuk diteruskan kepada kita semua, yaitu:

1 . Lakukan ‘pencarian’ dalam beragama. Jangan hanya ikut-ikutan saja, karena tanggung jawab beragama itu bersifat perorangan. Tidak bisa ditumpukan kepada orang lain. Meskipun, kepada orang tua, anak, saudara, bahkan guru sekalipun.

QS. Al Israa' : 36
“Dan janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kalian tidak memiliki ilmunya. Karena pendengaran, penglibatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban”

2. Dapatkan keyakinan yang bersifat empiris lewat bukti-bukti yang ada di sekitar kita. Jangan hanya bersifat teori. Agama adalah amaliah. Amaliah butuh ilmu. Ilmu terus berkembang. Karena itu jangan merasa puas dengan ilmu yang telah dicapai saat ini. Pemahaman agama akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dan bukti-bukti ilmu pengetahuan, sebagaimana dilakukan para Rasulullah.

QS. Shaad : 45
“Dan ingatlah kepada hamba-hamba Kami, yaitu Ibrabim, Ishaq, dan yakub yang memiliki karya-karya besar dan ilmu pengetahuan yang jauh ke depan.

3. Keyakinan yang berakar sangat kuat akan menghasilkan keikhlasan dalam mengamalkan agama, sebagai puncak dari seluruh pelajaran agama Islam. Dengan keikhlasan dan keyakinan yang sangat kuat itulah nabi Ibrahim lulus dari berbagai ujian Allah, termasuk ketika diperintahkan untuk mengorbankan anaknya nabi Ismail.

QS. A] An'aam : 79
"Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada Tuban, Sang Pencipta Langit dan Bumi selurus lurusnya, dan aku bukan termasuk orang orang yang mempersekutukanNva

4. Pada akhimya, dengan kualitas keagamaan yang demikian itu Ibrahim menjadi nabi kesayangan Allah seperti disebut dalam QS. An Nisaa' : 125.
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, dan dia selalu berbuat kebaikan, serta mengikuti agama Ibrabim yang lurus. Dan Allah menjadikan Ibrabim sebagai kesayangannya.

Meninggalkan Karya Besar



Orang besar meninggalkan karya-karya besar. Orang baik meninggalkan manfaat yang baik pula bagi generasi-generasi berikutnya. Ibrahim adalah orang besar dan baik yang banyak meninggalkan karya besar dalam hidupnya. Dan kemudian ditinggalkannya untuk generasi Islam hingga kini. Usianya sudah ribuan tahun. Dari keturunan beliau juga lahir tokoh-tokoh besar dan para nabi. Di antaranya adalah nabi Ismail, Ishak, Isa dan Muhammad. Karena itu, nabi Ibrahim juga disebut sebagai bapaknya Para Nabi.

Apa sajakah yang menjadi ‘karya’ beliau, dan kemudian. menjadi peninggalan yang bermanfaat sampai kini? Di antaranya adalah Ka'bah, sumur Zam-Zam dan berbagai prosesi peribadatan haji. Peninggalan beliau itu kini menjadi pusat bagi aktivitas muslim di seluruh dunia. Setiap tahun jutaan orang datang ke tanah suci untuk napak tilas kehidupan keluarga nabi Ibrahim.

QS Al Maidah : 97
“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumab suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.”

QS Ash Shaffaat (37) : 108

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”

Dan kita juga teringat kepada doa nabi Ibrahim,

QS Al Baqarah (2) : 126
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku jadikanlah negeri (Mekkah) ini negeri yang aman sentausa dan berikanlah rezeki buah buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian....”

Kedua ayat tersebut memberikan gambaran kepada kita betapa Ibrahim telah mewariskan ‘karya-karya’ yang sangat dahsyat yang kemudian menjadi pusat peribadatan muslim di seluruh dunia.

Bahkan, selama. ribuan tahun kota Mekkah telah menjadi negeri yang makmur. Betapa tidak. Coba bayangkan, berapa besar devisa yang diterima oleh negara Arab Saudi, setiap tahunnya, akibat jutaan orang menunaikan ibadah haji. Sebuah warisan yang luar biasa dahsyatnya ...

Ka'bah dan Sumur Zam-zam



Ka'bah adalah ‘rumah tua’ yang sudah berusia ribuan tahun. Ada yang mengatakan bahwa rumah suci itu untuk pertama kalinya dibangun oleh nabi Adam. Tetapi memang tidak ditemukan catatan sejarah yang otentik tentang dibangunnya Ka'bah oleh nabi Adam. Cerita tentang siapa yang membangun Ka'bah secara otentik dijelaskan sendiri oleh Allah di dalam Al Quran, bahwa yang membangunnya adalah nabi Ibrahim bersama putranya, nabi Ismail.
QS Al Baqarah (2) : 127
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa) : Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami) sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

QS Ali 'Imran (3) : 96
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (untuk beribadah) bagi manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkati dan merjadi petunjuk bagi sekalian alam”

QS. Al Hajj (22) : 29
Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)

Pada waktu membangun Ka'bah itu, usia nabi Ibrahim diperkirakan sekitar 100 tahun. Setelah memperoleh perintah dari Allah, maka Ibrahim datang ke (cikal bakal) kota Mekkah, di mana Ibrahim pemah meninggalkan Siti Hajar dan Ismail sewaktu bayi. Mekkah pada waktu itu telah menjadi kota yang cukup ramai, dan menjadi tempat persinggahan para kafilah dan pedagang, karena di dekatnya ada sumur Zam-zam.

Inilah menurut Quran rumah ibadah yang tertua. Hal ini ditegaskan oleh Allah, karena para ahli kitab pada waktu itu mengatakan bahwa rumah ibadah yang tertua adalah Baitul Maqdis di Palestina. Namun Allah menotak dengan tegas, sebagaimana difimankan dalam QS Ali Imran : 96 di atas.

Kalau kita membaca QS Al Baqarah 127, kita mendapat kesan bahwa dasar-dasar Baitullah itu sudah ada. Ibrahim dan Ismail tinggal meninggikannya saja. Bahkan, banyak penafsir yang menyimpulkan bahwa nabi Ibrahim memang telah mendapat perintah yang detil tentang pembangunan Ka'bah itu. Sehingga bentuk dan lokasi baitullah itu memang telah menjadi pilihan Allah. Dikisahkan juga bahwa lokasi sumur Zam-zam maupun baitullah itu ditunjukkan oleh malaikat Jibril atas perintah Allah.

Bagaimanakah spesifikasi Baitullah yang dibangun oleh nabi Ibrahim tersebut? Dalam Holy Quran dijelaskan bahwa Ka'bah yang mula-mula dibangun itu memiliki tinggi 9 hasta. Panjang dari Hajar Aswad sampai Rukun Syami 32 hasta. Lebarnya, dari Rukun Syami sampai Rukun Gharbi 22 hasta. Panjang dari Rukun Gharbi sampai Rukun yamani 31 hasta. Lebarnya dari Rukun Yamani sampai Hajar Aswad 20 hasta.

Jadi bentuknya tidak simetris. Kekuatan pilarnya ada pada kedua sudut Yamani. Sedangkan di bagian Hajar Aswad tidak terdapat pilar. Batu hitam tersebut dijadikan satu dengan dinding dalam bentuk setengah lingkaran sebagaimana bisa dilihat sekarang di sana. Sedangkan pintunya, waktu itu hanya berupa kerangka saja sejajar tanah, yang kemudian disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Ka'bah dengan ketinggian 9 hasta yang didirikan oleh Ibrahim itu kini telah memiliki ketinggian 3 kalinya, yaitu sekitar 27 hasta. Pada waktu itu, Ibrahim meletakkan ketinggian itu pada pondasi setinggi 6 hasta.

Ketika suku bangsa Quraish merenovasi Ka'bah, mereka memindahkan dinding sebelah utara Ka'bah sejauh 5 hasta ke arah selatan, dan menambahkannya ke Hijr Ismail. Dan ketika Abdullah bin Al Zubair merenovasinya kembali dia mengembalikan posisi bangunan itu seperti ketika jaman nabi Ibrahim. Dia juga menambahkan luasan Hijr Ismail ke Ka'bah. Akhirnya, Al Hajjaj bin Yusuf melakukan renovasi terhadap Hijr Ismail seperti bentuk yang sekarang kita lihat.

Secara ringkas tetapi mendetil, sejarah pembangunan Ka'bah sebagaimana tercantum, dalam al-islam.com.
Saya hanya ingin memberikan gambaran intinya saja, bahwa Ka'bah memang telah mengalami pembangunan dan renovasi berulangkali selama ribuan tahun, sejak dibangun oleh nabi Ibrahim a.s. bersama nabi Ismail a.s. Namun, ada beberapa hal yang tetap eksis seperti semula, yaitu letak pondasi dan posisi Hajar Aswad.

Sehingga Ka'bah sebagai pusat sistem energi, sejak ribuan tahun yang lalu hingga kini tetaplah sama, seperti saya jelaskan di bagian lain, tentang energi orang thawaf dan energi orang shalat. Kedua peribadatan itu mengambil Ka'bah dan hajar aswad sebagai pusatnya.

Ada suatu cerita yang sangat menarik, pada jaman Abdullah bin Zubair ra melakukan renovasi. Ketika Ibnu Zubair menghancurkan Ka'bah dan meratakannya dengan tanah, dia menemukan fondasi peninggalan Ibrahim as. yang terdapat di dalam Hijir Ismail, sekitar enam hasta. Batu-batu tersebut berbentuk seperti leher unta, berwarna merah. Satu dengan yang lainnya saling bersilang seperti persilangan jari-jari.

Salah seorang dari mereka, Abdullah bin Muthi' Al Adawi meletakkan sebuah tongkat besi yang dipegangnya untuk mendongkel pondasi di salah satu sudut Ka'bah. Apakah yang terjadi ?

Ternyata seluruh bangunan Ka'bah bergerak. Seluruh sudutnya ikut bergetar. Bahkan, yang lebih mengejutkan, seluruh kota Mekah juga ikut bergetar dengan getaran yang dahsyat. Orang-orang terkejut dan cemas, lalu Ibnu Zubair berkata, "Saksikanlah!" Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak meneruskan pembongkaran pondasi Ka'bah. Dia lalu melanjutkan pembangunan di atas fondasi yang telah ada:

Dengan adanya fakta ini, saya ingin mengatakan bahwa agaknya pondasi itulah yang menjadi esensi dan kunci dari bangunan Ka'bah. Sangatlah menarik, ketika pondasi itu mau dipugar, temyata terjadi gempa. Kenapa bisa demikian?

Disinilah letak misterinya. Sama misteriusnya dengan mata air Zam-zam yang tidak pemah kering, meskipun sumur itu berada di tengah-tengah padang pasir yang gersang. Agaknya, di sekitar lokasi tersebut terdapat struktur geologi yang unik dan misterius. Memang sampai sekarang belum ada penelitian yang mendalam tentang hal, ini. Tetapi Insya Allah, di masa depan akan ada fakta-fakta yang menggambarkan secara jelas tentang misteri yang luar biasa itu.

Tentang sumur Zam-zam misalnya, sangatlah aneh. Sejak ribuan tahun yang lalu mata air itu tidak pemah kering. Padahal berjuta-juta bahkan bermiliar-miliar liter air telah dibawa para jamaah haji untuk oleh-oleh pulang ke negaranya, setiap tahunnya. Tetapi zam-zam tidaklah pernah kering. Mata air Zam-zam tidak bergantung pada turunnya air hujan, melainkan pada struktur geologi tertentu yang sangat misterius. Belum pernah ada di daerah mana pun di belahan bumi ini.

Hal ini, agaknya terkait Pula dengan sejarah-sejarah yang lain. Selain lokasi Ka'bah dan zam-zam, bagian yang misterius lainnya adalah, kenapa seluruh rasul turun di daerah sekitar Timur Tengah. Apakah keistimewaan kawasan ini sejak awal? Demikian Pula pernah digambarkan bahwa pada jaman nabi Nuh, pernah terjadi banjir dahsyat yang menenggelamkan bukit-bukit di sekitamya. Dan pada waktu itu, beliau diperintahkan untuk membuat perahu raksasa. Ada kesan bahwa di jaman itu terdapat pohon-pohon besar yang memungkinkan nabi Nuh membuat perahu untuk menyelamatkan umatnya.

Jadi sebelum gersang dan tandus seperti sekarang ini, daerah Timur Tengah itu adalah sebuah daerah yang sangat subur. Dimana, di sana juga disinyalir diciptakanNya Adam dan Hawa, di sebuah kebun (jannab = surga = kebun) yang sangat indah, dengan beraneka pepohonan dan lingkungan yang ideal.

Terlalu banyak misteri yang belum tersingkap dari sisi ini. Adalah tugas para ahli sejarah dan geologi untuk membongkar misteri ini sehingga lebih transparan. Sedangkan saya hanya ingin berdiskusi dari sisi Fisika Modem terhadap kemisteriusan Ka'bah sebagai pusat peribadatan umat Islam ini.

Tata Cara Ibadah Haji



Peninggalan lain dari Keluarga Ibrahim adalah tatacara ibadah haji. Kalau kita cermati, tatacara ibadah haji ini merupakan upaya untuk mengenang apa yang telah dilakukan oleh keluarga Ibrahim. Kenapa demikian? Agaknya Allah ingin memberikan penghargaan kepada keluarga Ibrahim, dan sekaligus agar kita meneladaninya.

Sepanjang hidupnya, beliau memberikan contoh bagaimana seharusnya kita menjalani agama ini : mulai dari mencari dan mengenal Allah, sampai pada bagaimana seharusnya kita mengikhlaskan diri untuk menghamba kepada Sang Perkasa, sebagai puncak kualitas keagamaan kita.

Dalam diskusi ini saya tidak akan terlalu masuk kepada fiqih ibadah Haji, namun lebih kepada pemahaman makna yang berkembang di sekitar tatacara peribadatan itu. Sebagaimana kita ketahui, rukun atau fardhu Haji terdiri dari 4 bagian, yaitu:

1. Mengenakan baju Ihram
2. Wukuf di Arafah
3. Thawaf Ifadah
4. Sa'i antara Shafa dan Marwah

Apakah makna dari berbagai aktivitas yang menjadi rukun haji itu? Saya melihatnya sebagai satu rangkaian pelajaran yang ingin diberikan Allah kepada kita. Agaknya ibadah haji itu merupakan realisasi dari firman Allah di dalam QS An Nisaa' : 125

Dalam ayat itu Allah mengatakan bahwa orang-orang yang paling baik dalam beragama adalah orang-orang yang telah memasrahkan dirinya kepada Allah, dengan penuh keikhlasan, sebagaimana telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim dan keluarganya. Sehingga ayat tersebut ditutup oleh Allah dengan ungkapan : Allah telah mengangkat Ibrahim menjadi kesayangannya.

Untuk itulah kita melakukan rangkaian ibadah haji. Agar dalam jarak dekat kita bisa terinduksi alias ketularan kualitas nabi Ibrahim dalam beragama. Dalam kerangka ini saya ingin memberikan makna dalam tatacara peribadatan haji yang dilakukan di tanah haram itu. Secara umum, keempat rukun haji itu memiliki tujuan bertahap untuk menyerap keikhlasan Ibrahim dan keluarganya. Mulai dari pengkondisian, perenungan, penyerapan, dan pemantapan.

Yang pertama, adalah mengenakan baju Ikhram. Ini adalah tahap pengkondisian. Sebelum kita menjalani proses peribadatan, maka kita diwajibkan untuk mengenakan kain putih tak berjahit untuk menutupi tubuh kita, kecuali yang perempuan. Termasuk, pada waktu itu kita tidak boleh berhias dan menggunakan pewangi. Kita mesti tampil apa adanya. Secara sekilas, bisa ditarik kesimpulan umum bahwa Allah menginginkan kita untuk tidak ‘terlalu hirau’ lagi dengan urusan duniawi. Duniawi itu secukupnya saja. Fungsional saja. Karena dunia ini hanya sementara. Hanya berfungsi sebagai sarana saia. Tujuan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat. Bertemu dengan Allah swt.

Bahkan ada yang memberikan gambaran, bahwa pemakaian baju ikhram itu mengingatkan kita kepada ‘pakaian’ yang kita gunakan pada saat meninggal dan dikuburkan. Pada saat itu kita menghadap Allah hanya menggunakan kain kafan, berwarna putih. Persis seperti saat berikhram.

Diharapkan, dengan berikhram itu kita selalu ingat bahwa kita sedang menunaikan ibadah haji. Karena itu harus tunduk dan khusyuk. Pengkondisian semacam ini dalam beberapa peribadatan islam sangatlah penting. Sebagaimana dalam shalat. Kita mesti mengkondisikan terlebih dahulu hati dan jiwa kita dengan berwudlu, dan berpakaian serta mencari tempat yang suci dan bersih. Lantas memantapkan niat. Maka, diharapkan proses peribadatan selanjutnya bisa kita jalani dengan sepenuh hati dan kekhusyukan.

Yang kedua, wukuf. Makna bahasanya adalah berhenti. Jadi dengan wukuf itu kita diharapkan berhenti sejenak, mulai Dhuhur sampai Maghrib, untuk melakukan perenungan atau kontemplasi di Padang Arafah. ini merupakan puncak ibadah haji.

Perenungan ini bersifat umum, untuk mengevaluasi diri kita. Juga, seluruh perjalanan kehidupan kita, sampai hari ini. Berapa banyak kebaikan-kebaikan yang telah kita amalkan. Sebaliknya, berapa besar dosa-dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan. Kita memohon ampunan kepada Allah, Dzat Sang Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Sekaligus, kita juga memohon bimbingan agar seluruh perjalanan hidup kita selalu berada di jalan yang diridhoiNya. Dan, akhirnya kembali kepadaNya dalam keadaan yang khusnul khotimah.

Tahap ketiga, adalah thawaf. Pada tahap ini kita memantapkan perenungan pada saat wukuf dengan gerakan-gerakan berputar sambil berdoa kepada Allah. Esensinya mirip ibadah shalat. Karena itu permulaan Thawaf juga dimulai dengan semacam takbiratul ihram : bismillaabi wallaabu akbar (Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar). Dan juga dengan cara mengangkat tangan, ke arah Ka'bah atau hajar Aswad.

Kalau kita bandingkan keduanya, antara shalat dan Thawaf memang sangat mirip. Kedua-duanya harus didahului dengan wudlu. Kedua-duanya juga harus diisi dengan berdoa dan berkonsentrasi dalam kekhusyukan. Kedua peribadatan itu juga dimulai dengan takbir dan mengangkat tangan menghadap ke arah Ka'bah. Dan keduanya juga melakukan gerakan-gerakan yang berdasar pada gerak melingkar.

Hal ini akan saya jabarkan pada bagian-bagian berikutnya, bahwa ternyata gerakan melingkar dalam sebuah medan gaya bisa menyebabkan munculnya energi yang sangat bermanfaat buat kita.

Sehingga saya katakan bahwa disinilah kita melakukan penyerapan energi ilahiah itu lewat kedekatan dan interaksi gerak melingkar dengan Ka'bah. Putaran orang berthawaf itu ternyata telah menghasilkan energi gelombang elektromagnetik yang sangat besar, bersifat positip, dan mampu mengobati berbagai ketidak seimbangan energi dalam jiwa maupun tubuh manusia.

Dan yang keempat, adalah sa'i antara Shafa dan Marwah. Bagian keempat ini lebih bersifat pemantapan keimanan kita. Seakan akan Allah mengingatkan kepada kita betapa luar biasanya keikhlasan nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menjalankan perintah Allah.

Bisa kita bayangkan, betapa nabi Ibrahim pernah diperintahkan Allah untuk meninggalkan istri dan anak kesayangannya di sebuah padang tandus, cikal bakal kota Mekkah itu. Tidak terbayangkan bagaimana mereka bisa hidup di daerah seperti itu. Akan tetapi, karena semua itu adalah perintah Allah, sang Maha Tahu dan Maha Bijaksana, maka mereka pun menjalaninya dengan taat dan penuh keikhlasan.

Awalnya Ibrahim dan Siti Hajar pun gelisah. Sehingga diceritakan, ketika Hajar telah ditinggalkan oleh Ibrahim, ia bersama bayi Ismail kesulitan air. Maka ia berlarian kesana kemari untuk mencari sumber air, antara bukit Shafa dan Marwah. Akhirnya memang terbukti, bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar yang berada diluar jangkauan pemikiran, kepada mereka yang taat dan ikhlas kepadaNya. Sumur Zam-zam pun menjadi salah satu ‘keajaiban’ dunia, karena tidak pernah kering dan meluber, selama ribuan tahun. Momentum itulah yang oleh Allah diabadikan dalam Sa'i. Seolah-olah kita diingatkan betapa dahsyatnya kualitas keimanan dan keikhlasan Ibrahim beserta keluarganya. Sehingga sudah seharusnya kita meneladaninya. Apalagi, ketika Ibrahim pun ikhIas saat diperintah oleh Allah untuk mengorbankan anak kesayangannya, Ismail. Lagi-lagi, itu menunjukkan betapa luar biasa kesungguhan Ibrahim dalam beragama dan menghambakan diri kepada Allah, sang Maha Perkasa. Karena itu, sangatlah pantas ketika Allah menyebut Ibrahim sebagai nabi kesayanganNya. Dan, kita pun disuruh mempelajari keteladanan itu dengan cara berhaji.